Di rumah kami, pada sekian hari sekali jamak kedatangan seorang ibu sepuh, nenek-nenek tepatnya, yang selalu singgah untuk berjualan tape ketan. Usianya sudah di atas 80 tahun, masih menggendong tenggok tape ketannya sendiri, dan ternyata ia juga sebagai pembuatnya sendiri. Dari percakapan kami sehari-hari terlacak bahwa suaminya juga masih sehat, umurnya sudah 90 tahun, baik pendengaran dan pengliatannya masih baik.

‘’Hanya sudah bongloik. Saya sering kaget saja karena kalau berjalan sudah seperti bola menggelinding,’’ kata si nenek ini meledek suaminya sendiri.

Dari caranya bercerita tergambar jenis hubungan keduanya. Itulah hubungan yang saya belum bisa mencari padanan sebutannya tetapi telah merasakan buahnya. Buah itu adalah umur mereka yang panjang, dan juga kerukunan mereka yang awet sebagai pasangan. Ketika saya bertanya kenapa masih saja berjualan di umur sekian, jawabnya: ‘’Tak mau merepotkan anak cucu.’’

Jawaban itu tak ia ucapkan dengan gaya datar saja. Tak ada usaha untuk menjadikannya sebagai pamer ketabahan dan sejenisnya. Ia menjawab lebih karena ada yang bertanya itu saja. Setiap rampung membenahi dagangannya, mengembalikan tenggok itu ke punggungnya dan berlalu, saya dan istri biasanya masih mencuri-curi pandang sampai ia lenyap di tikungan. Jalannya pelan tapi pasti. Bermacam-macam komentar di batin kami mulai dari yang bisa kami ekpresikan maupun yang cukup kami pendam tentang orang tua ini. Dari rasa iba, haru, hormat, kagum, sampai iri.

Umur saya 30 tahun lebih muda darinya dan adakah pada seumur dia nanti, seya masih akan sesehat itu dan seterusnya dan seterusnya. Imajinasi yang terpantik akibat kedatangan ibu sepuh ini selalu berlompatan kian kemari. Tapi intinya, kami selalu membeli tapenya. Dan selalu hanya sepuluh biji, dan selalu ada bonus tiga bungkus untuk kami. Tape itu selalu terbungkus daun pisang dengan lipatan rapi. Dengan ujung daun yang dipangkas gunting dan pengunci daun dengan teknologi biting, yakni jarum dari bilah bambu atau potongan lidi. Air tape ini selalu mengucur deras dengan kadar alkokol yang tajam. Ini bukti tape ini dibuat dengan mutu yang terjaga.

Sesekali memang terlalu cair, tetapi sebelum kami membeli, simbah ini suda lebih dulur memberi konfirmasi: ‘’Maaf ya nak, kali ini agak becek nasinya.’’ Tentu saja ini bukan persoalan bagi kami. Karena tape yang sempurna pembuatannya pun, yang kami beli periode lalu, masih ada di sana, dengan daun pisangnya yang telah mengering tetapi dengan kadar air yang makin melimpah dan aroma alkohol yang makin menyengat.

Pada awal-awal simbah ini singgah ke rumah kami, saya sungguh menikmati tape ketan yang matang tua ini. Ia tape ketan terbaik yang pernah saya temui selama ini. Tetapi ketika stok tape mulai melimpah dan hanya saya yang tergerak mengonsumsi, mulailah terjadi ketidak seimbangan antara permintaan dan penawaran. Kami mulai kerepotan dengan tape-tape ini karena bahkan saudara dan kerabat yang sering membantu di rumah kami pun sudah terlalu sering membawa pulang dan bisa jadi mereka juga sudah bosan. Pernah suatu kali kami ingin langsung mengedarkan tape-tape baru yang kami beli ini kepada tetangga sekitar. Ide yang yang menarik dan kami gembira menemukan terobosan ini. Tetapi baru saja hendak kami mengeksekusi ide ini, sudah muncul ketukan di pagar rumah kami. Begitu kami membuka pintu, tampak di sana tetangga yang baik hati, mengantar sepiring penuh tape ketan sama persis dengan tape yang hendak kami antarkan untuknya. Kenapa semua ini terjadi, saya harap Anda memiliki kesanggupan untuk menebaknya sendiri.

Disalin dari tulisan Prie GS Sang Penggoda Indonesia. (LiputanIslam.com/AF)

Balas
Teruskan
DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL