“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl: 78)

Fitrah

“Allah itu dibikin dari apa Bun?” tanya Malik polos. Karena bingung, saya balik bertanya, ”Menurut Aik, Allah dibikin dari apa?” Tanpa ragu, ia menjawab, ”Dari angin Bun”. ”Wow dari angin? Batin saya kaget dengan jawabannya dan balas bertanya, ”Kenapa Allah terbuat dari angin Ik?” “Karena Angin nggak keliatan Bun, Allah juga nggak keliatan,”  balas Malik. ‘Hmm…alasannya memang logis’, pikir saya.

Sebulan kemudian, Malik mendengar Lala, kakaknya, menangis sambil berkata betapa sayangnya ia kepada Allah. Malik pun langsung ikut bersuara soal Allah. “Allah ada disini ( sambil menunjuk lantai di sebelah Lala), disini (menunjuk hidungnya sendiri), dan disini (menunjuk pintu). Allah ada di semua,” katanya lucu. Lalu Malik menghampiri saya, ”Allah juga ada disini Bun,” katanya sambil menunjuk bola plastik transparan yang dipegangnya. “Tapi di dalam situ Allah bisa bernapas. ”Saya geli mendengarnya. “Oh menurut Aik begitu ya?” tanya saya. “Iya, Allah ada dimana-mana,” jawabnya yakin.

Suatu hari, Malik marah lantaran suami saya tak berhenti menggelitiki perutnya. ”Sebesar apa marahnya Aik ke ayah? tanya saya. ” Dari Belanda sampe Afrika. Eh, maksud Aik sebesar bumi!” jawab Malik. Tapi Lala membela ayahnya, ”Kalo mbak Lala, sayang sama ayah, sayangnya dari matahari sampai pluto.” Karena masih sangat marah, Malik pun menyahut galak, ”Aik marah sama ayah dari matahari sampai pluto!” Tapi, kalimatnya tak berhenti sampai disitu. Dengan semangat ia pun berkata, ”Dan Aik sayang sama Allah dari matahari sampai pluto!”

Agnes Tri Harjaningrum, seorang ibu rumah tangga menulis kisah keluarganya seperti di atas dalam blognya sebagai kenangan melihat perkembangan riligiusitas (keberagamaan) anak-anaknya. Persoalan ini kelihatannya sederhana, akan tetapi jika kita cermati, kisah nyata yang terjadi di keluarga ibu Agnes memberikan sebuah gambaran umum yang dihadapi oleh setiap orang tua dalam mengikuti perkembangan jiwa beragama anak dalam rentang kehidupannya yang panjang. Karena, usia dini adalah usia emas bagi perkembangan anak, baik perkembangan fisik, emosional, dan intelektualnya, yang akan mengarahkan kehidupannya di masa depan.

Fitrah Beragama 

Al-Quran menyebutkan bahwa beragama merupakan fitrah manusia, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rum: 30).

Rasulullah saaw bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang akan menjadikan ia sebagai yahudi atau nasrani.” Dan Imam Ja’far Shadiq as. menyatakan bahwa fitrah itu berarti tauhid (mengesakan Tuhan), Islam, dan juga ma’rifah (mengenal Tuhan). (Al-Kulaini, Al-Kafi Jilid 2, h. 12-13)

Imam Khumaini dalam buku 40 hadisnya menambahkan bahwa yang dimaksud dengan fitrah Allah yang semua manusia tercipta dengannya adalah kondisi dan kualitas penciptaan manusia. Semua manusia, tanpa terkecuali, tercipta dengan fitrah itu sebagai konsekuensi keberadaannya. Fitrah ini telah terkait erat dengan esensi wujudnya. Fitrah adalah salah satu rahmat Allah Swt. yang khusus dianugerahkan kepada manusia.

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa : seluruh manusia memiliki jiwa keberagamaan yang tertanam dalam dan tidak bisa dihilangkan.  Maksud dari din (agama) dalam ayat ini bisa berarti sekumpulan ajaran-ajaran dan hukum-hukum pokok Islam, atau kondisi penyerahan diri dan tunduk secara total di hadapan Allah.  Alhasil, dari ayat di atas dapat dipahami bahwa mengenal Tuhan  dan meyembahnya adalah hal yang bersifat fitri dan telah dibawa sejak lahir. Jadi, manusia adalah makhluk beragama.

Begitu pula, di alam gaib, sebelum manusia dilahirkan, dalam suatu acara ‘tatap muka’, ia bersaksi akan keberadaan dan keesaan allah. Allah berfirman : “Dan (ingatlah) Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat nanti kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (keesaan Tuhan).’ (Q.S. al-A’raf: 172)

Makna ayat ini berarti bahwa sebelum manusia dilahirkan ke alam dunia, mereka terlebih dahulu dikumpulkan di alam gaib (malakuti) untuk memberikan kesaksian atas keberadaan dan keesaan Allah swt. Kesaksian mereka menjadi mitsaq (perjanjian) langsung dengan Allah swt. yang mengikat hingga sampai hari akhir nanti dan harus dipertanggungjawabkan, dimana manusia tidak dapat mengingkarinya dengan alasan apapun. Ini berarti bahwa setiap orang secara genetik telah cenderung mengakui adanya Tuhan.

Pandangan al-Quran ini diakui oleh banyak ilmuwan yang saat ini. Mereka menyatakan bahwa manusia dilahirkan membawa jiwa keagamaan, dan baru berfungsi kemudian setelah melalui bimbingan dan latihan sesuai dengan tahap perkembangan jiwanya. Will Durant misalnya, mengatakan : “agama merupakan suatu perkara yang alamiah, lahir secara lansung dari kebutuhan dan perasaan instinktif kita” (Religion is a natural matter, born directly of our instinctive needs and feelings). Alexis Carrel menulis : ‘Perasaan beragama terpancar dalam diri manusia sebagai insting dasar. Manusia, sebagaimana ia membutuhkan air bagi kehidupan, begitu pula ia membutuhkan Tuhan” (The mistic sense is the stirring deep within us of a basic instinct. Man, just as he needs water, solikewise needs God). Sayid Mujtaba Musawi Lari menyebutkan ada empat pembawan dasar manusia, yaitu : 1. Perasaan beragama (religious sense) 2. Kebenaran (truth), 3. Kebaikan (goodness), 4. Keindahan (beauty). (lihat Musawi Lari, Knowing God, h. 20)

Fitrah manusia dibagi dua pada dasarnya di bagi pada dua jenis :

  1. Fitrah akal (aqliah) yang merupakan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia tanpa dipelajari (badihiyât awwaliyah)
  2. Fitrah iman, kecenderungan dan keinginan untuk beribadah dan menyembah Tuhan.

Adapun ciri-ciri fitrah adalah :

  1. Fitrah merupakan pemberian Allah dan format penciptaan.
  2. Fitrah bersifat universal yakni terdapat pada setiap wujud manusia.
  3. Fitrah tidak dapat dilenyapkan (meskipun sering disembunyikan) dan akan senantiasa ada selama manusia hidup.
  4. Fitrah tidak diperoleh dari proses belajar, meskipun untuk memperkuat dan mengarahkannya proses pendidikan sangat diperlukan.

Dengan demikian, fitrah mengenal Tuhan dan beragama telah terdapat dalam diri manusia secara langsung yang menjadi model sekaligus modal khusus bagi dirinya, bukan hasil rekayasa budaya dan ilmu. Fitrah tersebut merupakan model penciptaan yang tak bisa diubah dan dihilangkan, walaupun ia dapat ditekan dan disembunyikan. Cahaya keimanan terus membara dalam kalbu umat manusia, karena sumber cahaya yang membara ini adalah fitrah manusia. Terdapat ruang di dalam hati manusia untuk mengenal Tuhan secara sadar dan mempunyai potensi untuk dikembangkan dengan menggunakan dalil-dalil akal yang argumentatif. ‘Jika akal menemukan Tuhan dengan keteraturan dan pemikiran, maka rasa keberagamaan menemukan Tuhan dengan cinta’, ucap Sayid Mujtaba Musawi Lari. Muhammad Taqi Falsafi menambahkan, “selama di muka bumi masih terdapat manusia, selama masih terdapat fitrah, niscaya cahaya tersebut tak akan pernah padam.” Karena itu jagalah fitrah anak-anak kita dan aktualisasikan dalam kehidupan nyata.

Adapun dalam pandangan para psikolog agama, perkembangan keberagamaan pada anak melalui tiga tahapan penting, yaitu sebagai berikut :

  1. The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng). Hal ini ditandai dengan kesenangan anak-anak bercerita hal-hal yang luar biasa seperti kebesaran, kehebatan, dan kekuatan Tuhan. Tidak jarang anak membandingkan Tuhan dengan tokoh-tokoh yang ia kenal seperti Power Rangers.
  2. The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan). Ini tampak dengan mulai pahamnya anak-anak tersebut tentang wujud Allah swt sebagai sosok yang Maha Besar dan Maha Kuat, serta pencipta. Dari sini anak menyadari bahwa kepatuhan kepada-Nya adalah suatu yang lumrah dan mesti. Inilah yang menyebabkan mereka bergairah mengikuti acara-acara keagamaan.
  3. The Individual Stage (Tingkat Individu). Tanda ini terlihat pada sensitivitas keberagamaan anak. Tahap ini dibagi kepada tiga golongan :
    1. Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif. Anak takut kemurkaan Allah; dan neraka; sedangkan orang baik akan dimasukkah surga, sebuah  taman bermain yang indah.
    2. Konsep ketuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pendangan yang bersifat personal (perorangan). Di sini anak ingin meniru Tuhan dan dekat dengan-Nya; Ingin merasakan sentuhan kasih Tuhan dan menampung internalisasi kekuatan Tuhan.
    3. Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Tanda ini tampak pada pengakuan mereka akan pentingnya keadilan. Buruknya perbuatan jahat, sehingga jika melakukannya anak akan gelisah, bingung, sedih, dan juga malu.

 Adapun ciri dan sifat keberagamaan pada anak-anak sebagai berikut :

  1. Unreflective (tidak mendalam). Ini kentara sekali pada ciri antropomorfisme, yang mengungkapkan Tuhan seperti makhluk lainnya, misalnya punya mata, punya telinga, dan lainnya.
  2. Egosentris (Egocentric Orientation). Anak mengharapkan adanya imbalan bagi semua aktivitas yang dilakukannya. Pada sisi lain anak cenderung tidak mau disalahkan, tetapi senang mendapat pujian.
  3. Eksperimentasi (Experimentation). Anak mengharapkan pembuktian akan keyakinan yang ada dibenaknya.
  4. Inisiatif (Initiative), misalnya ditandai dengan pikiran bahwa ia mudah keluar dari kepungan api neraka, karena pengalamannya setiap berbuat kesalahan tidak mendapatkan azab yang sering ditakut-takutan.
  5. Spontanitas (Spontaneity). Misalnya, tampak pada pertanyaan atau jawaban yang dilontarkan anak dengan polosnya. Dia mengemukakan persis seperti apa yang diberitahukan guru atau orang tuanya.
  6. Verbalis dan Ritualis, yang diindikasikan dengan hapalan-hapalan yang tanpa makna. Saat ditanyakan “Apakah marah itu perbuatan baik atau buruk?” Mereka menjawab, “Buruk!”. Kemudian saat diajukan proposisi logis, “kalau begitu Allah, dan orang tuanya sering berbuat buruk karena sering marah-marah.” Anak bingung dan gelisah.
  7. Imitatif, tampak pada peniruan yang nyata dilakukan anak, seperti berdoa dan salat. Pembiasaan keluarga sangat berpengaruh pada anak, seperti berdoa mau makan, tidur, senang ke mesjid beramai-ramai.
  8. Rasa Heran dan Kagum, yaitu ditandai dengan keinginan kuat anak menjadi sakti dan mendapat limpahan kekuatan Tuhan. Mempertanyakan kehebatan dan kebesaran Tuhan yang menjadi pencipta manusia.

Sedangkan alur pembentukan pengetahuan keagamaan anak tersebut terjadi dalam enam tahap, sebagai berikut :

  1. Fitrah yang merupakan format khusus penciptaan manusia. Meskipun awalnya tidak mendalam, tetapi menjadi model dan modal yang berharga bagi perkembangan keberagamaan anak.
  2. Pengetahuan imajinatif yang membuat anak penuh khayalan-khayalan. Imajinasi ini menjadikan anak manafsirkan secara sendiri akan berbagai informasi yang diterimanya selama ini dari lingkungan sekitarnya.
  3. Pencarian dialektik yang dilakukan dengan melemparkan berbagai pertanyaan dan menanggapi secara spontanitas berbagai jawaban yang diberikan untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak.
  4. Pencarian maknawiyah yang diindikasikan dengan perilaku religius dan ritual-ritual yang fantastis, penuh eksperimentasi, inisiatif, dan imitative. Pencarian maknawiyah ini memberikan peran penting untuk membentuk sikap dan pandangan anak terhadap agama, karena hal ini berhubungan secara langsung dengan pengalaman dirinya sendiri saat memasuki ranah keberagamaan dengan berbagai ajaran dan ritual-ritualnya.
  5. Internalisasi pengetahuan ke dalam pikiran dan benak anak sehingga menjadi bagian dari kehidupan dan keyakinannya. Ini bermanfaat untuk memberikan respon terhadap informasi-informasi baru. Respon ini bisa lahir dalam bentuk kompromi, complaince, atau juga konfrontatif.
  6. Keyakinan yang dipegang teguh. Prinsip ini juga berbeda pada tiap anak yang secara sederhana dapat digolongkan kepada dua yaitu keyakinan yang bersifat statis dan keyakinan yang bersifat dinamis. Keyakinan yang statis berarti adalah keyakinan yang tidak berkembang dan sulit menerima informasi baru yang menggugat keyakinannya. Sedangkan keyakinan dinamis merupakan keyakinan yang penuh dengan kreatifitas, selektifitas, dan analisis kritis terhadap informasi-informasi baru yang diterimanya.

Dengan memahami hal-hal di atas semoga para orang tua dapat mendidik jiwa keagamaan anak-anaknya dengan lebih baik. Karena tidak ada bekal yang paling berharga di dunia dan di akhirat bagi anak-anak kita kecuali bekal agama. Dengan bekal agama itulah, anak akan meniti kehidupannya dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, sikap yang tulus, dan hati yang suci. (CR/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL