Jakarta, LiputanIslam.com—Di era modern ini, kita tidak bisa lepas dari perngkat pintar smartphone. Namun ternyata, ketergantungan besar kita pada smartphone ini bertanggung jawab atas perubahan bagaimana kita mengatur emosi.

Hasil dari komunikasi instan di smartphone ini membuat kemampuan kita berkurang dalam mengelola perasaan tidak pasti. Intoleransi terhadap ketidakpastian menunjukkan sebuah bentuk dasar berbagai kesulitan psikologis.

Psikolog menganggap ketergantungan seseorang terhadap smartphone sebagai “perilaku pencarian keamanan” yang dapat mengurangi rasa cemas yang mereka rasakan.

Seiring berjalannya waktu, perilaku ini benar-benar membuat orang memberi “makan” pada kegelisahan. Mereka cenderung tidak menyadari bahwa ketakutan mereka tidak berdasar dan sebenarnya dapat dihadapi sendiri.

Sayangnya, beberapa aplikasi pesan singgat mempunyai pengaturan pesan “read” untuk memberitahu pengirim apakah lawan komunikasinya sedang online atau telah membeca pesan yang dikirim.

Saat pesan tidak segera dibalas atau ditanggapi, ada perasaan ditolak atau tidak dianggap.

Dilansir dari The Conversation, Rabu (25/10/2017), Danielle Einstein, direktur Distinct Psychology, menyebutkan, “Kita perlu melatih diri kita sendiri dan para remaja untuk menghadapi manipulasi takut hilang dan takut ditolak. Belajar menghadapi ketidakpastian sangat penting untuk mengelola kesehatan mental kita.”

Danielle juga melakukan penelitian yang mengeksplorasi kelompok orang dengan gangguan jiwa. Dari penelitiannya didapati temuan bahwa orang dengan gangguan jiwa tidak dapat duduk dalam ketidakpastian dibandingkan orang tanpa gangguan jiwa.

Seperti yang kita tahu, ketidakpastian sebenarnya juga memberi hal yang positif. Misalnya saja membangunan hubungan baru, membaca buku yang menarik tanpa kita tahu endingnya, atau saat kita menerima hadiah yang dibungkus. Hal-hal tersebut dapat meningkatkan emosi kita.

Sebaliknya, ketidakpastian dalam hal-hal pribadi seperti apakah kita mendapatkan pekerjaan, membayangkan tidak disukai oleh seseorang, atau takut gagal dalam ujian membuat kita tidak stabil.

Itulah yang kemudian mendorong kita untuk segera menghilangkan ketidakpastian dengan cepat. Maka kaitan ini membuat kita cenderung kembali condong ke smartphone.

Smartphone dan berbagai aplikasi media sosial membuat kita dengan mudah mendapatkan kepastian saat menghadapi situasi yang sulit, alih-alih mengatasi masalah itu sendiri.

“Jadi ketika situasi terungkap, orang mungkin percaya bahwa beberapa kemampuan mereka untuk mengatasi masalah adalah karena telah terjamin mereka diterima oleh orang lain, daripada mengembangkan kemandiriannya,” tulis Danielle.

Maka tak heran jika orang percaya bahwa mereka perlu smartphone mereka untuk mengatasi masalah. (ra/kompas)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL