foto: http://ruangpsikologi.com/kesehatan/proses-psikologis-seorang-calon-teroris/

foto: http://ruangpsikologi.com/kesehatan/proses-psikologis-seorang-calon-teroris/

LiputanIslam.com — Karena beberapa pelaku terorisme di Indonesia berlatar belakang pondok pesantren, benarkah kita harus memperketat pengawasan terhadap institusi pendidikan Islam tersebut? Tidak benar, kalau menurut pakar terorisme dari Georgetown University, Fathali Moghaddam.

Setelah mempelajari terorisme selama lebih dari 20 tahun, Moghaddam menyimpulkan bahwa dengan persuasi yang tepat, hampir semua orang bisa terekrut ke dalam kelompok teroris. Betul, kamu, saudaramu, atau bahkan penulis sendiri bisa diyakinkan untuk memegang sebuah senjata dan disuruh untuk menyakiti orang lain. Bagaimana caranya sehingga hal itu terjadi akan dibahas dalam artikel ini.

Seperti apa, ciri-ciri orang yang disasar organisasi terorisme?

Tulisan ini akan didasarkan kepada konsep yang disusun oleh Moghaddam. Anak tangga terorisme memiliki enam buah lantai, di mana pada lantai terataslah seseorang melakukan tindakan terorisme. Sekarang mari kita lihat anak tangga ini dari dasar. Populasi dari lantai dasar adalah orang-orang yang merasakan masih adanya ketidakadilan di dunia ini. Artinya, hampir semua manusia berada di level ini. Kalau kamu merasa kesal terhadap korupsi yang terjadi di Indonesia, terhadap hukum yang lebih keras ke rakyat kecil, terhadap orang kaya yang tidak sensitif pada golongan miskin, atau bentuk ketidakadilan lainnya artinya kamu menghuni lantai dasar ini.

Mereka yang ada di lantai dasar ini akan naik ke lantai satu jika mereka tergerak untuk melakukan perubahan. Harap diperhatikan bahwa ingin menjadi agen perubahan adalah hal yang positif, tapi semangat ini bisa membuahkan tindakan yang negatif jika kita tersedot ke dalam kelompok yang negatif. Mereka yang berada di lantai satu dan menemukan penyaluran yang positif –misalnya, ikut lembaga kepemudaan yang melakukan kerja sosial, jadi relawan sekolah terbuka untuk memberikan ilmu kepada mereka yang membutuhkan, menjadi aktivis partai, dan lain-lain– akan berada di titik aman. Tapi mereka yang merasa kerjanya tidak membuahkan hasil bisa merasa tertekan dan akhirnya naik ke lantai kedua.

Di lantai kedua, mereka yang merasa usahanya sia-sia akan mulai mencari pihak yang dianggap bertanggung jawab. Misalnya, Amerika karena dianggap mengontrol dunia dengan agenda yang menguntungkan negaranya sendiri. Atau, pemerintah yang dianggap dikuasai oleh sekelompok orang yang bersekongkol untuk menyengsarakan rakyat. Penghuni lantai dua dari anak tangga terorisme menganggap “penjahat” inilah yang menghalangi usaha mereka memperbaiki dunia.

Informasi yang mereka dapatkan ini biasanya berasal dari badan yang dekat dengan tindak terorisme, atau minimal badan yang menyebarkan permusuhan. Tujuannya adalah menanamkan ide bahwa jalan satu-satunya untuk melawan “setan” ini adalah melalui kekerasan fisik. Tumbuhnya niat untuk menghalalkan kekerasan di kepala individu adalah pintu masuk ke lantai ketiga dari perekrutan terorisme.

Jika individu yang berada di lantai tiga terorisme ini terdeteksi setuju dengan pendapat di atas, maka badan teroris akan mengirimkan orang (agen) yang akan merekrutnya. Agar perekrutan berhasil, biasanya agen yang dipilih adalah dia yang sudah kenal dengan individu tersebut. Saat berhubungan dengan agen terorisme ini, individu akan mulai diarahkan untuk menyerang simbol-simbol yang dimiliki oleh “musuh”. Contohnya, Gedung MPR Inggris (House of Parliament) yang dianggap sebagai simbol kekuasaan Inggris. Gedung MPR ini dibom tahun 1974 Irish Republican Army (IRA) yang waktu itu masih bergerak melalui jalur teror.

Di lantai ketiga ini, individu juga mulai dibentuk agar tidak ragu-ragu saat ada penduduk sipil yang menjadi korban pada saat penyerangan simbol-simbol milik “musuh”. Hal ini dibentuk dengan doktrin ingroup favoritism, yaitu bahwa siapapun yang tidak mendukung agenda kelompok teroris tersebut juga termasuk sebagai musuh.

Doktrin lain yang biasanya diberikan adalah klaim bahwa tujuan kelompok teroris tersebut sebenarnya baik, yaitu menciptakan dunia yang adil dengan mengalahkan “musuh besar”. Sehingga jika ada korban sipil yang jatuh, maka itu adalah harga yang harus dibayarkan demi dunia baru yang dijanjikan. Korban sipil dianggap sebagai hal yang tak dapat dihindari dalam perang (collateral damage).

Lantai keempat adalah saat dimana individu mulai mempersiapkan serangan. Biasanya, individu sudah ditempatkan di sel (kelompok kecil) teroris yang berisi sekitar empat sampai lima orang. Mereka tidak berhubungan dengan sel-sel lain agar gerakannya tidak mudah terdeteksi aparat. Hanya kepala kelompok yang mendapatkan instruksi dari atasan. Biasanya, keakraban anggota sel ini akan sangat dipupuk. Mereka akan diperlakukan seperti selebriti dengan dibuatkan video pesan penyerangan.

Seperti apa, sih, ciri-ciri orang yang disasar organisasi terorisme?

Strategi sel-sel teroris ini pertama kali muncul di pertengahan abad ke-20 di Amerika Latin. Kini, hampir semua gerakan teroris menggunakan strategi ini. Penanjakan ini berakhir di lantai lima, saat individu melakukan serangan teror, baik yang bersifat bunuh diri atau tidak.

Melihat pola ini, Moghaddam mengatakan bahwa mengisolasi kelompok yang pernah melakukan aksi teror (misalnya, lulusan pesantren) bukanlah hal yang tepat. Badan teroris tinggal mencari individu lain yang merasakan ketidakadilan dan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.

Solusi yang diberikan oleh Moghaddam adalah,

1) Pemerintah harus memastikan bahwa setiap orang bisa mendaki ke hierarki yang tinggi di masyarakat untuk membuat perubahan. Orang-orang yang kompeten harus bisa mengajukan diri untuk membuat perubahan. Jika masyarakat melihat bahwa masih ada orang yang peduli yang terpilih sebagai pemimpin, mereka tidaka akan main hakim sendiri dengan melakukan teror.

2) Pendidikan dan masyarakat harus mengecam pandangan bahwa orang yang berbeda dari kita pantas untuk diserang. Jangan fokus kepada perbedaan, sehingga sistem kemanusiaan yang ada di dalam diri kita akan bekerja saat ada serangan atau ajakan untuk menyerang manusia lain.

3) Keadilan harus terus ditingkatkan dan upaya untuk mencapainya harus bisa diakses oleh semua pihak. Contohnya, dengan diadakannya dialog, kelompok IRA berhasil diajak untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Irlandia Utara melalui jalur politik praktis (menjadi partai politik).

Perang melawan terorisme harusnya dilakukan secara mendasar dengan cara yang lebih berbudaya. Kita semua bisa berperan dengan memilih atau meminta pemimpin yang mau menempuh cara ini. (ba)

Disalin dari tulisan di Ruang Psikologi.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL