LGBT2LiputanIslam.com–Perkembangan dunia homoseksual semakin pesat sejak abad XI Masehi. Pro dan kontra keberadaan komunitas tersebut bertambah banyak. Pengunaan istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) mulai tercatat sekitar tahun 1990-an.

Sebelum masa “Revolusi Seksual”, pada tahun ’60-an tidak ada istilah khusus untuk menyatakan orang yang non-heterosksual (orang yang memiliki orientasi seks selain heteroseksual). Kata yang mungkin paling mendekati adalah istilah “third gender” sekitartahun 1860-an. Sayangnya, istilah tersebut kurang diterima secara meluas oleh masyarakat.

Revolusi seksual merupakan istilah umum yang digunakan untuk meggambarkan perubahan sosial politik (1960-1970) mengenai seks. Dimulai dengan kebudayaan free love, yaitu jutaan kaum muda menganut gaya hidup sebagai hippie. Mereka menyerukan kekuatan cinta dan keanggunan seks sebagai bagian dari hidup yang alami atau natural. Para hippie percaya bahwa seks adalah fenomena biologi yang wajar sehingga tidak seharusnya dilarang dan ditekan.

Istilah homophile dan homoseksual mulai digunakan setelah revolusi seksual. Namun, kebanyakan orang menganggap istilah tersebut cenderung berkonotasi negatif karena seakan-akan hanya menekankan unsur kegiatan seks.

Kata gay dan lesbian kemudian berkembang secara meluas menggantikan istilah homoseksual sebagai identitas sosial dalam masyarakat. Istilah ini lebih disukai dan dipilih oleh banyak orang karena simpel dan tidak membawa kata seks.

Istilah “biseksual” muncul belakangan, tepatnya setelah diketahui bahwa ada orang yang mempunyai orientasi seksual terhadap sesama jenis dan lawan jenis. Walaupun sebagian orang beranggapan bahwa biseksual sebenarnya adalah kaum gay atau lesbian yang takut atau malu untuk menyatakan diri sebagai gay, istilah ini tetap bertahan dan dipakai dalam banyak pembicaraan. Singkatnya, ketiganya dikenal dalam istilah LGB.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan psikologi memunculkan istilah baru yang tidak termasuk gay, lesbian, dan biseksual, yaitu transgender. Semakin lengkaplah istilah sebelumnya menjadi LGBT sebagai gambaran non-heteroseksual.

Saat ini komunitas LGBT sudak diakui secara formal atau informal oleh banyak negara. Sebagian besar gerakan mereka mengatasnamakan hak asasi manusia.

*dikutip dari buku Anakku Bertanya tentang LGBT oleh Sinyo Egie

Baca : Tips Mendidik Anak Agar Tidak Tertular LGBT

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL