parentingLiputanIslam.com–Ayah dan Bunda lihat kasus ini sering terjadi ini.

Anak-anak sering kali susah atau malas makan. Karena khawatir, Ayah dan Bunda akan menggunakan segala cara agar anak mau makan. Sayangnya, cara termudah dan paling kerap digunakan adalah dengan menggunakan ancaman.

“Makan! Kalau engga makan, entar Bunda tinggal nih! Bunda mau ke mal, kamu engga diajak!”

Padahal, anak yang tidak mau makan, tentunya, mempunyai alasan tertentu. Jika Ayah dan Bunda mau meluangkan waktu untuk memerhatikan alasan itu dan mencari solusinya dengan sabar, masalah ini akan bisa diatasi. Namun, yang sering terjadi adalah Ayah dan Bunda merasa yakin bahwa anaknya lapar, misalnya, karena anak seharian belum makan. Padahal, mungkin saja, anak sedang merasa perutnya tidak enak sehingga tidak lapar. Perhatikan dialog berikut ini.

Suatu malam seorang Bunda menyuruh anaknya makan.

“Ayo makan dulu, nanti kemalaman.”

“Aku tidak lapar,” jawab si anak.

“Tidak mungkin, kamu pasti lapar. Setahu Bunda dari pagi kamu belum makan! Ayo makan, sekarang!” ancam sang Bunda.

”Aku tidak lapar, Bun,” si anak meyakinkan bundanya.

“Kamu pasti lapar!”

Tahukan Ayah dan Bunda, jika dialog sepeti ini terus berulang, baik dalam urusan makan maupun urusan lain, dampaknya akan sangat buruk? Orangtua merasa lebih mengetahui tentang kondisi anaknya. Padahal, anak sudah memberi tahu tentang kondisi/perasaannya.

Saat anak berkata, “Aku tidak lapar, Bun,” dan Bunda berkata, “Kamu pasti lapar!”, secara tidak sadar Bunda sedang mengabaikan perasaan anak. Anak sudah jujur dengan mengatakan “ia tidak lapar”, tetapi Bunda memastikan “ia lapar”. Bila kejadian ini terus berulang dan terjadi dalan momen-momen lain kehidupan, bukan cuma di saat makan, anak akan merasa bahwa perasaanya pasti salah. Ia menjadi tidak percaya pada hati nuraninya. Ia pun akan tumbuh menjadi anak yang tidak percaya diri, lemah, goyah, dan lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan. Bukan tidak mungkin, lingkungan akan membawanya pada hal-hal negatif, seperti rokok, narkoba, hingga seks bebas.

Tentu tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya lemah seperti ini, bukan? Oleh karena itu, sebelum terlambat, mulailah perbaiki cara komunikasi Ayah dan Bunda!

*dikutip dari buku Amazing Parenting oleh Rani Razak Noe’man

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL