Setiap orang memiliki pendapat berbeda tentang uang saku anak-anak. Tetapi ada gagasan yang secara umum disetujui secara luas oleh para orang tua: uang saku anak harus dibuat serendah mungkin untuk mencegah anak membelanjakan uang secara sembrono. Apakah seharusnya memang demikian?

Uang adalah salah satu alat kontrol dalam kebanyakan keluarga. Anak-anak yang tak mempunyai uang tampaknya lebih mudah dikontrol karena mereka memiliki kesempatan terbatas untuk melakukan tindakan otonom. Akibatnya tanpa sadar, sebagian besar orang tua memiliki keinginan kuat untuk membuat anak-anak hampir miskin. Seolah kemiskinan itu baik bagi jiwa kita.

Menurut David Owen, dalam buku Melejitkan Kecerdasan Finansial Anak Anda, terbitan Kaifa, membiarkan anak-anak berada dalam kondisi finansial yang buruk justru akan mengakibatkan ketidaktanggungjawaban finansial.

Anak-anak yang mendapat uang saku sangat kecil, tak memiliki alasan untuk berfikir jangka panjang. Mereka tak akan melihat manfaat menabung atau membanding-banding barang belanjaan yang memungkinkan, karena mereka tahu pendapatan mereka terlalu kecil untuk bisa dikumpulkan menjadi sesuatu yang baik. Saat anak-anak seperti ini mendapat uang, mereka cenderung untuk segera menghabiskannya. Lalu sisa waktu berikutnya, mereka akan mengandalkan rengekan, bujukan, dan hadiah ulang tahun untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan. Pada dasarnya mereka tak pernah mengenal uang, kecuali bahwa uang tak ada kaitannya dengan mereka.

Untuk bisa mengubah mereka menjadi pembelanja yang bertanggungjawab, anak-anak perlu diberi kesempatan berbelanja. Mereka perlu diberi kesempatan membuat keputusan, baik yang bijaksana ataupun bodoh, dan mereka perlu diberi kesempatan itu dengan cukup sering, sehingga mereka bisa memahami perbedaan antara bijaksana dan bodoh sebagai sesuatu yang nyata dan penting.

Bagi anak-anak yang sedikit memegang kontrol atau bahkan tak memiliki uang sendiri, kemunculan dan menghilangnya uang dua puluh ribu secara tiba-tiba adalah tindakan Tuhan: hal itu tak bisa dihitung dan diperkirakan, jadi untuk apa membuat rencana?

Ada beberapa disiplin penting yang diperlukan untuk bisa menabung tentu saja, tetapi kemiskinan bukanlah guru yang baik. Apa yang ingin Anda ajarkan kepada anak-anak bukanlah bagaimana bertahan dalam ketiadaan, melainkan bagaimana menangani secara pintar kekayaan yang Anda harap akan mereka miliki ketika mereka dewasa kelak. Anda ingin membantu mereka menyiapkan diri secara mental menghadapi kehidupan dewasa saat mereka lulus sekolah dan mulai menghasilkan uang lebih banyak dari sekedar memenuhi kebutuhan sewa rumah dan belanja sehari-hari. Anda ingin membantu mereka agar menjadi semakin baik dalam mengambil pilihan pintar. Satu-satunya cara adalah memberi mereka peluang untuk membuat pilihan, dan bukan kesempatan untuk gagal.

Berapa banyak uang saku yang sebaiknya diterima seorang anak?

Jumlah tepatnya tentu bergantung pada banyak faktor yang tak bisa dirumuskan, termasuk kemakmuran orang tua, usia dan kedewasaan anak, sumber pendapatan anak yang lain jika ada, jenis tanggungjawab finansial yang diharapkan dimiliki si anak, dan terutama besar uang saku yang diterima temannya atau teman sekelasnya.

Berikut ini ada panduan umum yang cukup masuk akal:

  • sumber finansial seorang anak (termasuk hadiah uang secara periodik dari saudara dan bentuk pendapatan lain) harus ditambahkan secara tahunan sehingga mencapai jumlah yang lebih dari cukup untuk seorang anak
  • uang saku harus cukup besar sehingga memungkinkan si anak membelanjakannya lebih dari sekedar kebutuhan pokok (dan juga untuk menabung jika kesempatan itu dimungkinkan), meskipun jumlahnya tidak boleh terlalu besar sehingga terkesan tak nyata atau tak ada habisnya.

Keputusan dewasa dan rasional dari seorang anak untuk menukartambahkan sepedanya takkan ada artinya jika dia tak diberi kesempatan untuk menabung selama jangka waktu yang masuk akal hingga transaksi itu memungkinkan baginya. Keputusan itu juga tak berarti baginya jika dia bisa menumpuk begitu banyak uang.

Idealnya, menurut David Owen, anak-anak tak merasa miskin atau kaya diantara mayoritas teman sebayanya, tetapi “nyaman” (dengan asumsi orangtua mampu membuatnya merasa demikian). Jika mereka kehilangan uang yang setara dengan jumlah uang sakunya selama seminggu, semestinya dia akan merasa sedih dan menyesal. Dan jika mereka mendapat uang sejumlah uang sakunya selama seminggu, tindakan mereka semestinya bukanlah lari dan menghabiskan semuanya untuk membeli permen.

Cara terbaik untuk menentukan jumlah uang saku adalah menanyakan kepada si anak berapa yang sebaiknya dia terima dan pengeluaran mana yang menurutnya harus dia lakukan sendiri. Untuk mencapai jumlah uang saku yang “tepat” terkadang melalui serangkaian percobaan dan kegagalan serta negosiasi berulang-ulang, dan anak-anak mengerti bahwa uang saku mereka bisa disesuaikan, naik atau turun, sesuai dengan kondisi. Bahkan jika perlu anak-anak bisa dilatih kalau akan meminta kenaikan uang saku, mereka harus melakukannya secara tertulis dengan memaparkan alasan-alasannya.

Semakin muda anak Anda saat pertama kali menerima uang saku, semakin mudah bagi Anda untuk menetapkan jumlah yang pantas saat mereka bertambah besar. Ini karena, seiring dengan bertambahnya usia, Anda memerlukan lebih banyak informasi tentang kebutuhan, kebiasaan, dan kelemahan mereka. Dan anak Anda pun tahu berapa jumlah yang pantas itu.

Jelas ada lusinan, ratusan, bahkan ribuan pengecualian untuk semua ini. Anak-anak yang memiliki atau berpotensi kecanduan narkoba hanya boleh diberi uang saku sedikit. Anak-anak yang cenderung pelit perlu diasah agar lebih mau berbelanja. Anak-anak yang lebih suka belanja dulu baru bertanya, penambahan uang sakunya perlu dilakukan secara bertahap.

Tujuan utamanya haruslah memberi cukup ruang untuk bergerak agar mereka bisa menemukan sendiri makna tanggung jawab. Berapa banyak kebebasan yang bisa mereka tangani secara bertanggungjawab hanya bisa ditentukan oleh mereka dan Anda selaku orang tua. (Saran umum: lebih baik keliru memberi terlalu banyak kebebasan daripada terlalu sedikit.)

(diadaptasi dari buku Melejitkan Kecerdasan Finansial Anak Anda, karya David Owen)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL