Anak-anak sosmedLiputanIslam.com — Deddy Corbuzer, salah pesulap tersohor Tanah Air melalui blog pribadinya menuliskan keprihatinan atas cara bersosial media yang ditunjukkan oleh anak-anak saat ini. Tidak dapat dipungkiri jika saat ini anak umur 7 tahun pun sudah lumrah memegang gadget canggih dan berinteraksi dengan pengguna sosial media lainnya. Selain sudah sangat familiar dengan FB, Twitter, dan Instagram, anak-anak juga akrab dengan Pinterest dan juga LINE. Dampaknya, fenomena ‘update’ dulu sebelum melakukan kegiatan rutin seolah menjadi penting setiap harinya.

Sayangnya, di usia dini seperti itu belum tentu si anak memahami cara menggunakan sosial media dengan benar. Deddy  mencontohkan yang dialami oleh anaknya, Azka.

“Awalnya ketika Azka mau membuat akun Instagram nya beberapa bulan yang lalu saya membuatkannya lalu saya memblock atau membuatnya private. Sembari mengajarkan dia tentang apa itu sosmed, bagaimana menghadapi mereka orang-orang bodoh yang menggunakan sosmed untuk menjatuhkan orang lain. Setelah saya yakin dia siap maka saya membukanya sebulan yang lalu. Banyak sekali yang follow dalam sebulan, and today i saw this. Anggap saja namanya Alay, ia menghina, menghujat dan berkata kotor di Instagram anak berusia 8 tahun. Pantas?”

We need to teach our kids how to deal with stupid people around this freedom of speech in sosmed,” ungkap Deddy.

***

Berbahayakah sosial media bagi perkembangan anak?

Psikolog Kasandra Putranto mengatakan pada zaman digital seperti ini, salah satu keberhasilan memang ditunjukkan dengan penggunaan internet, sehingga bukan lagi menjadi hal yang wah dan luar biasa bila anak-anak kecil di Indonesia sudah terbiasa dengan gadget. Menurut dia, fenomena orang tua yang senang membuatkan akun untuk anaknya bahkan sejak anaknya dalam usia bayi sebenarnya tidak salah.

Menurut Putranto, tidak selamanya media sosial negatif bagi anak karena melalui interaksi di media sosial, anak juga bisa belajar berbagi pengalaman dengan sesamanya.

“Namun demikian, orang tua tidak boleh lengah dalam mengawasi anak menggunakan akun media sosial. Sedikit saja orang tua lalai dalam pengawasan, banyak hal negatif yang akan diperoleh sang anak,” jelasnya, seperti dilansir Tempo.

Tanpa pengawasan dari orang tua, anak bisa menjadi adiktif dan sering membuang waktu hanya untuk bermain gadget. Padahal, di usianya yang masih rentan anak harus lebih dibiasakan berinteraksi dengan kehidupan sosial nyata untuk menumbuhkembangkan sifat-sifat budi pekerti dasar seperti menghargai sesama, berbagi, dan rasa percaya diri pada anak.

Untuk usia tertentu, sah-sah saja bila anak memiliki akun sosial media, tetapi pastikan dulu anak sudah memahami plus-minusnya media sosial. Ketika memasuki dunia internet, anak sebenarnya dihadapkan pada dunia tanpa batas.

Sementara itu, menurut psikolog Liza Marielly Djaprie, meski kemampuan anak berbeda-beda tetapi, di usia belasan saat sudah menginjak bangku sekolah menengah pertama mungkin sudah mulai diberikan pembelajaran dan pemahaman tentang dunia internet.

“Itu pun harus dalam pengawasan orang tua seperti orang tua juga memiliki password akun anak tersebut, atau sistem paralel dengan komputer lain, sehingga apapun aktivitas anak dapat terpantau oleh komputer orang tua,” katanya.

Bagi orang tua yang sudah terlanjur membuatkan akun media sosial untuk anaknya, jika anak sudah mulai mengerti, jelaskan kembali alasan-alasan orang tua membuat akun tersebut. Bisa saja anak diberikan pengertian akun media sosial itu untuk mempromosikan usaha baju anak, bahkan untuk alasan sederhana seperti berbagi momen pada sahabat dan kerabat, atau sekadar dapat dilihat kembali di masa depan. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL