persepsi 

Persepsi guru terhadap anak akan mempengaruhi gaya dan bentuk mengajar guru. Misalnya, saat anda menganggap seorang anak adalah nakal, maka anda akan bersikap berbeda dengan anak yang pintar. Guru umumnya mengenal muridnya, yang memiliki kriteria berikut : yang cantik, yang pintar, yang kelewat bodoh dan tentu saja yang nakal. Selebihnya, guru hampir tidak mengenalnya. Kemudian, guru membentuk stereotyping untuk melekatkan semua karakter sesuai dengan kategori murid dan bersikap sesuai stereotipe itu. Misalnya, persepsi guru terhadap anak yang bodoh, akan menghasilkan kemalasan mengajarnya atau kasihan terhadapnya. Terhadap anak yang pintar (atau kelas unggulan) kita akan senang mengajarnya dan penuh semangat. Jadi, guru harus membangun persepsi positif sejak awal dan guru tidak boleh memiliki pikiran negatif terhadap murid, karena persepsi negatif akan menghambat komunikasi. Guru tidak mengenal kamus ‘gagal’ dalam mengajar, karena kegagalan pada dasarnya bagian dari keberhasilan itu sendiri.

Suatu hari, saat keseribu kali usahanya untuk membuat bola lampu gagal, Thomas Alpha Edison ditanya seorang wartawan, “Tuan Edison, bagaimana rasanya gagal berkali-kali?” Itu pertanyaan yang tidak terduga untuk Edison, tetapi ia menjawab dengan tenang, “Gagal? Saya belum pernah merasa gagal sekalipun. Karena, kini saya mengetahui seribu cara yang tidak bisa dipakai untuk membuat bola lampu”. Bagaiman jika persepsi positif seperti ini kita transformasikan ke dalam proses belajar mengajar, jika guru  merasa bahwa tidak ada murid yang bodoh, melainkan merasa bahwa ia telah menggunakan metode yang keliru dalam mengajar, dan sekarang harus kreatif untuk menemukan suatu metode yang baik untuk bisa mengajar semua tipe murid yang ada di kelasnya. Di sini guru bukan saja ‘mengajar’ tetapi juga ‘belajar’; guru tidak saja ‘memberi PR’, tetapi juga ‘diberi PR’. Dengan demikian kita menyadari, persepsi guru terhadap murid (positif atau negatif), akan mempengaruhi kebahagiaan dan keberhasilan kita.

Begitu pula, persepsi murid terhadap gurunya, juga memberikan efek besar bagi proses belajar mengajar (interaksi murid-guru). Bayangkan, jika murid menganggap gurunya ‘galak’ dan tidak suka diajak bercanda, maka sikap murid pasti berbeda dengan guru yang membangun keakraban. Begitu pula, persepsi murid pasti berbeda terhadap guru yang memperhatikan kebutuhan muridnya dengan guru yang lebih memperhatikan kebutuhan dirinya untuk menghabiskan materi pelajaran saja dan menerima gajinya. Jika, persepsi ini telah menjadi kerangka berpikir (frame mind) anak, maka kan sulit dihilangkan.

Konon ceritanya, pada masa komunis (PKI) berkembang di Indonesia, mereka mencoba mendidik anak-anak untuk tidak percaya kepada Tuhan. Caranya, di sekolah, seorang guru yang bermazhab PKI membagikan roti untuk anak-anak didiknya. Setelah semua di bagikan, maka sang guru bertanya, siapa yang memberikan roti? Semua muridnya menjawab : “Bapak!”. Keesokan harinya, guru membawa roti lagi dan membagikan, kepada para siswanya, sambil bertanya, ‘Siapa yang memberi roti?” Semua menjawab : “Bapak!”. Pada hari ketiga dan seterusnya sampai satu minggu, guru tersebut melakukan hal yang sama. Setelah itu, pada esok harinya, si guru tidak membawa roti lagi, dan melihat para siswanya kelaparan, kemudian ia berkata : “Adakah yang memberi roti?”, para siswa menjawab : “Tidak ada!” Kemudian guru bertanya lagi : “Bukankah kamu punya Tuhan, adakah ia memberi kamu roti?”. Mereka menjawab, “Tidak ada, karena roti biasanya Bapak yang beri”. Di sini persepsi dan kerangka berpikir murid terhadap guru telah terbentuk.

Apa saja faktor yang dapat membentuk persepsi? Banyak! jawab para ahli, Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Kumunikasi menyebutkan tujuh hal berikut :

  1. Stereotyping, sebagaimana dijelaskan di atas yaitu bersikap sesuai anggapan terhadap seeorang. Misalkan, guru membuat kategori murid yaitu : cerdas-bodoh, rajin-malas, cantik-jelek. Dengan kategori ini, maka guru akan bersikap sesuai sifat yang dilekatkan pada murid. Pada murid yang cerdas guru akan meyifatkan sifat-sifat baik lainnya seperti rajin, baik, penurut dan cantik sehingga terbentuk persepsi positif. Sebaliknya, pada murid yang bodoh akan disifati dengan sifat-sifat yang buruk sehingga membentuk persepsi dan sikap negatif, biasanya kita berkomentar, “sudah bodoh, nakal pula orangnya”.
  2. Deskripsi verbal, yaitu urutan penyampaian. Misalnya, ada guru yang mengajar dengan didahului pre test baru penjelasan, ada pula yang didahului marah dan makian, baru nasehat dan penjelasan. Begitu pula, isi yang disampaikan juga mempengaruhi persepsi. Misalnya, orang yang menggunakan pilihan kata yang tepat, sistematis, komprehensif, dan mudah dicerna akan menimbulkan kesan bahwa orang tersebut pintar dan terpelajar.
  3. Proksemik, yaitu penggunaan jarak dalam mengajar yang dibagi pada empat jenis : jarak publik, jarak sosial, jarak personal, dan jarak akrab. Guru yang berbicara dengan tetap duduk di meja (jauh dari para murid), membentuk persepsi berbeda dengan guru yang berjalan mendatangi siswa-siswanya.
  4. Kinesik dan petunjuk wajah, yaitu gerakan, sikap dan kondisi badan, atau secara sederhana disebut dengan bahasa tubuh. Wajah yang cemberut, mata yang melotot, atau wajah tersenyum, jelas akan membentuk persepsi berbeda. Bagaimana persepsi kita jika melihat orang yang berwajah cantik dan berwajah jelek?
  5. Paralinguistik, yaitu cara mengucapkan lambang-lambang verbal mulai dari tekanan suara, kecepatan bicara, dialek, dan interaksi saat bicara. Guru yang bersuara lembut, suara mendesah, dan suara bentakan akan dipersepsi berbeda oleh murid.
  6. Artifaktual, yaitu penampilan, seperti potongan tubuh, baju, kosmetik, jabatan, tas yang dipakai, dan berbagai atribut lainnya. Murid (atau guru) yang memakai baju seksi, akan dipersepsi berbeda dengan yang menggunakan baju muslimah.
  7. Atribusi, yaitu penyimpulan motif, maksud, dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilakunya yang tampak. Apakah anak yang nakal karena memang wataknya, atau karena mencari perhatian? Misalkan, Ucok cabut pada pelajaran A, begitu pula dengan murid-murid yang lain (konsensus tinggi); sebelumnya, ucok juga pernah cabut pada pelajaran A tersebut (konsisten tinggi); Ucok tidak pernah cabut pada pelajaran lain (kekhasan tinggi). Pertanyaannya, Apakah Ucok cabut karena malas belajar, nakal, atau karena sistem belajar pada pelajaran A itu yang membosankan? Menurut Harold Kelley, jika konsensus, konsisten, dan kekhasan tinggi, itu berarti sebab eksternal. Artinya, ucok cabut karena ulah guru yang membosankan, bukan karena ia malas atau wataknya yang nakal. Tapi jika sebaliknya maka Ucok memang anak ‘nakal’.

Dengan memahami proses pembentukan persepsi dan kesan, maka dalam dunia pendidikan harus dipersiapkan secara efektif segala hal untuk mengelola persepsi dan kesan yang positif sehingga PBM berjalan baik dan lancar, penuh semangat, dan tentunya persaingan yang sehat. Pengelolaan persepsi dan kesan ini melalui tiga hal yaitu : sekolah dan kelas (setting), penampilan (appearance), dan gaya bertingkah laku (manner). (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*