muslim-couple1Seseorang tentu mampu memainkan peran sebagai suami atau istri yanf baik dan benar apabila memang memiliki perhatian yang sungguh sungguh terhadap agamanya. Kalau serorang suami atau istri melakukan tugasnya masing masing dan meningggalkan pelbagai hal yang haram dan makruh serta berakhlak baik, niscaya dirinya akan sanggup menunaikan perintah Allah. Inilah kunci kebenaran. Kalau saja suami atau istri kukuh dalam agamanya dan mengarungi hidupnya dalam terang pendidikan yang diajarkan Allah dalam kitabNya, maka salah satu dari mereka akan menolong yang lain. Lebih dari itu, ia akan senantiasa mendukung terlaksananya segenap apa yang diinginkan Allah Swt dalam kehidupan. Adakah mujahid di jalan Allah tanpa  bantuan dan kerelaan istrinya, sanggup berperang demi membela serta menjaga tujuan tujuan Islam yang tingggi dan mulia?

Suami mana yang, tanpa bantuan istrinya, mampu bekerja dan memperoleh suatu hasil yang pada suatu saat kelak bisa dipergunakan sesuai syariat ilahi dan akhlak yang baik? Bisakah dirinya (sang suami) mengeluarkan uang penghasilannya tanpa berlebih lebihan dan ditujukan pada hal hal yang baik dan bermanfaat kalau saja istrinya tidak membantu dan menolongnya?

Seorang suami yang mukmin akan senantiasa mendoakan dan mengharapkan istrinya mengerjakan amal salih. Sedagkan seorang suami yang tidak mukmin pasti akan menggiring istrinya kepada segenap hal yang tidak disukai masyarakat, agama, dan akhlak. Akibat dari semua itu, pasangan tersebut niscaya akan semakin menjauh dari tujuan insaniah nan suci dan hakiki.

Dengan demikian, Allah Swt memerintahkan seluruh laki laki maupun perempuan, tanpa kecuali, untuk menjadikan agama, akhlak, dan keimanan sebagai prasyarat utama bagi dibangunnya hubungan suami istri dalam suatu mahligai pernikahan. Imam Ja’far bin Muhammad asShadiq berkata,

Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman,

‘Kalau Aku ingin mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat bagi seorang muslim, maka Aku jadikan hatinya khusyu’, lisannya selalu berzikir, jiwanya tabah menghadapi musibah, serta istri mukminah yang membuatnya senang ketika memandangnya, dan kalau dirinya pergi, sang istri akan menjaga kehormatan dan hartanya’ “

Seorang laki laki datang menemui Rasulullah dan bertanya, “saya memiliki seorang istri, kalau saya pulang, ia menyambut kedatangan saya, kalau saya pergi,ia akan mengantarkan. Apabila melihat saya dirundung duka, ia akan berkata ‘Apa yang membuatmu sedih? Jika yang engkau sedihkan adalah rezeki, maka orang selainmu telah menanggungnya, dan kalau yang itu adalah urusan akhirat, semoga Allah menambahkanmu kesedihan.’” Rasul saw berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki banyak pelayan dan ini termasuk pelayan Allah. Ia mendapatkan separuh dari pahala orang yang syahid di jalanAllah.

Amirul Mukminin “Ali bin Abi Thalib merupakan insan mulia yang telah memiliki tujuan mulia ini di dalam genggaman tangannya. Sejarah telah merekamnya dengan baik. Setelah melewati malam pertamanya denganSayidah Fatimah azZahra, Rasulullah mengunjungi rumahnya dan bertanya kepada Imam ‘Ali, “Bagaimana engkau dapatkan keluargamu (istrimu)? “

Imam ‘Ali menjawab, “Sebaik baik penolong untuk taat kepada Allah.”  Kemudian Rasul bertanya kepada Sayyidah Fatimah yang kemudian menjawab, “Ia adalah suami yang baik.”

Lalu Rasul berdo’a,

“Ya Allah satukanlah mereka. Satukanlah hati mereka, da jadikanlah mereka berdua serta keturunan mereka orang orang yang mendapatkan surga.Anugerahkanlah mereka keturunan yang suci, bersih dan bertabur berkah. Dan jadikanlah keturunan mereka aimah (pemimpin) yang mengantarkan kepada taat kepadaMu”

Dalam hal ini, Amirul Mukminin menyebut Sayyidah Fatimah sebagai istri yang baik serta berkepribadian agung. Semua itu disampaikan seraya menjelaskan tentang tujuan pernikahan melalui sebuah ungkapan yang pendek namun padat dan gamblang.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:
Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL