anak ngambekLiputanIslam.com — Ketika keinginannya tak terpenuhi atau sedang marah, masing-masing anak bisa menunjukkan reaksi berbeda. Ada anak yang berteriak-teriak sambil marah-marah, ada juga anak yang mengutarakan jika dirinya sedang marah.

Menanggapi hal ini, psikolog anak dan keluarga Roslina Verauli M.Psi, kebiasaan anak tantrum atau tak bisa tenang ketika ia kesal dan marah salah satunya dipengaruhi fungsi orang tua yakni asih, memberi kasih sayang pada si kecil.

Pada dasarnya, fungsi orang tua hanya tiga yakni asuh dengan memenuhi nutrisinya, asah dengan memberi stimulasi, dan asih yakni memberi kasih sayang pada anak.

“Anak yang diasuh penuh kasih sayang punya tiga ciri pertama dia punya kemampuan regulasi emosi yang sehat, emosi yang positif.”

Artinya, ketika anak memiliki emosi negatif maka ia bisa mengontrolnya. Misalkan, saat anak marah ia akan mengutarakan ‘aku marah, aku sebel’, bukan tantrum dengan teriak-teriak atau guling-guling.

Ciri kedua, anak memiliki emosi ke-akuan yakni dia merasa kompeten. Nah, kepercayaan diri bahwa ia adalah anak yang kompeten didukung juga stimulasi yang diberikan saat si kecil berusia 2-3 tahun.

“Anak punya kebanggaan, pride dalam dirinya karena ia dipuji ketika melakukan berbagai eksperimen, yang nggak dipuji hatinya terluka. Kemudian, ciri ketiga bagi anak yang mendapat kasih sayang adalah memiliki empati.”

Vera menekankan, empati adalah landasan anak untuk memahami mana sesuatu yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Anak juga bisa menempatkan diri misalnya hormat pada orang yang lebih tua, serta bisa terampil dan tampil secara sosial. (ba/detik.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL