gado gadoLiputanIslam.com — Bermula dari keinginan istri mau makan gado-gado,  sayapun terlibat dalam proses pembuatannya — saya tak bisa menolak dengan dua alasan, pertama, kalau istri mau sesuatu, hukumnya wajib. Kedua, saya juga memang suka gado-gado. Sayapun dapat bagian menyiapkan bahannya, setelah mengorek celengan dalam-dalam, segera deh meluncur ke pasar sayur, beli sawi, wortel, ketimun dan lain-lain (kacang dan cabe sudah tersedia jauh-jauh hari). Setelah tiba kembali di rumah, bahan-bahan yang sudah dibeli, dikupas dan dibilas hingga bersih. Kerja selanjutnya cukup jagain Miftah, supaya istri bisa kerja lebih tenang dan konsentrasi.

Dua jam berlalu, gado-gado sudah siap, asap dan baunya mengepul dari arah dapur. Melihatnya, perut saya langsung keroncongan. Tapi belum bisa dicicipin dulu, saya punya tugas lain, mengantar buat tetangga-tetangga. Istri saya punya kebiasaan, kalau masak yang istimewa (diluar kebiasaan) selalu dibuat lebih, nah yang lebih ini sengaja dibuat buat tetangga.

Bukan main-main, saya harus mengantar keempat rumah. Awalnya, saya kadang komplain dengan kebiasaan ini (bahkan terkadang sampai tegang-tegangan), isi dapur bisa cepat ludes, sementara pemasukan perbulan juga tidak seberapa (saya kan yang wajib ngisi kas).

Kalau pernah baca cerita saya di catatan sebelumnya tentang induk Iblis, berhadapan dengan beliau, saya yang malah terkadang memerankan induk Iblis. Tapi seperti biasa, saya selalu kalah debat. Tak lama, sayapun tak ubahnya sinterklas, mengetuk pintu dengan sepiring gado-gado di tangan. Istri saya sering bilang, yang habis itu adalah yang kita makan, yang kita beri keorang pada dasarnya adalah simpanan buat nanti.

Sampai saya pernah menulis tentang ini, dalam note “Semua Akhirnya Akan Kembali Juga Padamu”, tapi saya hanya tahu sekedar menulisnya saja, lebih sublim dari itu, apalagi dari sisi praktiknya, istri lebih lihai melakukannya. Ia sampai pernah menyinggung saya dalam statusnya, kira-kira begini ia menulis, “Orang itu jangan cuman teorinya saja yang ditahu, yang lebih penting itu praktiknya.”

Saya membawa gado-gado buat empat keluarga, masing-masing dapat sepiring. Ke Ismail dan ke Ali, sesama orang Makassar, juga menghantar ke rumah Suparno (Jawa) dan terakhir ke rumah Burhan (Aceh). Nah, pas kerumahnya Burhan, ternyata ada Miswar di situ, teman sesama Makassar yang belum juga menikah, jadi menu makanannya selalu ala kadarnya. Wajar, kalau beliau mudah ditemui di rumah-rumah  teman seangkatannya yang sudah menikah. Kalau bukan di rumah Yulian, ya di rumah Burhan. Bukan cuman untuk perbaikan gizi, berkunjung ke rumah teman, bisa menghilangkan rasa sumpek dan bosan dengan pemandangan dan rutinitas asrama yang monoton.

Saya juga sebelum kedatangan istri, sering melakukannya (ceritanya sama jeki Miswar he..he…). Nah, karena ada Miswar dan yang saya bawa cuman sepiring, ‘terpaksa’ saya ajak Miswar makan di rumah saja. Beliaupun datang sejam kemudian ke rumah (tentu saja dengan hati yang riang, dimana di Qom ini bisa dapat gado2? Gratis lagi, ehm).

Singkat cerita, istripun menyajikan 2 piring gado-gado  buat saya dan sang tamu. Saya sempat minta maaf, karena awalnya dia ingin saya makan bersama dengannya, “Tidak apa2 bang, menemani tamu itu lebih penting.”

“Tapi buat kamu ada kan?” tanyaku.

“Iya ada, jangan khawatir.” Senyum manisnya meyakinkanku. Kutinggalkan dapur, kusuguhkan Miswar gado-gado, dan saya yakin ini gado-gado yang dimakan pertama kalinya tahun ini (atau mungkin selama di Qom). Sambil makan bersama, Miswar cerita banyak, dia cerita tahun ini tidak sempat nulis karya tulis ilmiah untuk diikutkan lomba sebagaimana tahun lalu.

Saya jadi tersentak, oh iya, tiap tahun KBRI Teheran adakan lomba2 untuk memperingati kemerdekaan RI termasuk lomba karya tulis ilmiah, mengapa saya sampai lupa. Tahun lalu, saya juga berusaha ikut, hadiahnya benar-benar menggiurkan, cuma karena sedang di tanah air, dan kesibukan melimpah untuk diselesaikan, akhirnya sampai batas akhir penyetoran tulisanku tidak kelar-kelar juga. Miswar bilang, tahun lalu ia ikut dan dapat juara 2, “Hadiah dari sana, saya beli hardisk eksternal” katanya bangga. (Hah, bisa dapat juara? Apalagi saya. Tentu saja hanya dalam hati, khawatir ia tersinggung..he..he…).

“Tapi apa sekarang belum telat,” tanyaku.

“Batasnya, 31 Juli, tapi setahuku diperpanjang sampai 10 Agustus, lihat saja di sitenya.” Jawabnya sambil memasukkan suapan gado-gado terakhir, saya tahu ia masih mau nambah, tapi saya pura-pura tidak tahu, wajar kan, ini suguhan diluar rencana.

Hari itu 8 Agustus, masih tersisa 2 hari, apa mungkin?. Saya jadi teringat Pablo Amor, ia pernah menulis begini di statusnya, “Kalau kau mulai putus asa, pergilah kebukit yang tinggi, dan teriaklah di sana, ‘apa harapan itu masih ada?’, maka kau akan mendapat jawaban, ‘ada…ada….ada…’” Tapi masak mau kebukit hampir tengah malam begini?.

Sepulang Miswar, langsung saya ceritakan ke istri, pembicaraan tadi. Beliau langsung menyemangati, “Ikut saja Bi, siapa tahu menang”. Kukonekkan laptop ke internet, kukunjungi www.indonesian-embassy.ir dan kulihat informasi lomba penulisan karya tulis ilmiah disitu. Benar waktunya diperpanjang sampai 10 Agustus.  Temanya tentang hubungan diplomatik Indonesia-Iran yang telah menembus angka 60 tahun.

Istri tidak sekedar menyemangati, ia malah siap begadang menjagai Miftah, yang kalau lewat tengah malam belakangan ini sulit tidur, meski lututnya dielus-elus. Selama Miftah sulit tidur, kami biasanya bergiliran menjaganya, dua jam-dua jam. Untuk kepentingan lomba, istri total begadang sampai subuh, menemani saya yang sibuk searching data di depan laptop. Hari berganti menjadi 9 Agustus, sementara saya belum juga menemukan ide, baru sebatas ngumpulin data, mau diolah seperti apa, saya juga belum tahu, mana minimal artikelnya  8 halaman, bukan jumlah yang sedikit. Habis shalat subuh, kantuk jadi tidak tertahan, sayapun memilih tidur, Miftah yang sudah kecapean bermain, sudah molor duluan, istripun akhirnya milih tidur juga, namun sebelumnya sempat bertanya, “Bagaimana Bi, sudah selesai?”

“Belum” jawabku.

“Saya yakin Abi bisa,” katanya mesra (oughh) dan mulai menutup mata.

Jam 8 pagi, kupaksa diriku bangun. Ditengah lelapnya dua perempuanku, kunyalakan notebook ku, 2 jam total kuhabiskan hanya untuk melihat gambar ka’bah yang telah kusetting menjadi screen saver. Aduh, tidak semudah itu menulis karya ilmiah minimal 8 halaman, hanya dalam tempo satu hari.

Tiba-tiba, aku teringat, semalam ternyata aku lupa menanyakan pada istri, sudah makan apa belum. Segera kucek ricecooker, nasinya berkurang separuh. Mataku berkaca-kaca, semalam istri makan nasi putih. Bukan menyantap gado-gado yang setulus hati dibuatnya. Padahal, dari dulu dia mau makan gado-gado. Yang diberi ke Miswar ternyata porsi untuknya. Ongkos buat gado-gado memang tidak seberapa, hanya habis 30 ribu [tapi inipun sebenarnya terhitung lumayan berat]. Tapi untuk membuatnya, butuh menunggu hari libur, sebab dengan itu saya baru bisa menjaga Miftah.

Kutekadkan untuk tidak menyerah. Kalau istri bisa tulus membuat gado-gado dan membagikannya kepada tetangga dan untukku meskipun tidak tersisa untuknya, mengapa aku tidak berbuat setulus mungkin untuknya. Akupun menulis seperti kerasukan. Sama sekali tidak beranjak dari kursi, sampai benar-benar makalah selesai kutuntaskan. Kuhitung, sepuluh halaman lebih. Menjelang siang, istri bangun. Itu juga untuk menyusui Miftah. Berarti aku menulis dalam 2 jam.

“Bagaimana Bi, sudah dapat ide?”

“Sudah kukirim malah.” Ucapku tersenyum. “Semoga saja menang.”

Istri mengaminkan.

***

17 Agustus tiba. Warga Indonesia yang berada di Iran, tumplek di Wisma Duta Besar di Teheran. Habis upacara bendera, semua saling bersalaman dan bercengkrama. Tibalah masa pengumuman lomba-lomba. Aku deg-degan dengan hasil lomba penulisan karya tulis ilmiah, satu-satunya cabang yang kuikuti. Dan setelah diumumkan, namaku yang disebut sebagai pemenang juara pertama. Kulihat mata istriku di rombongan ibu-ibu. Dia juga turut bertepuk tangan, ketika namaku disebut dan dipanggil untuk mengambil hadiah.

Hadiahnya, piagam penghargaan dan sebuah amplop. Kuserahkan pada istriku. Kubilang, itu hadiah untuknya, karena telah memberiku inspirasi. Dia tersenyum, dan membuka amplopnya saat itu juga.

“Isinya tiga juta real, Bi”

Senyumku mengembang. Tiga puluh ribu yang terpake buat gado-gado yang habis dibagikan, diganti dalam seminggu oleh Tuhan dengan jumlah 100 kali lipat.

“Nanti kita bikin gado-gado lagi…” bisikku pada istri.

Istriku tersenyum. Kulihat dari jauh, Miswar juga ikut tersenyum menatapku. Seolah-olah tahu, apa yang sedang kami bicarakan.

Qom, 18 Agustus 2010.

[Sekarang Miswar sudah sukses. berbahagia dengan istri dan seorang putranya, dan tinggal sekompleks denganku. bahkan terkadang, serba tiba-tiba ia datang mengetuk pintu dan menyodorkan, mangkok/piring, yang isinya kadang ayam goreng, bakso, pisang ijo, jalang kote dan entah apa lagi, saya lupa saking seringnya. Efek gado-gado tidak berakhir di tiga juta real].

Disalin dari catatan Ismail Amin, Mahasiswa al-Mustafa International University

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL