Pdan KLiputanIslam.com — Manusia telah diciptakan sedemikian rupa sehingga ia tidak memperoleh ketenteraman kecuali dengan iman dan mengingat Allah. Berdasarkan tabiatnya manusia senantiasa menginginkan kebahagiaan dan ketenteraman jiwa, dan berusaha siang dan malam untuk meraihnya. Manusia takut dan resah manakala membayangkan kegagalan dan kesengsaraan.

Namun, masing-masing individu menganggap kebahagiaan terletak pada sesuatu, dan untuk mencapainya mereka menyusun program khusus dan meniti jalannya. Sebagian manusia mengira bahwa kebahagiaan itu terletak pada pemanfaatan sebesar mungkin kelezatan-kelezatan materi, sebagian lagi memandang terletak pada pengumpulan sebanyak mungkin harta dan kekayaan, sebagian menyangka terletak pada kedudukan dan ketenaran, sebagian lagi mengira terletak pada ilmu pengetahuan, alhasil secara umum mereka menyangka kebahagiaan itu terletak pada urusan-urusan materi dan duniawi, dan untuk itu mereka berusaha sedapat mungkin mencarinya di sana. Dengan kata lain, sekelompok orang menjadi penyembah syahwat, sekelompok lagi menjadi penyembah jabatan, sekelompok menjadi penyembah harta dan sekelompok menjadi penyembah ilmu pengetahuan.

Mereka mengira dengan itu semua, mereka dapat menjadi orang yang bahagia dan beruntung. Namun al-Quran Karim mempunyai keyakinan bahwa berpaling dari mengingat Allah, memperhatikan urusan-urusan dunia dan mengikuti hawa nafsu tidak akan membuat kehidupan manusia menjadi tenteram dan beruntung, bahkan sebaliknya menjadikan kehidupan mereka menjadi susah, dipenuhi keresahan dan kegelisahan jiwa.

Allah Swt berfirman, Dan barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta (QS. Thaha:124).

Kesengsaraan terbesar manusia ialah manakala hati mereka terpaut kepada urusan-urusan dunia dan tunduk kepada hawa nafsu. Karena keinginan-keinginan hawa nafsu tidak ada batasnya, dan terus menginginkan tingkatan yang lebih tinggi, dan untuk menggapainya manusia harus berusaha semaksimal mungkin, namun kemampuan setiap orang terbatas dan oleh karena itu tidak dapat memenuhinya. Dengan begitu ia pun menjadi merana.

Di samping itu, manusia juga merasa tidak yakin dapat menjaga harta yang telah diperolehnya. Ia senantiasa merasa gelisah jangan-jangan berbagai harta dan kenikmatan yang dimilikinya menjadi lenyap karena bencana, musibah, perbuatan musuh dan persaingan.

Satu hal yang paling penting ialah bahwa ada sekelompok manusia yang pada satu sisi cinta kepada dunia namun di sisi lain ia meyakini bahwa mati adalah akhir dari kehidupan, dan cepat atau lambat ia pasti akan mati dan mau tidak mau ia harus melepaskan semua yang dicintainya, lalu menurut keyakinannya ia menjadi sirna dan tidak ada. Oleh karena itu, mereka memandang kehidupan ini tidak berarti dan tidak memiliki tujuan, mereka senantiasa berada dalam keresahan dan kegelisahan dan memiliki kehidupan yang pahit, meskipun bisa saja orang lain menyangka mereka berada dalam kesenangan dan ketenteraman, padahal tidak demikian. Karena kebahagiaan itu diperoleh dari dalam hati bukan dari luar.

Harta kekayaan, rumah dan berbagai fasilitas hidup, istri dan anak, kedudukan dan ketenaran, dan bahkan ilmu pengetahuan tidak dapat membuat hati menjadi tenteram. Satu-satunya yang dapat menenangkan dan menenteramkan hati yang resah adalah iman kepada Allah dan mengingat-Nya.

Allah Swt berfirman di dalam al-Quran Karim, (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik (QS. ar-Ra`d:28-29).

Hati yang beriman kepada Allah dan yakin akan keberadaan-Nya serta percaya bahwa Dia selalu hadir dan menyaksikan dalam semua keadaan, tidak memandang dirinya sendirian tanpa perlindungan dalam menghadapi berbagai masalah dan kesulitan, karena ia bergantung kepada Sumber segala kebaikan dan keindahan, dan tidak merasa memerlukan kepada selain-Nya. Hanya Allah-lah kesempurnaan dan keindahan hakiki dan tanpa batas, sementara seluruh kesempurnaan dan keindahan yang lain hanya bersifat kulit dan terbatas. Seorang mukmin yakin bahwa sistem penciptaan alam ini adil dan mempunyai tujuan, dan mempunyai pandangan yang positif terhadap alam wujud dan hukum yang berlaku atas alam ini. Ia yakin bahwa hidup ini mempunyai tujuan dan merasa optimis akan masa depannya. Oleh karena itu, rasa tidak mempunyai tujuan dan rasa putus asa tidak ada tempat pada hati seorang mukmin.

Oleh karena itu, para pendidik harus menjadikan pengembangan dan peningkatan iman sebagai bagian dari program pendidikannya dan sejak awal sudah menyusun program untuknya.

Disalin dari website resmi Prof. Ibrahim Amini (LiputanIslam.com/AF)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL