aku_anak_indonesia_by_awul_awul1LiputanIslam.com— Hari ini Liputan Islam menyajikan kisah yang sangat inspiratif, yang disarikan dari cerita Ayah Eddy, seorang tokoh parenting terkemuka di Indonesia. Ayah Eddy menceritakan perjalanan seorang gadis belia bernama Nia, yang mereguk sukses di usianya yang masih belasan, padahal Nia adalah anak dengan nilai pas-pasan di sekolahnya.

Namun berkat saran dari Ayah Eddy, dan dukungan dari orang tuanya, Nia akhirnya menekuni bidang yang sesuai dengan bakatnya. Tentu saja, karena potensi  dinilai tidak lazim di keluarga besarnya yang saintis, pertentangan terjadi lagi dan lagi. Namun Nia tetap gigih berusaha mengejar mimpinya.

Berikut ini, kisah lengkapnya.

“Ayah I am coming home,  aku ingin ketemuan sama ayah, banyak cerita baru yang menarik yang ingin aku share pada Ayah,” itulah ucapan Nia saat pertama kali menjejakkan kakinya di Indonesia, yang menghubungi kira-kira 2 hari yang lalu.

Siapakah Nia?

Nia, Anak SMP Dengan Nilai Pas-pasan

Kira-kira  lima tahun yang lalu seorang ibu datang ke tempat saya di Bogor bersama anaknya, Nia, yang  waktu itu masih duduk di bangku kelas 3 SMP untuk berkonsultasi. Masalah utama adalah Nia harus remedial  (mengulang ujian) hampir semua mata pelajaran untuk bisa memenuhi syarat minimal kelulusan.

Yang menjadi kegundahan hati orang tuanya adalah karena prestasi dan nilai rata-rata anaknya disekolah sangat pas-pasan.

Orang tuanya berkata, “Meskipun biaya sekolah sekarang sangat mahal, kami sebagai orang tua sebenarnya tidak keberatan asalkan anaknya menunjukkan prestasi yang baik di sekolah.”

Lalu selama 2 jam, saya mengajak ibunya untuk lebih berfokus pada keunggulan yang dimiliki puterinya ketimbang terus mempermasalahkan kekurangan demi kekurangannya.

Setelah meyakinkan sedemikian rupa,  akhirnya hari itu juga berhasil kita berhasil menemukan potensi emasnya yaitu menari. Dari haril pemetaan singkat kami bersama Nia, tidak di ragukan lagi bahwa ia memiliki potensi dan sekaligus mimpi besar untuk menjadi seorang penari dunia.

Dan tentu saja untuk itu ia harus berusaha dan saya wajibkan untuk berlatih keras dan mencari sekolah tari yang terbaik yang ada di dunia. Waktu itu kami memutuskan aliran tarinya adalah Hiphop Modern yang dipadu dengan Balinese Dance.

Jatuh Bangun Mengejar Mimpi

Singkat cerita persiapan dimulai, hanya saja orang tuanya kembali tidak yakin karena pengaruh saudara-saudaranya. Merekapun curhat.

“Bagaimana ini Ayah? Aku bingung dan dan ragu, karena keluargaku itu kan sangat akademis sekali rata-rata S3, mereka malah memarahi aku.  Anak kok  malah disuruh sekolah tari, mau jadi apa nanti,” ujar orang tua Nia.

Masalah  kedua adalah Nia baru kelas 3 SMP,  kalau sekolah  di luar negeri kan berarti tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya ke SMA. Itu dianggap membuat malu keluarga besar, jaman sekarang kok punya anak cuma lulusan SMP.

Satu jam am lebih saya berusaha memberikan penjelasan yang meyakinkan, hingga akhirnya sang ibu kembali berani lagi melanjutkan rencana bersama anaknya.

Jadilah akhirnya ia mengikuti audisi sekolah tari di New York, namun sayangnya bekal ilmu tari dari Indonesia belumlah cukup, hingga ia belum berhasil. Kalau tidak salah Nia hanya bisa menempati urutan 3 terakhir dari belakang.

Kembali anak ini pulang ke Indonesia menemui saya bersama ibunya dan berkata, “Ayah tidak usah sekolah di tempat yang terbaik ya, di tempat lain saja ya, yang penting kan sekolah tari juga.  Tesnya terlalu sulit dan ketat. Aku kayaknya gak sanggup deh…”

Lalu saya katakan, “Nia begini ya, kalau kamu masih mau di bimbing sama Ayah, kamu  tetap harus tembus sekolah tari yang terbaik, “ kata saya tanpa kompromi.

“Tapi kenapa Ayah? Kenapa harus di sekolah terbaik?”

“Karena Ayah ingin kamu jadi orang nomor satu dan yang terbaik untuk mimpi kamu,” jelas saya.

“Kenapa harus yang terbaik?” Nia masih terus mencecar saya.

“Nia, sekarang Ayah mau tanya. Kamu tahu siapa orang nomer satu di Amerika?”

Dengan cepat Nia menjawab,  “Obama. ”

Saya bertanya lagi,  “Lalu siapa wakilnya?”

Dia kebingungan dan bertanya pada ibunya, dan keduanya jadi kebingungan menebak-nebak.

“Itulah Nia, pentingnya jadi orang nomer satu dan terbaik di bidangnya, kalau jadi orang nomor dua, masih menjabat saja orang-orang  tidak tahu namanya,” terang saya.

Tanpa banyak tanya lagi Nia langsung berkata, “Oke Ayah, aku akan tembus sekolah itu dengan cara apapun yang bisa aku lakukan.”

Jadilah akhirnya anak ini langsung bekerja keras menembus sekolah tersebut yakni dengan mengikuti program pelatihan audisi tari langsung di New York selama 3 bulan.

Ibunya datang lagi lantaran panik. Muncul berbagai ketakutan karena anak perempuannya baru kelas 3 SMP, di negeri orang, khawatir terjadi sesuatu padanya. Sehingga akhirnya Nia dan orang tuanya membuat perjanjian bahwa Nia akan menjaga diri dan semua ketakutan orang tuanya tidak akan terjadi.

Singkat cerita, Nia akhirnya tembus sekolah terbaik itu. Ia kembali ke Indonesia dengan air mata bangga bercampur haru.

“Ayah aku bisa,” katanya.

“Kamu pasti bisa Nia, Ayah yakin kamu pasti bisa,” kata saya.

Dia lantas bertanya, “Kenapa ayah begitu yakin aku bisa ?”

“Ya, karena kamu anak Indonesia, Nia.”

Nia terbelalak kaget dengan jawaban saya dan bertanya kembali, “Memangnya kenapa dengan anak Indonesia?”

“Ya menurut pengalaman Ayah, anak-anak  Indonesia itu jarang ada yang gagal jika bersekolah di luar negeri, bahkan sering menjadi  siswa “papan atas” di sekolahnya.”

Singkat cerita perjuangan pun dimulai. Setahun tahun berlalu,  terdengar kabar bahwa Nia masuk 10 besar penari di sekolahnya.

Empat Tahun Kemudian

Tiba-tiba  disuatu pagi handphone saya berdering, di ujung sana terdengar suara seorang perempuan muda dengan nada lembut berkata.

“Ayah, ini aku Nia. Aku baru saja sampai di Indonesia, aku ingin mengajak ayah makan malam.  Please bisa ya, aku punya banyak sekali cerita untuk Ayah, can’t wait to see you Ayah!”

Segera saja saya menyanggupinya. Setelah telepon ditutup tak sadar mata saya basah karena haru, bahagia dan bangga bercampur aduk di dalamnya. Karena belum lama saya baru saja melihat kisah seorang guru yang diajak makan malam oleh salah seorang muridnya yang sudah berhasil.

Tibalah saat makan malam itu. Nia datang dengan wajah ceria, dengan penampilan seorang seniman. Sambil menemani saya berbuka puasa, Nia bercerita dengan berapi-api tanpa putus. Saya bersemangat mendengarkannya.

Nia bercerita betapa segala rencana yang dulu pernah dibuatnya bersama saya satu persatu mulai terwujud jadi kenyataan.

“Manakjubkan ya Ayah,” katanya mengenang.

Nia juga bercerita jika kini dia tidak hanya menjadi seorang penari yang membawakan tema Hiphop, melainkan sudah menjadi seorang Director Choreography di usianya yg baru 19 tahun. Dan sedang merintis sebuah Production House di AS.

Saking asyiknya mendengarkan ceritanya, tak sadar 2,5 jam waktu berlalu tanpa terasa. Ayahnya sampai iri dan berkata, “Nia itu kok bisa ya cerita begitu terbukanya sama Ayah padahal kalo sama kita dia gak banyak cerita apa-apa lho.”

Ya Tuhan, anak SMP yang dulu nilainya pas-pasan itu kini telah menjadi seorang Director Choreography di Los Angles, California, diusianya yang masih amat sangat belia.

Ya Tuhan meskipun saya bukan ayah kandungnya, saya merasa begitu luar biasa bahagianya, bangga sekaligus bersyukur. Satu anak Indonesia telah berhasil mewujudkan mimpi terbesarnya, yang kelak akan mengharumkan nama keluarga dan bangsanya.

Saya semakin yakin lagi terhadap kemampuan anak-anak Indonesia. Semoga kelak akan ada lebih banyak lagi anak-anak Indonesia yang berhasil meraih mimpi-mimpinya untuk menjadi anak-anak kelas dunia yang membanggakan keluarga dan bangsanya. Tentunya semua ini bisa terjadi karena dukungan penuh dari kedua orang tuanya yang luar biasa. Let’s make Indonesian strong from our Home. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL