tidurLiputanIslam.com — Siapa sangka, jika kebiasaan mengkonsumsi camilan pada malam hari memiliki efek yang sangat buruk? Bukan hanya berpengaruh pada kenaikan berat badan, tetapi juga beresiko merusak fungsi otak. Hal ini disampaikan oleh para ahli setelah melakukan penelitian tentang jam internal tubuh.

“Kebiasaan makan di “waktu yang salah” setiap harinya, terutama jam pada saat seharusnya kita tidur, dapat mengganggu fungsi otak untuk belajar dan menyimpan memori.”

Peringatan ini tentu perlu diperhatikan bagi siapa saja yang masih tak bisa berhenti mengunyah sampai  malam hari,  termasuk para pekerja shift malam.

“Penelitian ini diuji-cobakan terhadap tikus, dan secara prinsip juga berlaku untuk manusia,” Christopher Colwell, profesor psikiatri dan ilmu biobehavioral di University of California, Los Angeles, seperti dilansir Kompas, 15 Februari 2015.

Memang pada era modern ini manusia dituntut dengan jadwal kerja yang panjang dan berat sehingga kita kerap menggeser waktu makan malam menjadi lebih larut, tapi bagaimanapun juga, tubuh kita perlu mengikuti siklus yang spesifik agar tetap sehat.

“Sistem biologis bekerja sesuai dengan ritme kegiatan harian. Irama sirkadian mengikuti siklus 24 jam dan mengatur banyak hal dalam tubuh kita, mulai dari perilaku kita sampai dengan pelepasan hormon untuk memberitahu kapan saatnya harus pergi tidur,” tambahnya lagi.

Mengacaukan siklus tidur dan bangun akan memberikan pengaruh yang buruk bagi kesehatan.  Penelitian membuktikan hal tersebut dapat memicu diabetes tipe 2 dan masalah sistem kekebalan tubuh.

Hal ini juga dapat mempengaruhi fungsi kognitif, terutama kemampuan belajar dan mekanisme memori. “Cobalah untuk memberikan otak Anda latihan dengan kondisi saat mengalami jet lag dan Anda pasti akan tahu apa yang dirasakan,” katanya.

Kebiasaan ngemil di tengah malam serta sering terlambat makan adalah salah satu pengganggu siklus tidur dan bangun. Selain itu, paparan cahaya di malam hari atau melakukan latihan kardiovaskular yang berat saat mendekati jam tidur, juga sebaiknya dihindari.

Dalam percobaannya, Colwell dan rekan-rekannya membiarkan satu kelompok tikus untuk makan dalam waktu yang normal, sementara tikus di kelompok kedua hanya diperbolehkan untuk mengunyah selama waktu tidur normal mereka. Semua tikus makan jumlah makanan yang sama dan tidur dalam jumlah jam yang sama, hanya saja kelompok kedua tidur pada waktu yang berbeda setiap harinya.

Setelah beberapa minggu, tikus diberi tes belajar, seperti belajar untuk mengasosiasikan nada dengan kejutan. Ternyata tikus yang makan ketika mereka seharusnya tidur akan “terancam” dalam kemampuan mereka untuk mengingat segala hal yang mereka pelajari, kata Colwell. Mereka juga memiliki lebih banyak kesulitan untuk mengenali objek baru dan menunjukkan perubahan dalam hippocampus mereka, daerah otak yang terlibat dalam belajar dan memori.

“Pengingat dalam otak kita dirancang untuk selalu tetap dan teratur pada jadwal tertentu,” paparnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL