Jakarta, LiputanIslam.com–Korban berita hoax tidak memandang status sosial. Orang terpelajar pun ternyata bisa ikut menyebarkan hoax, baik disadari atau tidak.

Berdasarkan penuturan dari Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Anita Wahid, di media sosial ada fenomena bernama Echo Chamber. Ini terjadi ketika para pengguna hanya mau membaca dan percaya pada informasi yang sesuai dengan yang diyakini saja. Sementara pendapat yang bertentangan dengannya dianggap bohong atau keliru.

“Setinggi apapun pendidikannya, selama dia tidak bisa netral dan hanya mau memercayai informasi yang dia yakini saja, mereka akan terjebak dalam fenomena echo chamber. Apapun informasinya, selama itu masih sesuai dengan keyakinannya, mereka akan mempercayainya sebagai sebuah kebenaran, walaupun misalkan informasi tersebut ternyata adalah hoax,” tutur Anita Wahid, di acara diskusi publik yang digelar Mafindo, di Jakarta, Selasa (16/10), seperti dikutip dari beritasatu.com.

Saat melakukan verifikasi informasi, Anita menambahkan orang-orang yang terjebak dalam fenomena echo chamber biasanya hanya akan mencari informasi yang makin memperkuat keyakinannya, tidak berusaha bersikap netral untuk mencari informasi yang lebih berimbang.

Hal yang sama juga diungkapkan pengamat media sosial Nukman Luthfie. Siapapun bisa menjadi korban penyebaran berita hoax,termasuk orang yang berpendidikan tinggi.

“Banyak masyarakat bahkan yang terpelajar pun belum bisa membedakan antara hoax dan yang benar. Mereka menyebarkan apapun yang mereka suka. Suka dulu, nggak perlu betul,” kata Nukman. (ra/beritasatu)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*