bullying-kids

foto; edudemic.com

LiputanIslam.com–Kasus-kasus kekerasan yang dilakukan anak-anak usia SD akhir-akhir memunculkan keprihatinan. Kita masih ingat, kasus Reza anak kelas 3 SD di Bandung yang tewas karena di-smack down temannya. Terakhir, beredar video seorang anak perempuan di sebuah SD di Bukittinggi, dipukul dan ditendang teman-temannya di kelas. Apa penyebab anak-anak melakukan kekerasan yang brutal seperti itu dan bagaimana mencegahnya?

Menurut psikolog Ninik Bawani, Psi., segala perilaku anak berawal dari rumah. Orang tua harus menjauhi sikap kekerasan dalam mendidik anak, menjauhkan anak dari game atau tayangan kekerasan, serta memperhatikan gejala-gejala kekerasan pada anak. Di antara gejala kekerasan pada anak adalah:

-Suka menyiksa binatang
-Melakukan kekerasan terhadap anak yang lebih kecil, mulai meneror hingga mencederai secara fisik
-Merusak mainannya baik dibanting atau dimutilasi (bukan membongkar yang bersifat kreatif)
-Setiap menghadapi kegagalan, si anak bereaksi dengan agresif
-Mengungkapkan fantasi menyakiti orang lain’

Berikut ini saran-saran dari Ninik Bawani, Psi.

1. Beri Contoh Penyelesaian Positif
Anak adalah peniru ulung. Apapun yang Anda lakukan, bisa menjadi cermin bagi anak untuk bersikap dan berperilaku. Jadi, jauhkan diri dari sikap yang mengedepankan kekerasan. ”Anak kan masih dalam tahap belajar, bisa dari lingkungan sekitar atau perilaku orangtua. Jika dia terbiasa melihat orangtua memperlakukan anak dengan kekerasan, maka anak akan mengira bahwa tindakan itu benar. Dia cenderung melakukan hal yang sama,” papar Ninik.

Orangtua harus bisa memberikan contoh bahwa setiap masalah selalu bisa diselesaikan dengan cara positif. Tidak dengan marah berlebihan, apalagi dengan kekerasan. Anak yang dibesarkan oleh keluarga yang terbiasa menerapkan KDRT (kekerasan dalam rumahtangga, red) berpotensi melakukan kekerasan. Itu karena anak terbiasa melihat adegan-adegan keras yang dilakukan orangtuanya untuk menyelesaikan masalah.

Di samping keluarga, lingkungan juga mempengaruhi kepribadian dan karakter anak. Lingkungan yang keras, dengan frekuensi perkelahian dan kriminalitas yang tinggi cenderung menciptakan anak yang agresif pula. Sebaliknya lingkungan agamis dan lembut, akan mempengaruhi anak untuk menciptakan pribadi yang baik. ”Tapi kita tidak bisa mensterilkan anak dari lingkungan, bagaimanapun anak harus bersosialisasi dengan lingkungannya. Tinggal bagaimana orangtua mengajarkan nilai-nilai positip sejak dini, mana yang harus diikuti dan mana yang tidak,” ujar Ninik.

2. Stop Hukuman Fisik dan Beri Perhatian Positif
Jangan pernah memberikan hukuman fisik kepada anak. Hukuman seperti ini tidak efektif. Anak memang jera, namun bukan karena dia paham atas kesalahannya, tapi karena takut dengan hukuman fisik tersebut. Berikan hukuman yang sifatnya edukatif seperti time out. Berikan ’perhatian positif’ tidak hanya ’perhatian negatif’. Artinya, ketika anak berbuat positif, berikan rewards atau hadiah berupa pujian maupun materi. Tidak hanya perhatian penuh saat dia berulah.

”Jika anak tidak pernah diberi hadiah, dan dianggap sebagai anak nakal atau susah diatur, maka dia nggak akan pernah tahu jika dia ternyata bisa melakukan sesuatu yang positif. Dia hanya berpikir jika selama ini hanya melakukan hal negatif,” ucap Ninik. Pemberian reward sangat penting, agar anak merasa dihargai dan sadar bahwa dia sebenarnya memiliki sisi positif. Anak dengan harga diri yang rendah bisa mempunyai kecenderungan untuk berperilaku agresif.

Anak yang selalu dianggap bersalah di rumah, dan tidak dihargai setiap perbuatannya akan memiliki konsep diri yang tidak bagus. Dia akan menganggap dirinya tidak bisa melakukan apapun yang berguna. ”Galilah kelebihan-kelebihannya, karena ini bisa menaikkan harga diri anak. Ini patut diperhatikan dalam perkembangan si anak. Jika hal ini tak dilakukan, anak bisa stres dan untuk melampiaskannya bisa dilakukan dengan sikap agresif di luar,” ujar Ninik.

3.Kembangkan Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi perlu dikembangkan sejak dini, agar anak lebih cerdas menghadapi aneka masalah dan perubahan. Kecerdasan emosi adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Jika anak pandai dalam mengatur suasana hatinya, maka anak lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. ”Bukan nggak boleh marah atau menangis. Keduanya manusiawi. Boleh saja anak marah, namun ajarkan marah yang baik seperti apa. Jangan asal ngamuk, dan bukan dengan kekerasan,” kata Ninik.

Misal, dengan mengajarkan mengatakan secara verbal perasaannya. Kemudian mengajak ’lawannya’ untuk bernegosiasi. Masalahnya, kebanyakan orangtua mementingkan kecerdasan akademik, ketimbang kecerdasan emosi. ”Anak akan dimarahi jika nilai ulangannya jelek. Tapi, dianggap wajar dan dianggap belum mengerti jika menyakiti teman ,” kata Ninik.

4. Perbaiki Pola Asuh
Perlu pola asuh yang tepat agar anak menjadi pribadi yang sesuai harapan. Beberapa poin penting:
1. Harus ada keseimbangan antara disiplin dan kasih sayang. Anak yang diasuh dengan kemanjaan berlebihan, tanpa larangan sedikitpun, malah cenderung tidak mempunyai empati. ”Dia hanya memusatkan perhatian pada diri sendiri. Jadi dalam segala hal dia selalu ingin menjadi pusat perhatian. Jika ada hal yang tidak didapatkan, dia akan mudah marah. Emosinya tak terkendali, dan cenderung menggunakan kekerasan sebagai bentuk pemberontakan,” ucap Ninik. Karena itu, jangan manjakan anak berlebihan, dan gunakan ketegasan untuk membentuk disiplin. Jika salah, ya harus ditegur. ”Kekerasan biasanya dilakukan pada anak yang lebih lemah. Mengapa demikian? Karena anak tersebut tidak memiliki empati terhadap anak lain, sehingga yang ada hanyalah keinginan untuk menyakiti,” papar Ninik.
2. Jangan goyah menerapkan disiplin meski anak mengamuk. Pola asuh itu harus konsisten.”Misal, kita menyerah setelah anak mengamuk, membanting barang-barang atau memukul apa saja. Jangan mengalah hanya karena tak ingin repot, atau daripada anak rewel. Biarkan dia belajar, bahwa untuk mendapatkan sesuatu tak perlu dengan marah dan mengamuk,” papar Ninik.
3. Hindari pola asuh otoriter. Mereka yang ditekan dan dihukum berlebihan cenderung menjadi rendah diri, dan takut berlebihan. ”Dia akan tertekan, tak bisa mengekspresikan perasaan. Tekanan-tekanan yang tidak bisa dilampiaskan di rumah akhirnya dia lampiaskan di luar,” ucap Ninik.

5. Stop Tontonan Kekerasan
Banyak acara televisi yang tidak mendidik dan menayangkan kekerasan. Dari berbagai kasus kekerasan di sekolah, pelaku ternyata meniru adegan di televisi. Seperti smack down, atau sinetron yang banyak menampilkan adegan kekerasan. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anak, karena mereka dalam tahap belajar. Yang perlu ditekankan di sini adalah peran orangtua dalam mengawasi anak, termasuk tontonannya. ”Dampingi anak saat menonton televisi. Berikan penjelasan tentang acara yang tengah ditontonnya. Seleksi acara yang memang khusus untuk konsumsi anak. Untuk hal ini Anda harus tegas, demi perkembangan jiwa dan mental anak,” ucap Ninik.

6. Kerjasama Sekolah
Pada kenyataannya, masih sering terdengar aktifitas kekerasan di sekolah. Yang gampang diamati, selalu ada anak yang mengganggu teman, berantem di sekolah, merusak atau menyembunyikan benda-benda milik teman dan sebagainya. Mengapa anak melakukannya? ”Biasanya anak ingin ngetop atau sok jagoan. Alasannya, karena ingin diperhatikan, kecemburuan sosial atau karena ia memang memiliki gangguan dalam dirinya. Misal tekanan dalam keluarga yang dia lampiaskan dengan sikap agresif ini,” ujar Ninik. Anak yang jadi korban kekerasan pun mengalami tekanan. Mereka bisa mengalami penurunan kepercayaan diri, takut, penurunan prestasi akademik, dan trauma berlebihan. Bagaimana mencegahnya, peran guru sangat diperlukan. Guru seharusnya juga menekankan prinsip-prinsip pergaulan yang positip kepada anak. Meski sayangnya, masih banyak guru yang kurang peka soal ini. Bahkan masih ada guru yang membiasakan kekerasan dalam menghukum anak, seperti memukul dengan penggaris. ”Perilaku guru juga menjadi panutan anak. Karena itu, guru juga harus berhati-hati dalam berperilaku,” ucap Ninik.

(Disalin dari www.nyata.co.id)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL