tanggung jawabLiputanIslam.com — Di antara makhluk yang ada, manusia mempunyai sebuah kelebihan khusus, yaitu kelayakan menerima kewajiban, sedangkan makhluk lain tidak memiliki kelayakan ini.

Benda mati dan tumbuhan tidak mempunyai ilmu, pemahaman dan kehendak, dan mereka tidak memiliki kelayakan untuk menerima kewajiban dan tidak mempunyai tanggung jawab terhadap perbuatannya. Hewan pun demikian, meskipun ia mempunyai kehendak dan perasaan berkaitan dengan perbuatannya, namun karena ia tidak mempunyai akal maka ia tidak mampu berpikir akan akibat perbuatannya, sehingga ia mampu mengontrol instingnya. Oleh karena itu, hewan tidak mempunyai kemampuan untuk menerima kewajiban. Hewan tunduk sepenuhnya kepada kekuatan syahwat dan kekuatan marah, dan tidak bisa hidup di atas dasar hukum dan undang-undang.

Begitu juga dengan malaikat. Mereka tidak mempunyai kelayakan untuk menerima kewajiban, perintah dan larangan. Mereka adalah makhluk metafisik, bahkan akal semata, tidak mempunyai kekuatan syahwat dan marah, dan tidak mempunyai gerak menuju kesempurnaan dan gerak menuju kehinaan. Kewajiban mereka sudah jelas, dan mereka hanya berjalan di atas jalan itu, dan tidak mungkin melakukan pembangkangan. Oleh karena itu, mereka tidak butuh kepada petunjuk, penetapan hukum dan kewajiban. Allah Swt telah berfirman tentang mereka,

Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. at-Tahrim:6).

Allah Swt juga berfirman,

Tidak ada seorang pun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah). Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah) (QS. ash-Shaffat:164-166).

Adapun manusia mempunyai penciptaan khusus. Maksudnya, satu sisi manusia adalah maujud materi yang mempunyai ruh tumbuhan dan hewan. Pada tingkatan ini, manusia merupakan sebuah jisim nâmi dan mempunyai sifat-sifat makan, berkembang dan berketurunan, dan juga merupakan seekor hewan yang memiliki sifat-sifat dan insting-insting hewan, seperti merasa, memahami, mempunyai kehendak, bergerak berdasarkan kehendak, insting syahwat dan insting marah.

Dari sisi lain, manusia mempunyai ruh mujarrad dan akal yang dengannya ia dapat berpikir tentang akibat-akibat perbuatannya, dan dari sini dia dapat mengontrol dan mengendalikan keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan nafsunya.

Sisi lainnya lagi, manusia adalah makhluk bebas yang dapat menemukan jalan kebahagiaan dan kesempurnaannya, yang kemudian dengan ilmu dan kehendaknya dia memilih dan mengikuti jalan tersebut.

Abdullah bin Sinan telah berkata, “Saya telah bertanya kepada Imam Ja`far Shadiq as, ‘Mana yang lebih utama, malaikat atau anak Adam?’ Imam menjawab, ‘Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as telah berkata, ‘Sesungguhnya Allah Swt telah menciptakan para malaikat dari akal tanpa syahwat, dan telah menciptakan hewan dari syahwat tanpa akal. Namun Allah Swt telah menggabungkan akal dan syahwat pada penciptaan manusia, maka siapa saja di antara manusia yang akalnya dapat menundukkan syahwatnya maka dia lebih baik dari malaikat, namun siapa saja yang syahwatnya dapat mengalahkan akalnya maka ia lebih buruk dari hewan.’”[17]

Karena penciptaan khusus ini manusia dapat mengemban kewajiban perintah dan larangan, dan menerima amanah dan tanggung jawab Ilahi.

Allah Swt berfirman dalam al-Quran, Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS. al-Ahzab:72).

Sebagian mufasir menafsirkan amanah yang disebutkan dalam ayat ini sebagai kewajiban. Maksudnya, Allah telah menawarkan kewajiban kepada langit dan bumi, namun karena mereka tidak memiliki kelayakan dan kemampuan untuk menerimanya, mereka enggan menolaknya. Penciptaan mereka sedemikian sehingga mereka tidak dapat hidup di bawah ruang-lingkup ketetapan hukum, perintah dan larangan, karena mereka tidak memiliki ilmu dan kehendak. Mereka tunduk pada kehendak Ilahi dan tidak mungkin melakukan pembangkangan. Namun manusia disebabkan penciptaan khususnya dia dapat menerima kewajiban dan telah menerimanya.

Manusia memiliki kelayakan dan kemampuan menerima kewajiban perintah dan larangan, untuk itu dia perlu memperoleh program hidup dan gerak kesempurnaannya dari Allah Swt. Karena itu, kasih sayang (lutf) Ilahi yang merupakan perantara kesempurnaan setiap maujud diletakkan pada diri manusia, yaitu dengan mengutus para nabi yang akan menjelaskan program kesempurnaan dan kebahagiaannya.

Allah Swt berfirman dalam al-Quran, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir (QS. al-Insan:2-3).

Masalah manusia memiliki tanggung jawab dan dibebani kewajiban (taklîf) adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi, dan para nabi diutus untuk meletakkan tanggung jawab besar ini ke atas pundak manusia dan membantu mereka dalam melaksanakannya.

Muhammad bin `Ammarah meriwayatkan, “Saya bertanya kepada Imam Ja`far Shadiq as, ‘Kenapa Allah Swt menciptakan hamba-Nya?’ Imam as menjawab, ‘Sesungguhnya Allah Swt tidak menciptakan hamba-Nya dengan sia-sia, dan tidak membiarkannya tanpa guna, melainkan Dia menciptakan mereka untuk menampakkan kekuasaan-Nya, dan untuk membebani mereka dengan kewajiban ketaatan kepada-Nya, supaya dengan itu mereka layak mendapat keridhaan-Nya. Allah Swt tidak menciptakan hamba-Nya dengan tujuan untuk mendapat manfaat dari mereka atau untuk menolak bahaya dengan perantaraan mereka, melainkan Dia menciptakan mereka dengan tujuan supaya mereka mendapat manfaat dan menyampaikan mereka kepada kenikmatan abadi.’”[18]

Allah Swt berfirman di dalam al-Quran, Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. al-Mukminun:115).

Oleh karena itu, manusia adalah makhluk yang mempunyai tanggung jawab dan kewajiban. Setiap manusia mempunyai tanggung jawab terhadap yang lain, terutama terhadap orang–orang yang berada di bawah kekuasaannya.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Maka, seorang penguasa akan ditanya tentang rakyatnya, seorang laki-laki penanggung jawab atas keluarganya dan akan ditanya perihal mereka, seorang istri penanggung jawab rumah dan anak suaminya dan akan ditanya tentang perihal mereka, dan begitu juga seorang hamba penanggung jawab harta tuannya dan akan ditanya tentang perihalnya. Ingatlah, sesungguhnya setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan ditanya tentang perihal yang dipimpinnya.”[19]

Disalin dari Website Resmi Prof Ibrahim Amini, Seri Buku Agar Tidak Salah Mendidik Anak (LiputanIslam/AF)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL