respon

LiputanIslam.com — Tanggung jawab Manusia terhadap Alam

Dari sumber-sumber agama dapat ditarik kesimpulan bahwa alam ini diperuntukkan bagi manusia. Allah Swt telah menciptakan alam ini dan telah memberikan kemampuan kepada manusia, yang dengan kemampuan itu manusia dapat menyingkap berbagai rahasia alam, dan memanfaatkannya untuk membangun alam dan kehidupannya yang lebih baik.

Allah Swt berfirman dalam al-Quran, Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir (QS. al-Jatsiyah:12-13).

Pada ayat yang lain Allah Swt berfirman, Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin (QS. Luqman:20).

Allah Swt juga berfirman, Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang (QS. Ibrahim:32-33).

Allah Swt berfirman, Dan Dia-lah Yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS. an-Nahl:14).

Allah Swt juga berfirman, Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (QS. al-Baqarah:29).

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, “Takutlah kamu kepada Allah dalam urusan hamba Allah dan negerinya, karena  kamu akan ditanya sampai tentang urusan sejengkal tanah dan urusan binatang.”

Dari ayat-ayat dan hadis-hadis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah Swt telah menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada padanya, seperti gunung, sungai, berbagai macam bahan tambang dan benda logam, berbagai jenis pohon dan tumbuhan, dan berbagai jenis binatang daratan maupun lautan, baik yang jinak maupun yang buas, untuk dimanfaatkan oleh manusia. Allah Swt telah menciptakan alam semesta dengan susunan yang sangat teliti, di mana terdapat beribu-ribu rahasia dan keanehan di dalamnya. Allah Swt telah memberikan kepada manusia kemampuan, akal, dan jiwa pencarian, supaya dapat menyingkap berbagai rahasia dan keajaiban alam, mengubah wajah dunia, membangun bumi, dan memperoleh manfaat dari berbagai macam nikmat Tuhan. Manusia adalah makhluk pilihan dan merupakan Khalifah Tuhan, dan alam ini diciptakan untuk manusia.

Sungguh ini merupakan tanggung jawab besar pada pundak manusia. Oleh karena itu manusia harus menghargai segala nikmat Allah dan menggunakannya pada tempatnya. Manusia harus menganggap barang tambang berharga itu sebagai nikmat dari Allah, yang telah diciptakan untuk dimanfaatkan oleh mereka, bukan untuk dihambur-hamburkan dan disia-siakan, dan air, udara, tumbuhan dan laut sebagai lingkungan hidup bagi seluruh manusia dan hewan yang harus dijaga dari segala macam bentuk perusakan dan pencemaran.
Manusia harus berusaha menjaga, memelihara dan mengembangkan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan.

Manusia harus menganggap hewan darat dan laut sebagai makhluk hidup yang juga mempunyai hak hidup sebagaimana manusia. Manusia harus berusaha mengembang-biakan hewan yang bermanfaat dan memanfaatkannya sebatas kebutuhan mereka, karena mereka telah diciptakan untuk manusia. Namun mereka tidak boleh menyakiti dan berlebihan dalam memanfaatkan mereka sehingga punah.

Alhasil, tanggung jawab membangun dan memakmurkan bumi berada di atas pundak manusia, dan masalah ini harus mendapat perhatian dalam pendidikan dan pengajaran mereka.
Membangun Diri (Jiwa) Manusia

Sebagaimana telah kita jelaskan, meskipun manusia tidak lebih dari satu hakikat, namun ia tersusun dari berbagai dimensi: fisik, jisim yang bisa tumbuh dan berkembang, hewan dan diri mujarrad. Meski demikian, yang menjadi hakikat manusia adalah ruh mujarrad yang meskipun satu namun memiliki peringkat-peringkat yang lebih rendah darinya.

Perlu dijelaskan di sini, bahwa dalam ilmu-ilmu akal telah dibuktikan bahwa meskipun pada awal wujudnya diri manusia itu adalah sebuah substansi abstrak dan lebih unggul dari materi, namun pada saat itu ia merupakan sebuah hakikat yang belum sempurna, dan ia merupakan maujud abstrak yang memiliki potensi kepada kesempurnaan. Dari sisi wujudnya yang lebih rendah manusia terikat dengan badan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat materi, dan oleh karena itu manusia mempunyai gerak menuju kesempurnaan.

Manusia adalah makhluk yang mengagumkan yang berkenaan dengannya Allah Swt berfirman, Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta (QS. al-Mukminun:14). Pada awal wujudnya manusia tidak memiliki semua kesempurnaan, namun secara bertahap ia diciptakan dan menjadi sempurna, lalu mengubah berbagai potensi yang dimilikinya menjadi kekuatan nyata. Manusia, dari awal wujudnya hingga akhir hidupnya senantiasa bergerak di jalan kesempurnaan. Pada akhirnya tidak seluruh manusia berada pada jalan yang sama dan menuju tujuan yang sama, melainkan secara umum manusia bergerak pada salah satu di antara dua jalan:

Bergerak pada jalan hewani dan sibuk dalam memuaskan berbagai insting hewaninya dan memperkuat sifat-sifat hewaninya, sehingga pada zatnya ia benar-benar telah menjadi seekor hewan bahkan lebih hewani dari hewan-hewan lainnya, karena telah menggunakan kekuatan akalnya untuk melayani insting hewaninya, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang bahkan tidak dilakukan oleh seluruh hewan yang lain. Seorang manusia yang menjadi hewan dengan menggunakan kekuatan akalnya jauh lebih berbahaya dan lebih keji dari seluruh hewan yang lain.

Atau, berada pada jalan kemanusiaan dan pengembangan nilai-nilai utama, dan bergerak menuju menjadi manusia sempurna dan dekat kepada Allah, sehingga akhirnya mencapai satu kedudukan yang lebih dekat kepada Allah dibandingkan para malaikat, dan satu kedudukan yang para malaikat pun tidak mampu menggapainya.

Para nabi diutus dengan tujuan untuk mengajak manusia ke jalan ini. Para nabi berkata kepada manusia, “Kamu adalah manusia dan jangan sampai kamu mengabaikan diri kemanusiaanmu. Jangan sampai kamu hidup seperti kehidupan seekor hewan. Jika kamu mengorbankan kemanusiaanmu demi kecenderungan-kecenderungan nafsu hewanimu maka kamu akan celaka, Tidak ada bahaya yang lebih besar dari seseorang yang mengabaikan sisi kemanusiaannya dan sebagai gantinya ia memperturutkan nafsu hewaninya.”

Allah Swt berfirman dalam al-Quran, Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (QS. az-Zumar:15).

Imam Ali as telah berkata, “Sungguh aku merasa heran dengan orang yang berusaha keras mencari barangnya yang hilang namun tidak berusaha mencari ketika ia kehilangan dirinya.”

Oleh karena itu, manusia harus menganggap dimensi kemanusiaannya sebagai pokok. Dia juga harus mengembangkan dimensi hewaninya untuk melayani diri malakut­-nya, bukan untuk melemahkannya.

 

Disalin dari website resmi Prof Ibrahim Amini (LiputanIslam.com/AF)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL