Foto www.petiteelle.asia

Foto www.petiteelle.asia

LiputanIslam.com — Pernah mengalami kejadian anak nggak mau disalahkan padahal sudah jelas salah dan dia sadar akan kesalahannya? Nah, ini adalahciri-ciri anak yang merasa selalu benar dan nggak mau disalahkan. Saat masih balita, mungkin hal ini bisa dimaklumi karena mereka belum terlalu mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Tapi, jika ini terjadi pada anak yang usia sekolah, maka jangan pernah membiarkannya. Jika dibiarkan, bukan nggak mungkin anak akan tumbuh menjadi anak egois yang nggak memiliki toleransi pada orang lain.

Pada beberapa kasus, anak yang memiliki sifat seperti ini terbentuk karena (bukan bermaksud untuk menyalahkan) lingkungan di keluarga. Misalnya, saat awal-awal anak mengatakan sesuatu yang salah, anggota keluarga malah menertawakan atau memarahinya. Jika hal seperti itu terjadi terus menerus, lama-lama akan timbul self defense atau pertahanan diri pada anak yang membuatnya nggak mau disalahkan, meskipun dia menyadari dirinya salah. Bagaimana cara mengatasinya?

Menghadapi anak seperti ini diperlukan kesabaran tinggi karena sifat egoisnya sudah terlanjur muncul. Selain itu, anak-anak tidaklah mudah untuk diatur atau dinasehati, apalagi jika dia nggak suka dengan hal yang dinasehatkan padanya. Tapi, jangan pantang menyerah dan berhenti begitu saja. Meski sulit, di usianya yang masih muda, kepribadian dan sifat anak masih bisa dibentuk. Kenali karakter anak agar tahu, mana saat yang tepat untuk mengobrol dengannya. Mengapa kami menyarankan untuk mengobrol? Karena anak jaman sekarang umumnya sudah pintar dan nggak suka didikte oleh orang lain, termasuk orangtuanya.

Saat akan melakukan penolakan untuk dibenarkan,  juga jangan hanya diam. Segera koreksi dan jelaskan mana yang benar. Nggak perlu melakukannya dengan nada suara tinggi, justru bersikaplah santai seakan nggak ada yang salah dengan dia mengatakan sesuatu yang salah. Jika anak menolak dikoreksi, tetap jelaskan dan beritahukan bahwa dia salah dan nggak perlu merasa malu.

Untuk menekankan bahwa seseorang nggak harus selalu benar, sesekali kita bisa berpura-pura mengatakan sesuatu yang salah di depan anak. Saat dia mengoreksinya, katakan, “Oh iya, Mama salah ya. Maaf deh Mama lupa. Terima kasih sudah mengingatkan ya”. Dengan begitu, anak akan belajar bahwa semua orang bisa melakukan kesalahan dan nggak perlu merasa malu. Meski sulit dan memerlukan waktu, tapi sikap ‘aku selalu benar’ si kecil bisa diatasi kok. (ba/LiputanIslam.com)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL