tambal ban

Sumber foto: nursasiseptarina.blogspot.com

LiputanIslam.com— Nambal ban mobil sore hari di dekat sekolah anakku. Penambal bannya masih muda, wajahnya santun. Saya konsumen terakhirnya senja itu. Menjelang maghrib, ia dan 2 anak lelaki kelas 2 SD dan TK B sudah bergegas bersih-bersih hendak maghriban di musholh dekat rumah. Sambil menunggu, saya terlibat percakapan dengan istri si penambal ban. Perempuan kurus, berwajah ceria, berhijab, tinggal di bengkel sepetak menunggu bayi 4 bulan dan anak perempuan satu-satunya yang berumur 2 tahun.

Ibu muda itu ramah, wajahnya gembira. kami terlibat percakapan dengan topik anak dan keluarga. Ibu muda itu mengucapkan “toilet training”, “browsing”, di perpustakaan kecamatan itu ada game “educatif interaktif”. Saya langsung terkesan, istimewa sekali ibu muda ini. Perempuan sederhana, istri penambal ban, kontrak sepetak bengkel di bawah jembatan MER, tapi punya “vocab” seperti itu.

Percakapan bergulir. Ternyata, ibu muda itu lulusan D2 ITS Desain Grafis. Suaminya lulusan SMP. Anaknya 4,  kelas 2 SD, TK B,  2 tahun, 4 bulan. Sebelum banyak anak, kasih les privat pelajaran SD SMP dan menggambar. Setelah banyak anak, di rumah dulu, merawat anak.

“Saya beruntung suami saya tidak menyuruh saya bekerja, jadi saya full merawat anak-anak”, jelas si ibu muda.

“Ndak eman ijasah ITS-nya?” pancing saya.

“Sekolah tinggi itu ndak mungkin rugi”, jawabnya tangkas, penuh keyakinan.

“Waktu mau menikah sama abi-nya anak-anak, saya tanya ke orang tua saya ‘ndak rugi menyekolahkan saya sampai kuliah, lantas saya menikahnya sama tukang tambal ban?’, orang tua saya bilang ‘tidak pernah rugi memberikan pendidikan pada anak’, kalau saya bekerja sekarang, anak saya ndak ada yang mengasuh. Saya didik anak saya sendiri saja”

Jodoh dan Cinta, Konsekwensi Pilihan, Nilai Pendidikan

Dalam perjalanan pulang ke rumah, dipayungi langit senja yang menjingga, saya jadi termangu-mangu, begitu besarnya cinta itu ya. Kalau saya lulusan ITS dan saya mau diperistri pemuda lulusan SMP yang bekerja sebagai penambal ban, atas nama apa itu semua? I feel that I should love you more, wahai suamiku.

Ketika rela hidup di petak bengkel, campur dengan ban dan lengket oli di mana-mana, kamar mandi harus nebeng ke kos-kos-an dekat rumah, anak 4 kecil-kecil, “Kami menikah di bulan Suro dulu itu Bu, orang-orang pada mengingatkan — kawin Suro uripmu soro, ah endak Bu, soro itu apa sih ukurannya?” Dan saya yakin ia tidak soro, karena wajahnya tampak sungguh bahagia yang tak dibuat-buat. Ibu muda itu tampak bahagia dengan kehidupan yang –di mata saya– serba ala kadarnya,  jadi, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bilang bahagia akan hidup saya saat ini khan?

Ibu muda itu memilih menyimpan ijasah ITS-nya –meski peluang bekerja inshaa Allah pasti ada dan (bagi saya) secara finansial ia dan keluarganya memerlukan tambahan pendapatan agar dapat hidup layak. Pula, pilihan tidak bekerja di luar itu ia lakukan karena patuh pada suami demi mengurusi 4 buah cinta mereka. Terlebih, ia bangga karena anak-anaknya ia didik langsung, dengan didikan kualitas lulusan ITS.

Untuk itu, saya kagum pada keberanian dan kekuatannya menelan kenyataan bahwa harga dari pilihan dan kepatuhannya itu sekedar petak 4×6 m sebagai istananya dan makan malam dengan seekor ikan kecil sebagai lauk hasil pancingan suami setelah tutup bengkel.

Semalam saya pandangi anak-anak saya dengan tatapan sepenuh cinta berikut sepenuh rasa bersalah, adakah selama ini ibumu sudah mendidikmu dengan kualitas FH Unair dan Temple Law School nak? Dalam tidur mereka yang lelap, kuciumi amanah-amanah Allah ini dengan lelehan air mata, ampuni hamba ya Rabb, ampuni hamba.

 

Disalin dari tulisan Jani Jasfin di http://sosbud.kompasiana.com (ba/LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL