Jakarta, LiputanIslam.com—Di zaman ini, rasanya hampir tidak mungkin jika kita tidak memiliki media sosial. Paling tidak kita memiliki satu dari sekian banyak media sosial yang ada.

Media sosial seolah telah menjadi gaya hidup dan seperti sebuah keharusan. Bagi generasi Y, media sosial bukanlah sekedar tempat untuk mendapatkan informasi. Lebih dari itu, media sosial juga digunakan sebagai sarana untuk mengaktualisasikan diri. Mengapa kita perlu melakukan aktualisasi diri? Kebutuhan ke-5 menurut Abraham Maslow ini merupakan kebutuhan manusia untuk menunjukkan potensi dirinya.

Umumnya manusia ingin dirinya diakui dalam suatu lingkungan tertentu. Mereka berusaha menunjukkan bahwa dirinya memiliki potensi yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sehingga ia mampu diterima, diakui, dan dihargai keberadaannya. Hal ini dilakukan terutama oleh para remaja yang sedang berusaha mencari jati diri.

Saat ini telah tersedia beragam jenis aplikasi media sosial yang dapat digunakan untuk mengaktualisasikan diri, seperti: Instagram, Path, Snapchat, dan lain-lain. Setiap media sosial menonjolkan cara-cara tersendiri untuk mengaktualisasikan diri. Salah satu media sosial yang banyak diminati kalangan muda, khususnya di Indonesia, adalah Instagram.

Instagram merupakan aplikasi media sosial yang memampukan kita untuk berbagi foto dan video. Fitur-fitur yang dimiliki oleh Instagram sangatlah menarik seperti; filter, hashtagdirect message, video berdurasi 60 detik, dan lain-lain. Tak ayal jika aplikasi yang empat bulan lagi genap berusia enam tahun ini, memiliki jumlah 89persen Instagrammers dengan rentang usia 18-34 dari Indonesia.

Mudah sekali kita menemukan remaja yang aktif membagikan foto ataupun video ke akun Instagram-nya. Bagai sebuah catatan harian, mereka membagikan aktivitasnya di Instagram. Mulai dari kegiatan saat sekolah, bekerja, liburan atau melakukan hobi. Tidak hanya berupa kegiatan, foto yang dibagikan pun dapat berupa benda yang mereka sukai. Mereka juga membagikan gaya berbusana from head to toe, atau yang biasa disebut dengan outfit of the day (ootd). Dan bahkan mereka juga tidak ragu untuk serta mengunggah foto selfie. Melalui Instagram, kita—khususnya para remaja—mampu menunjukkan potensi yang dimiliki.

Secara langsung maupun tidak, tanpa disadari kita dapat mengetahui karakter seseorang hanya dari feeds Instagram-nya. Apakah ia seseorang yang ceria, seseorang yang bijak, seseorang yang glamor atau tidak. Meskipun pepatah mengatakan, “don’t judge the book by its cover”, tetapi paling tidak secara parsial kita mampu mengetahui informasi dasar tentang mereka. Kita dapat mengetahui informasi seperti, apa pekerjaan atau pendidikannya, apa hobinya, apa warna favoritnya, siapa keluarga, dan teman dekatnya. Tidak menutup kemungkinan juga kita mampu mengetahui informasi yang bersifat sangat pribadi yaitu, tempat tinggal. Informasi yang kita dapat melalui foto atau video itulah yang sehingga memungkinkan kita untuk menebak kepribadian mereka.

Berkat media sosial, mengenali seseorang saat ini tidak serumit dahulu. Cukup membuka akun media sosial milik seseorang yang kita tuju, maka dengan mudah kita mendapatkan informasi tentangnya.

Melihat situasi seperti ini, sebagai generasi Y kita perlu bersikap bijak dan hati-hati dalam menggunakan media sosial. Baiknya kita mem-filter terlebih dahulu segala sesuatu yang akan kita unggah ke media sosial. Sebelum mengunggah foto atau video, coba pikirkan dua kali kira-kira apa respons yang akan diberikan oleh publik. Meskipun unggahan dapat dihapus, data kita masih tersimpan rapi di big data. Selain itu, mem-filter diperlukan agar kita dapat meminimalisir presepsi negatif yang diberikan orang setelah melihat feeds Instagram kita. Karena sejatinya makna terletak pada komunikan.

“Ah ngapain sih aku harus peduli apa kata orang lain. Ini akun Instagram punyaku kok, terserah dong aku mau posting apa aja di sini.”

Kalimat yang mungkin akan terujar adalah seperti di atas. Namun perlu kita pahami bahwa apa yang kita unggah adalah cerminan dari diri kita sendiri. Dan citra diri kita dapat terbentuk melalui apa yang kita unggah tersebut. Mungkin sekarang belum waktunya apa yang kita unggah menjadi bumerang bagi kita. Tapi nanti saat melamar pekerjaan atau mengikuti kompetisi, sadarkah bila aktivitas kita di sosial media juga akan menjadi bahan pertimbangan?

Maka, gunakanlah sosial media sebaik mungkin sebagai sarana aktualisasi diri secara lebih bijak dan berhati-hati. (ra/CNN)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*