karena bu risma 3

Sumber Foto: Islam is Fun

LiputanIslam.com — Bu Elly juga sering cerita kasus, yang paling saya ingat adalah kasus cabe-cabean yang kemaren sempet ramai. Bu Elly tidak  kaget, karena kasus pertamanya udah beliau hadapi 7 tahun lalu.

Bu Elly cerita, 7 tahun lalu ada satu sekolah ‘bagus’ yang berlokasi di daerah sekitar Bintaro yang dimana 40 siswanya mengadakan Fight Tournament di Blok M. Dari 40 siswa tersebut, diperoleh 14-15 anak geng motor. Dimana ternyata anak-anak tersebut adalah anak-anak terpintar di sekolahnya. Maka, ketika fenomena cabe-cabean ini muncul, sudah sangat jelas terbaca apa penyebab fenomena ini ada. Menariknya, fenomena yang tertangkap media bahwa cabe-cabean ini adalah gaya hidup anak SMP kelas bawah. Tapi jangan salah, banyak juga anak-anak cabe ini yang berasal dari kalangan menengah atas. Sekolah yang tadi dijadikan contoh adalah salah satu sekolah anak orang kaya.

Singkat cerita, 14 anak tadi dibujuk dan dikumpulkan, diajak ngobrol. Salah satu dari 14 anak tersebut menyatakan bahwa dulu ayahnya juga sama seperti dirinya. Jadi ketika ia mengatakan pada ayahnya bahwa ia dan teman-teman sedang mengadakan Turnamen Bertarung, ayahnya justru bertanya apa yang bisa ia bantu. Bahkan anak-anak ini merencanakan turnamen ini dengan sangat professional. Dan yang paling memprihatinkan adalah hadiah bagi sang juara. Siapa yang menang akan mendapatkan hadiah ‘perempuan’.

Dua minggu kemudian orangtua dari ke-14 anak tersebut diundang untuk mengikuti pelatihan Komunikasi Pengasuhan Anak oleh Buah Hati. Sayang seribu sayang, orangtua yang hadir hanya 2 orang. Hal ini mencerminkan bahwa penilaian orangtua terhadap anaknya sangat rendah. Fenomena cabe-cabean ini hanyalah fenomena yang berulang.

Apa pasal? Lelah. Anak lelah. Sejak usia 5 tahun anak sudah ‘dibebani’ dengan PR dan les. Balik ke cerita anak SMP ternama tadi. Dua bulan setelah anak-anak itu dikumpulkan, diadakan kembali pertemuan untuk membahas permasalahan yang terjadi pada mereka dan membicarakan masa depan mereka. Apa yang membuat mereka punya ide dan mengadakan Turnamen ‘Adu Jotos’. Mereka mengatakan bahwa mereka lelah dengan kegiatan yang melulu akademik. Les. ssekolah. Mereka mengatakan, satu-satunya tujuan mengadakan turnamen tersebut adalah agar hidup lebih berwarna.

Dopamin itu sekali lagi, dosisnya kalau sudah dikeluarin, seperti narkoba, nagih, minta nambah jumlahnya. Misalnya? Kalo kita sengaja atau tidak sengaja lihat lagi konten porno yang lebih ‘wakwaw’, dopamin keluar makin banyak. Gampangnya begini; pernah denger “Jangan ke Raja Ampat kalau loe belum kelarin Bunaken, KarJaw, dan Lombok. Ntar semuanya jadi hambar.”

Terus hubungannya sama direktur yang mati pelan-pelan? Coba lihat gambar pathway dopamin yang saya upload di atas. Arah aliran dopamin kan ke bagian PFC, ke rumah direktur. Kalau dopamin banjir, ya Anda bayangkan saja rumah Anda sedang kebanjiran. Aktifitas harian Anda terganggu kan? Fungsi ‘kemanusiaan’ sang direktur terganggu. Akhirnya jadi disfungsi. Kalau keseringan disfungsi? Lumpuh, lalu mati.

Tapi disaat genting seperti iyu, testosteron tetep release. Testosteron menyebar ke seluruh badan, apa akibatnya? Wajar kalau hasil riset ada anak laki-laki  yang bertanya, “Kak, kenapa kalau tidak sengaja lihat sesuatu yang porno jadi terangsang?”Anak yang blasted itu nyari hiburan. Pornografi itu hiburan, karena dopamin yang dihasilkan ngasih efek senang. Menurut Anda, anak-anak yang ditemui Ibu Risma itu anak blasted bukan? Iya, mereka blasted. Ketika mereka terpapar, eskalasinya jelas dan jauh lebih cepat karena akses ke level tertinggi (PSK) sangat dekat.

Nah sekarang saya mau jelasin eskalasinya. Kita kunci dulu pemahaman bahwa dopamin itu ngasih efek senang tapi nagih. Di saat bersamaan testosteron tetap dihasilkan tanpa peduli rumah direktur kebanjiran atau tidak.

Analoginya,  Anda sedang haus sekali, ada tukang es krim lewat. Anda suka Conello Sweetheart Browniesnya Walls. Pas makan, rasanya gimana? Pastinya senang. Dopamin keluar tuh. Senang. Puas. Besok-besok pas haus beli es krim lagi ngga? Anda punya uang, beli lagi pasti. Cuman sekarang ada Pisseta. Milih Walls apa Pisetta? Pisseta-lah lebih enak. Makan lagi, senang lagi, hausnya hilang, puas. Dopamin keluar lebih banyak. Besok saat haus lagi pengen makan es krim lagi dong. Kalau punya uang, ada Baskin Robins ama Pisseta, milih Baskin dong. Makan lagi, hausnya hilang senang puas. Dopamin keluar makin banyak lagi. Walls? Sudah lupa tuh, kecuali kalau uangnya cuma cukup buat beli Walls.

Pornografi? Persis sama. Karena yang kerja sama-sama dopamin. Senyawa kimianya sama. Anak-anak biologi pasti ngerti kalo udah level molekuler, apapun itu jadi tidak ada bedanya.

Anak yang udah pernah terpapar sama komik porno, adegan yang beberapa detik di Twilight misalnya, itu udah ON pathway porno di otaknya. Dan seperti yang Randy Hyde bilang, tidak bisa dimatikan, cuma bisa mati-matian direm. Kalau tidak direm, kasusnya seperti es krim. Pasien Mr JoAnn Hamilton (kemarin Bu Elly forward email dari temannya yang psikolog terapis adiksi pornografi di Amerika sana) pertama kali terpapar gara-gara buka buku katalog pakaian dalam wanita punya ibunya waktu umur 13 tahun. Karena penasaran, meningkat jadi liat majalah porno. Internet muncul, berselancar lah dia di dunia maya : Internet Pornography. Sampai sekarang usianya 31 tahun, sedang berjuang melawan adiksi pornografi.

Lah itu untungnya pasiennya JoAnn sadar kalo dia harus berhenti. Anak-anak itu? Bahkan dia belum mengerti dirinya sendiri. Kasus video SMP 4? Hei itu anak suka sama suka. Bodoh ya mereka? Tidak. Anak itu langganan piala juara fisika. Pintar itu adanya bukan di PFC. Adanya di Cortex. Jadi itu bagian yang berbeda. Cortexnya bagus, tapi PFCnya rusak. Yang ngerekam? Itu anak OSIS dan ROHIS. Ok, speechless. Ngapain sih, sayang? Eskalasinya sedikit-sedikit, yang awalnya geuleuh, jijik, kaget, lalu penasaran. Lalu biasa saja lihat orang ciuman atau adegan gituan di film-film. Lalu, anak SMP 4 itu udah sampe pada level “Acting Out”. Memerankan. Memerankan apa? Memerankan komik yang mereka baca.

Banyak kasus perkosaan yang bejat banget, semua ngaku kalau mereka perkosa orang karena nonton video porno. Kasusnya dari anak sebagai korban sampe anak sebagai pelaku. Apalagi kasus orang dewasa, bahkan tukang parkir Terminal Pulogadung incest anaknya sendiri. Yang lebih gila lagi kasus di Tasik, anak umur belasan perkosa ayam sampe ratusan dan belasan domba. Otaknya dimana? Sudah rusak, Bu.

Makanya saudara-saudaraku muslim, Allah memerintahkan kita ini itu karena Dia sayang banget sama kita.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Qs. An- Nuur (24): 30)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (Qs. An- Nuur (24): 31)

Saya tau, baca ini menimbulkan luka. Saya sendiri yang menulis pun rasanya sakit. Tapi kita tidak boleh diam. Kita harus bergerak. Kita harus melakukan sesuatu. Menyampaikan kebenaran.

Maaf ya muslimah, mungkin ini pendapat saya, saya bukan ahli tafsir, saya hanya menangkap mengapa Allah memerintahkan kita menutup aurat kita, bukan semata-mata supaya kita lebih mudah untuk dikenal dan tidak diganggu laki-laki yang jahat. Allah memang bilang itu di Al Ahzab : 59, tapi kalau kita sudah mengerti sistem kerja otak kita, hormon dalam tubuh kita, perintah Allah itu menjadi sangat masuk akal. Saudara kita yang Muslim juga punya hak untuk menjaga pandangannya, karena dia tidak bisa mengatur sekresi hormon dalam otak dan tubuhnya. Yang bisa mereka lakukan adalah menjaga pandangannya agar mereka mampu memelihara kemaluannya. Apalagi testosteron yang ada dalam tubuh mereka jauh lebih banyak dari yang kita miliki.

Bagian pertama bisa dibaca di sini.

Bagian kedua bisa dibaca di sini (LiputanIslam.com/ba)

Oleh: Miftahul ‘pipichan’ Hidayah, Alumni Biologi ITB angkatan 2004
Kita & Buah Hati Foundation

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL