bu risma

Ibu Risma

LiputanIslam.com — Kita mundur ke belakang sedikit, mengenai paparan anak terhadap aktifitas seksual. Hey kalian para wanita yang kelak akan memiliki anak laki-laki, atau kalian yang punya adik laki-laki, dan kalian para lelaki yang akan menjadi penanggung jawab anggota keluarga kalian, berhati-hatilah. Jagalah mereka. Kenapa? Paparan itu halus. Kasus dari ibu Risma adalah paparan ekstrim. Tapi tahukah kalian bahwa paparan itu juga bisa disisipi secara perlahan oleh hal yang sama sekali tidak kita anggap ‘keterlaluan’?

Iklan handuk, iklan pakaian dalam, iklan sabun, iklan parfum, dan iklan apapun yang menunjukkan keindahan tubuh wanita, itu adalah tombol ON untuk memasukkan konten ‘kotor’ selanjutnya secara bertahap dan bertingkat. Pelaku industri pornografi tau betul hal ini. Riset mereka jauh lebih canggih dari yang kita bayangkan. Randy Hyde, seorang psikolog terapis pornografi sekaligus kolega pakar neurosains Donald Hilton mengatakan bahwa sekali tombol ON itu menyala, kita tidak akan bisa mematikannya lagi. Kita cuma bisa ‘mengerem’ dengan susah payah.

Konten ‘kotor’ itu masuk secara bertahap dan samar sekali. Bermula dari legal content seperti iklan, majalah remaja yang menampilkan pakaian kurang bahan, dan hal lain yang diijinkan pemerintah kita, yang kita sendiri pun menganggap hal itu lumrah. Kemudian meningkat menjadi soft porn seperti majalah pria dewasa. Kemudian meningkat lagi ke komik dan film Hollywood yang punya adegan dewasa. Kemudian meningkat lagi ke games tembak-tembakan yang kalau menang dapat hadiah ‘perempuan’ yang boleh diapakan saja(ini yang mengakibatkan munculnya istilah ‘cabe-cabean’, ajib ya, bermula dari games!). Dan selanjutnya ke atas sampe muncullah berita-berita kasus perkosaan dan pembunuhan.

Apa yang terjadi pada anak yang terpapar? Kalo yang diliat masih iklan pakean renang sih paling pertama kali responnya kaget, jijik, malu sendiri. Nah, sebelum saya jelaskan eskalasinya, saya mau jelaskan isi kepala kita dulu yaitu otak.

Jadi ya temen-temen, Jordan Grafman, PhD, peneliti Neuroscience dari University of Wisconsin-Madison bilang, pada otak manusia, ada bagian yang didesain khusus oleh Tuhan untuk membedakan manusia dari spesies lain, sebagai spesies paling sempurna, yaitu memiliki kemampuan untuk memilih dan memiliki adab atau nilai-nilai fitrah (kebenaran). Artinya, anak tersebut tidak dilahirkan dalam keadaan polos melainkan sudah diinstal nilai nilai kebaikan oleh penciptanya.

Di bagian mana? Ia berada di jidat kanan, atau di atas alis. Itu namanya pre frontal cortex. Ia direkturnya otak kita. Dia adalah ‘manusia’nya otak kita. Dia adalah bos bijaksana yang ‘mencetak’ kita  menjadi manusia, karena hewan tidak bisa memegang teguh moral dan nilai, karena hewan tidak bisa kita tuntut untuk bertanggung jawab apalagi untuk perencanaan masa depan, tidak  bisa mengatur emosi untuk menunda kepuasan, tidak bisa mengontrol diri, tidak bisa menerima konsekuensi, dan tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan logika. Itu yang membedakan manusia dari spesies apapun di muka bumi ini? Dan yang saya sebut diatas, adalah fungsi dari PFC sang direktur.

Kabar buruknya, bagian itu matengnya baru di usia 25 tahun. Uncle Ben di Spiderman 1 pas nyindir Peter yang bandel di usianya yang 25, “Peter, these are the years when a man changes into the man he’s going to be for the rest of his life. Just be careful who you change into.”

Karenanya, wahai orang dewasa, bersabarlah kepada anak-anak. Otaknya belum bekerja secara maksimal. Berhentilah memarahi anak-anak dan berlaku kasar terhadap mereka, jika anaknya salah, orangtuanya yang harus bener mengasuhnya. Nah, kabar baiknya, kalau pola pengasuhan keluarganya baik, sang direktur bisa matang lebih cepat.

Paparan pornografi dan nilai-nilai buruk bisa membunuh sang direktur secara perlahan. Ini bukan saya yang bilang ya,  yang bilang itu Dr. Donald Hilton Jr, psikoterapis dan ahli neurosurgical dari University of Texas. Beliau sahabat dari Ibu Elly dan pernah diundang yayasan untuk mengadakan seminar bersama Kemenkes untuk menjelaskan  bahwa kerusakan otak orang yang adiksi pornografi itu kalo dilihat di MRI sama persis dengan kerusakan otak orang yang kecelakaan naik mobil Ferrari dengan kecepatan sangat tinggi. Kalau narkoba merusak otak di 3 bagian, obesitas merusak otak di 2 bagian, pornografi ngerusak otak di LIMA bagian.

Bagaimana caranya? Saya ceritakan ya, sewaktu mata kita melihat gambar berunsur porno, mata kita tidak bisa mengirim file berupa berupa gambar ke otak.  Dia kirim sinyal listrik, langsung dari mata ke otak belakang. Lalu informasinya dibawa ke bagian yang namanya sistem limbik. Sistem limbik ini yang ngolah data, milah penting atau tidak.  Sistem limbik ini akan menganggap penting informasi yang terkait emosi.

Pertanyaannyam sewaktu melihat hal yang berunsur porno, apakah kalian merasa kaget, atau jijik, atau malu? Nah, otak kita mengganggap informasi itu penting karena ada unsur emosinya. Disimpanlah oleh otak kita. Sekali dua kali, masih berasa jijik kan? Untuk menghilangkan jijiknya, otak kita menolong dengan release dopamin untuk membuat hati kita tenang. Semoga aja kita terjaga untuk terus merasa jijik. Lama-lama kita akan biasa saja melihat yang ‘level’ pornonya sama. Kenapa? Karena selain memberi efek tenang, dopamin ini sifatnya menagih. Sama dengan narkoba.

Tapi, kasusnya akan sangat berbeda untuk anak-anak khusus. Anak khusus tuh siapa? Anak yang mentalnya blasted. Yaitu anak-anak yang hidupnya merasa boring, lonely, affraid dan anxient, stress, dan tired. Anak-anak yang bosen yang tiap pulang ke rumah cuma ditanya PR sama les. Lalu anak-anak yang emak bapaknya sibuk sendiri, meeting-lah.. me time-lah. Anak-anak yang kalau punya masalah tidak tahu mesti ngobrol sama siapa karena tidak dekat sama orang tua. Kumpul sama teman-teman yang sama blasted-nya sama dirinya. Selain itu, baik ortu, sekolah, lingkungan, semuanya menuntut prestasi-prestasi-prestasi. Anak-anak ini sudah belajar sejak umur 5 tahun padahal otaknya belum siap, otak anak siap dikasih calistung itu umur 7 tahun.

Bagian pertama bisa di baca di sini. (LiputanIslam.com/ba)

Oleh: Miftahul ‘pipichan’ Hidayah, Alumni Biologi ITB angkatan 2004
Kita & Buah Hati Foundation

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL