bu risma

Ibu Risma

LiputanIslam.com — “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Demikian terjemahan surat itu. Allah personal sekali menuntun saya baca surat itu dengan ending kebaikan, karena Allah juga Maha Tahu kalau saya lebih ‘kena’ dinasehati secara baik-baik daripada ditakuti-takuti api neraka.

Saya bingung mulai dari mana. Mulai dari informasi yang dikasih sama Bu Risma saja ya. Mengenai PSK usia 60 tahun dengan pelanggan anak SD/SMP dengan bayaran seribu-dua ribu rupiah. Innalillahiwainnailaihirajiun. Sedih? Alhamdulillah.

Sebetulnya, kasus kayak gini masih sangat banyak asal kita kuat mental baca dan nonton berita. Kalau orang-orang ribut soal si neneknya, coba kita nengok ke anaknya. Adikku sayang, apa yang ada dipikiranmu sampai kamu ingin melakukan hal yang belum pantas untukmu? Ok, tahan pembahasan disini dulu ya. Saya mau cerita obrolan saya sama temen sekantor kemarin pagi. Saya saat ini bekerja di Yayasan Kita dan Buah Hati, silakan googling kalau ingin tahu lebih jelas, singkatnya yayasan ini didirikan dan dipimpin oleh pejuang yang memerangi pornografi di Indonesia sampai berhasil membuat RUU Pornografi dan Pornoaksi disahkan oleh DPR RI pada 2009 silam. Ibu Elly Risman, psikolog dan mahaguru-nya para pakar parenting di Indonesia.

Pagi itu, sambil nunggu jam masuk kantor, kami diskusi soal perilaku anak pra-remaja (8-12 tahun). Kantor kami kuat dalam hal riset. Semua materi yang dibawa oleh trainer kami, selalu based on research. Diskusi kami berlandas pada hasil riset Divisi Anak dan Remaja (DIAR). saya yang memulai diskusi karena saya sedang merapikan pekerjaan saya yang melibatkan data itu. Saya terbengong-bengong ketika membaca hasil riset DIAR terhadap anak SD kelas 5 dan 6 yang menampilkan data kualitatif mengenai persepsi dan pertanyaan anak tentang “pubertas”, “pacaran”, dan “seks dan perilaku seksual.” Bergidik bacanya. Ya Allah sayangku, kalian sudah tahu sejauh ini-kah? Bahkan ada beberapa istilah yang harus saya googling karena sebagai remaja usia 26 tahun saya gagal faham. Tak usahlah saya share disini ya.  Menariknya, hasil riset itu menunjukkan hasil yang berbeda signifikan antara persepsi anak pra remaja putra dan putri. Anak putra memiliki persepsi dan pertanyaan yang cenderung ‘liar’ daripada anak putri.

Singkat cerita, diskusi kami mengarah kepada mengapa polanya demikian. Sebelumnya, saya sempat membaca bahwa senyawa kimia (neurotransmitter) yang mengatur perasaan intim jangka pendek (maaf, libido) sangat berbeda dengan hormon yang mengatur perasaan intim jangka panjang (menjalin hubungan, atau anak jaman sekarang menyebutnya pacaran).

Yang mengatur perasaan intim jangka pendek adalah dopamin yang menimbulkan sensasi senang dan puas. Sedangkan yang mengatur perasaan intim jangka panjang adalah oksitosin, senyawa kimia yang sama dikeluarkan oleh ibu yang menyusui sehingga anak bayi bisa nempel sama emaknya dan merasa nyaman (lebih untuk memperkuat hubungan batin).

Dopamin adalah neurotransmitter yang diatur oleh kelenjar dalam otak yang disebut pituitari. Pituitari aktif karena apa? Karena ada rangsangan dari hipotalamus. Kenapa Hipotalamus mengaktifkan pituitari? Dia punya informasi dan menyampaikan pada pituirari. Informasi dapat dari mana? Dari apa yang kita lihat.

Ketika pituitari aktif, ia akan memerintahkan testis untuk menghasilkan testosteron. Testosteron ini yang menciptakan dorongan melakukan aktifitas seksual. Testosteron ini yang mengatur pituitari menghasilkan dopamin, sehingga ketika dorongan aktifitas seksualnya terpenuhi, dopamin ini akan dilepaskan dan menciptakan perasaan senang dan puas. Ovarium juga menghasilkan testosteron tapi dalam jumlah yang jauh lebih sedikit daripada testis dan itupun langsung dikonversi menjadi estrogen untuk mematangkan sel telur. Yang punya testis siapa? Anak putra kan? Jadi yang jumlah testosteronnya lebih banyak siapa? Anak laki-laki! Wajar ketika ada anak perempuan yang bertanya, “Kak, kenapa sih anak laki-laki suka ngeres?”

 

Maka menjadi sangat wajar ketika di usia yang sama, dengan paparan lingkungan yang sama, anak laki-laki menjadi jauh lebih sexually active daripada anak perempuan. Oleh karenanya pertanyaan putra mengenai seks dan seksualitas sangat liar dan jumlahnya mencapai 138 pertanyaan berbeda dari 50 responden. Sedangkan pertanyaan anak perempuan masih sangat lugu, selugu usianya dan lebih banyak mengenai “kapan sih pacaran dibolehkan?” Atau “menstruasi itu apa?” Dengan jumlah pertanyaan berkisar 30 jenis dari 50 responden.

Oh, ada data lucu, dari hasil riset mengenai pacaran, tidak ada satu persen-pun anak laki-laki yang bilang mereka pacaran. Sedangkan anak perempuan hasilnya 4% mereka bilang sedang pacaran. Jadi, jangan-jangan bocah-bocah tengik berkromosom XY itu tidak  mengakui pacarnya,  kasihan adik-adik yang perempuan, kalian tidak diakui, sayang.

Satu lagi, soal persepsi anak laki-laki dan perempuan tentang aktifitas pacaran. Man, anak putra jawabnya, “pegangan tangan, ciuman, pelukan, dan satulagi adalah kata yang tidak bisa saya tuliskan,” anak perempuan tidak ada seorangpun yang menjawab demikian.  Mereka jawab, “Pacaran itu perasaan saling menyayangi antara laki-laki dan perempuan; atau hubungan untuk sampai pada pernikahan.”

Bahkan kakak-kakak DIAR pernah nemu gambar : anak kecil pacaran, dikepala masing-masing ada baloon, baloon di kepala perempuan gambarnya ‘love-hati’, dan di balon di kepala laki-laki gambarnya apa? Gambar ‘love-hati’ juga, tapi dibalik. Okay, itu gambar apa? Sehingga, terbuktikan soal mekanisme kerja hormon? Jadi bilang sama adek-adek perempuan kita tersayang, “Honey, jangan mau deh ditipu-tipu sama kata pacaran.”

Kita lurus lagi. Ibu Risma bercerita, anak-anak yang menjadi pelanggan PSK adalah juga anak-anak yang telah terpapar lingkungan lokalisasi. Artinya, stimulasi anak-anak itu terhadap aktifitas seksual sudah tidak dapat difilter. Mereka sangat sexually active. Bayangkan, dalam kondisi demikian, sedangkan teman sebaya mereka (anak putri) masih belum kepikiran yang begitu-begituan, mau lari kemana anak-anak putra kita tersebut? Ya! Lokalisasi jawabannya. (LiputanIslam.com/ba)

Oleh: Miftahul ‘pipichan’ Hidayah, Alumni Biologi ITB angkatan 2004
Kita & Buah Hati Foundation

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*