Father-and-SonPendidikan dan pengasuhan anak umumnya dipandang sebagai tugas para ibu. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa peran ayah sangat dibutuhkan dalam pendidikan anak. Misalnya, jika seorang anak kurang sentuhan dari ayahnya, ia cenderung tidak dapat mengontrol gerakan sehingga bisa berperilaku lebih kasar.

Menurut seorang praktisi neurosains terapan, Anne Gracia, sentuhan ibu memang memiliki karakteristik dan sensasi yang lebih lembut bagi anak. Namun, anak harus diperkenalkan pula dengan tekanan sentuhan yang lebih keras dari sisi ayah agar dapat membedakan intensitasnya. “Sistem sensori anak akan selalu berkembang. Kalau hanya kenal sentuhan satu dari ibu saja, dia akan kaget. Ketika bertemu dengan temannya di sekolah, misalnya. Dia tidak bisa ukur beda berat gerakan. Misalnya, waktu salaman sama temannya, nanti dia malah seperti mau pukul muka. Itu karena dia tidak bisa ukur beda berat gerakan,” ujar Anne, seperti dikutip cnnindonesia.com.

Untuk mencegah hal tersebut, Anne mengimbau orang tua untuk memberikan sentuhan seimbang.

“Genggaman seorang ayah dan ibu beda. Dia akan tahu mana yang keras, mana yang lembut. Saat besar, dia bisa bedakan keras dan lembut dengan baik,” tutur Anne.

Jika seorang anak sudah memiliki kemampuan untuk membedakan lembut dan kasar, kognitif mereka pun akan berkembang.

“Rentang sentuhan, suara, dan gendongan yang berbeda membuat anak-anak jauh lebih siap cerdas,” kata Anne.

Pentingnya Peran Ayah

Psikolog Elly Risman, mengatakan bahwa ayah harus berperan dalam pengasuhan anak karena 3 alasan ini:

1. Karena tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak kita saat ini.
2. Ayah memiliki peranan sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.
3. Ayah adalah kepala keluarga.

Anak-anak yang tumbuh dengan komunikasi dan hubungan yang baik dengan ayah, serta sering berdialog dengan ayahnya, akan menjadi orang dewasa yang suka menghibur orang lain, punya harga diri yang tinggi, memiliki prestasi akademis di atas rata-rata, dan lebih pandai bergaul.

Sebaliknya, menurut Elly, jika ayah kurang memberikan perhatian dan kurang berdialog dengan anak, akibatnya fatal. Bagi anak perempuan, akibatnya adalah ia cenderung mudah jatuh cinta dan menyerahkan diri,  7-8 kali lebih mungkin memiliki anak di luar pernikahan, cenderung suka lelaki lebih tua, serta cenderung lebih mungkin menjadi single mother (bercerai dari pasangan).

Bagi anak laki-laki, akibatnya adalah ia lebih sering terlibat pornografi, narkoba, tindak kriminal, cenderung sexually active di usia yang lebih muda, cenderung bergabung dengan gang (genk motor, misalnya), cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa, dan lebih rentan terhadap tekanan teman sebaya.

Namun bila sosok ayah harus ‘tiada’, Elly menyarankan agar anak dikuatkan dengan pengasuhan yang berkualitas. Artinya, ibu harus berupaya lebih keras melindungi anaknya dari berbagai efek buruk ketiadaan ayah. Bila orang tua bercerai, upayakan  pertemuan antara anak dengan Ayah secara maksimal. Bahagiakanlah anak secara psikologis, bukan cuma fisik. Ingatlah bahwa perceraian itu adalah bercerainya Ayah dengan Ibu, bukan bercerainya Ayah dengan anak atau sebaliknya. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL