Jakarta, LiputanIslam.com– Rasa kantuk bagi banyak orang adalah salah satu godaan utama saat menjalankan puasa Ramadan. Dari selepas sahur hingga berbuka, selalu ada alasan untuk merasa lemas dan tidak bertenaga.

Bangun lebih pagi dari biasanya untuk menyiapkan makan sahur, adalah alasan pertama yang muncul dalam siklus ngantuk. Di hari-hari pertama puasa, tubuh masih beradaptasi untuk menyesuaikan ritmenya karena biasanya masih terlelap pada waktu-waktu tersebut.

Selepas makan sahur, apakah menjadi lebih bertenaga? Ternyata belum tentu juga. Lonjakan gula darah yang terjadi dalam 30 menit pertama setelah makan menjadi alasan kedua untuk merasa ngantuk!

Banyak yang memilih untuk melanjutkan tidurnya pada fase ini, alih-alih memulai lebih awal aktivitas sehari-harinya.

Saat di kantor, rasa kantuk akan kembali menyerang ketika menjelang waktu makan siang. Dalam 5-6 jam setelah makan sahur, cadangan glukosa sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi, akan mulai menipis. Ketika tidak sedang berpuasa, ini adalah waktu yang tepat untuk ngemil snack dan menyeruput secangkir teh manis. Selepas tengah hari, terkadang tubuh justru terasa lebih berenergi. Ketika itu, cadangan glukosa sudah benar-benar habis dan tubuh mulai mengubah sistem metabolismenya. Lemak yang memang berfungsi sebagai cadangan kalori, mulai dipecah-pecah menjadi keton untuk menggantikan glukosa.

Nah jika ada yang menyebut puasa sangat efektif menurunkan berat badan, maka mekanisme inilah yang bisa menjelaskannya.

Namun sumber energi dari lemak punya kekurangan dibanding glukosa, yang berasal dari hasil memecah-mecah karbohidrat. Molekul keton lebih besar dibanding glukosa, sehingga lebih sulit menembus barrier darah-otak. Akibatnya meski tubuh terasa lebih bertenaga, konsentrasi cenderung tetap menurun karena otak tetap kekurangan bahan bakar.

Sampai akhirnya tiba waktu berbuka puasa. Tubuh kembali mendapat asupan glukosa dan karbohidrat dari kurma, kolak, sop buah, dan sebagainya. Dan inilah yang akan membuat siklus ngantuk terus berlanjut. Lonjakan kadar glukosa atau gula darah akibat makan berlebihan saat berbuka, lagi-lagi bisa membuat salah Tarawih terganggu oleh rasa kantuk. (ra/detik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL