muddygirlJakarta, LiputanIslam.com–  Kalimat ‘Jangan, nanti kotor’ jangan sering diucapkan pada anak. Sebab, dampaknya anak bisa jadi ‘jijikan’ alias takut kotor.

Padahal dunia anak adalah dunia bermain, apalagi untuk anak-anak balita, mereka sedang sibuk-sibuknya bereksplorasi. Nah, salah satu konsekuensinya adalah mudah terkena kotoran. Jika anak ‘dikekang’ dengan peringatan ‘awas kotor’ bisa membuat anak takut bereksplorasi.

“Orang tua selalu bilang ‘jangan nanti kotor’, atau ‘jangan naik-naik, nanti jatuh,’ padahal semua pengalaman itu adalah pengalaman yang penting,” ujar psikolog anak, Najeela Shihab.

Sebaliknya dengan memberi kesempatan anak bereksplorasi maka anak menghadapi tantangan dan berusaha mencari penyelesaiannya. Dengan menaklukkan tantangan maka anak akan memiliki kematangan sensoris. Dampaknya kemampuan anak terkait baca tulis, memusatkan perhatian atau fokus, akan lebih mudah.

“Buat anak-anak kalau dapat kesempatan eksplorasi yang cukup sebenarnya indra-indra bisa optimal termasuk kemampuan sensorisnya,” lanjutnya. Membiarkan anak mengeksplorasi lingkungan juga bukan berarti membiarkannya begitu saja, tentu pengawasan orang tua tetap diperlukan. Karena bagaimanapun anak kecil belum tahu mana hal yang membahayakan dirinya dan yang tidak. Yang perlu diingat mengawasi tidak sama dengan mengekang.

Sebaliknya, anak yang kemampuan sensorisnya tidak matang sering kali mengalami masalah akademis. Untuk mengatasi ketidakmatangan sensoris yang berimbas pada munculnya masalah lain maka bisa diatasi dengan terapi sensoris.

Lalu kapan anak butuh terapi sensoris? Menurut perempuan yang akrab disapa Ela, perlu ada tes terlebih dahulu. Selanjutnya terapis akan memberi terapi sensoris intergrasi. Tapi perlu diingat, masalah sensoris bukan berdiri sendiri, sehingga bisa membutuhkan campur tangan pihak lain.

“Jadi kalau asa masalah akademik, pelu bantuan dari akademik, atau bantuan orang tua kalau ada masalah pola asuh. Jadi memang harus integratif biar nggak harus satu sisi aja,” tutur Ela.

Ela menambahkan jika hasil tes menunjukkan ada masalah sensoris, sehingga anak jadi under sensitive atau over sensitive, maka akan diberikan berbagai latihan tergantung masalahnya. “Misalnya kalau ada masalah keseimbangan, itu latihannya dengan trampolin. Yang sesederhana itu. Kalau sensoris, maka diberi berbagai jenis perabaan,” sambungnya. (ra/detik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL