LiputanIslam.com—Semua orang tua pasti tidak ingin anaknya mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, apalagi jika hal itu terjadi di zona nyaman sang anak seperti sekolah. Namun masalahnya, tidak semua anak mau dan bisa melaporkan perilaku buruk seperti bullying kepada orang tua.

Psikolog anak dan remaja, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi., Psi, juga mengatakan bahwa perubahan yang terjadi pada anak korban bullying tidak selalu terlihat dari luar.

“Seringnya anaknya kelihatan stres, murung, trus menghindari tempat, orang atau kejadian tertentu misalnya saat pesta ulang tahun temennya, dia nggak mau dateng,” ungkap wanita yang akrab disapa Nina itu.

Begitu pun saat anak diajak berkumpul dengan teman-temannya. Biasanya anak korban bullying memilih tidak kemana-mana daripada harus berkumpul dengan mereka. Ada pula yang sampai enggan ke sekolah.

“Anak kadang ketakutan sekali ke area tertentu. Nah jangan-jangan dia pernah mengalami bullying disana,” imbuh psikolog yang berpraktik di Klinik Terpadu Universitas Indonesia dan Tiga Generasi tersebut..

Perubahan juga terjadi pada pola tidur dan pola makan anak. “Korban bullying itu sering mengalami mimpi buruk. Kadang susah makan juga, tapi ada yang makannya jadi berlebihan. Ciri stres kan gitu, kalau nggak nafsu makan ya makannya berlebihan,” terang Nina.

Ditekankan ibu dua anak ini, untuk mengenali apakah seorang anak menjadi korban bullying atau tidak, orang tua diminta untuk sensitif terhadap perubahan anak sekecil apapun.

“Orang tua juga harus mengecek, bukan hanya dari si anak tapi juga temen-temennya. Atau bisa juga dlihat di kamarnya, karena kadang-kadang korban bullying ini suka barang-barangnya tiba-tiba hilang nggak jelas,” saran Nina.

Bila perundungan ini terlanjur terjadi, tindakan pertama yang harus dilakukan orang tua adalah mengusut pelaku bullying anak, bekerjasama dengan pihak sekolah.

“Di sini juga dibicarakan kira-kira apa yang bisa dilakukan bersama dengan sekolah. Kemudian kalau si anak sampai mengalami depresi, maka sebaiknya dikonsultasikan ke psikolog,” pesannya.

Nina menambahkan, agar anak tak terjebak dalam pergaulan yang keliru, orang tua harus memastikan geng atau kelompok yang diikuti anak bersifat positif, atau murni karena pertemanan, bukannya malah merusak pribadi anak lain yang masih polos. (ra/detik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL