love 4Secara material, kebutuhan dan pendapatan seseorang jelas berbeda – beda. Karena mustahil setiap orang memiliki taraf kehidupan yang setara. Berdasarkan itu, seyogyanya setiap keluarga mengetahui jumlah pendapatannya secara rinci agar dalam memanfaatkannya tidak sampai melampaui jumlah pendapatannya. Kita dapat mengatakan “Tidaklah logis jika seseorang berusaha berutang kesana kemari hanya demi melengkapi kehidupan rumah tangganya dengan hal –  hal yang tidak penting.”

Wahai wanita terhormat, Anda adalah nyonya rumah. Jadilah insan yang cerdas dan janganlah melelehkan air muka suami dan keluarga Anda dengan berutang. Ketahuilah, hasil perbuatan ini sangatlah buruk. Janganlah Anda mengikuti kebiasaan orang lain yang memiliki pendapatan yang lebih besar dari suami Anda. Tak jarang, Anda begitu ingin memiliki pakaian nan indah yang dikenakan seorang wanita.

Padahal, pakaian tersebut sungguh tak terjangkau isi dompet  Anda. Pupuskanlah hasrat Anda untuk memilikinya dan jangan memaksakan kehendak dengan berutang. Kalau Anda menjumpai rumah tetangga Anda lebih bagus dan asri, janganlah memaksa suami Anda untuk menjadikan rumah tangga Anda seperti milik tetangga itu.

Demikian pula halnya dengan permadani yang mahal serta segenap kebutuhan non- esensial lainnya. Sebabnya, semua itu akan menggiring dan mengkondisikan Anda untuk membelinya dengan cara kredit atau berutang, atau lebih dari itu meminjam uang dengan cara haram. Apakah masuk akal, demi hidup mewah Anda terbelit hutang?

Camkanlah, perbuatan semacam itu, kalau acap kali dilakukan, akan menjadikan orang yang selalu berkata benar berubah menjadi orang yang selalu berbohong dan bertindak di luar koridor syariat. Bisakah dibenarkan seseorang yang membangun rumah tangganya dengan membeli segenap hal yang tidak perlu dengan cara berutang?

Bukankah sebaiknya, wahai para wanita mulia. Anda bersabar barang sejenak sampai keaadaan ekonomi keluarga Anda membaik? Jelas ketika keadaan ekonomi sudah stabil, Anda bisa membeli apa – apa yang diinginkan. Pada umumnya, hidup bermewah- mewahan, berlebih – lebihan dan memboroskan uang bersumber dari keinginan sebagian wanita yang merasa bangga di hadapan teman- temannya berkaitan dengan segenap pajangan mahal nan indah yang terdapat di dalam rumahnya. Inilah sumber kebodohan.

Kadangkala seorang wanita memaksakan dirinya untuk cepat cepat menikah walau dengan cara berutang. Padahal, semua itu dilakukan lantaran didorong oleh keinginan untuk memamerkan kepada tetangganya bahwa dirinya mampu membeli sesuatu yang berharga dan mahal. Tidak jarang, rumah tangga seseorang ambruk lantaran banyaknya utang: sang suami dengan penuh terpaksa meninggalkan keluarganya agar terbebas dari berondongan tuntutan istrinya, atau bunuh diri agar terlepas dari kesengsaraan.

Wahai para wanita yang menjadikan pernikahan sebagai pemenuhan tuntutannya! Yakinlah bahwa Anda mustahil menggapai cita cita tersebut. Keadaan semacam itu hanya akan terwujud kalau Anda kembali ke rumah orang tua Anda dan menyusahkan mereka seumur hidup. Setelah Anda menjauhkan diri dari kenikmatan cinta kasih hidup berkeluarga , ketahuilah, tak seorangpun laki- laki yang sudi berdiri di depan pintu rumah kedua orang tua Anda untuk melamar Anda kedua kalinya. Berdasarkan pengalaman, kebanyakan  wanita yang bercerai dari suaminya tidak lagi memiliki peluang untuk menikah kedua kalinya. Kalau sudah terlanjur bercerai, anggaplah Anda akan menikah lagi. Namun, darimana Anda tahu bahwa kepribadian laki laki yang menikahi Anda jauh lebih baik daripada suami Anda pertama?

Rasulullah saw bersabda;

“Ketahuilah bahwa setiap kebaikan yang dilakukan wanita yang membiarkan dan membebani suaminya dengan sesuatu di luar kemampuannya, tidak akan diterima Allah Swt. Allah akan menemuinya dalam keadaan murka.”

Dikutip dari buku Hak Suami dan Istri karya Prof Ibrahim Amini. (liputanislam.com/AF)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL