happy-malaysian-coupleSetiap manusia tentu akan cinta kasih dan berharap menjadi orang yang dicintai selainnya. Ini disebabkan hati manusia hanya dapat hidup dengancinta kasih.  Siapapun yang mengetahui dirinya tidak disukai orang lain niscaya akan merasakan kesendirian yang menggigit. Dalam keadaaan demikian, ia nampak seperti orang bodoh dan malas.

Wahai para wanita yang terhormat, sesunggguhnya suami Anda tidak akan terbebas dari perasaaan seperti ini. Suami Anda tentu merasa haus akan cinta kasih. Sebelum menjalin hubungan denganAnda, ia hidup dalam naungan cinta kasih orang tuanya. Dan setelah menikahi Anda, tentu ia berada dibawah payung cinta Anda. Ia pasti mengharap dan mendambakan cinta kasih Anda sebagai ganti cinta kasih yang hilang dari kedua orang tuanya. Siang dan malam, suami Anda bekerja demi menyenangkan dan membahagiakan Anda. Ia senantiasa memberikan hasil jerih payahnya kepada Anda dengan penuh keikhlasan. Ia adalah teman hidup, penghibur sehari -hari, dan pelipur lara Anda. Ia merasa lebih berbahagia berada di samping Anda ketimbang berada di samping orang tuanya. Maka dari itu, pahamilah kedudukannya dan cintailah dirinya dari dalam lubuk hati Anda. Kalau Anda melakukannya, ketahuilah ia pasti akan merasa terikat dengan Anda.

Sebabnya, tali pengikat memiliki dua ujung. Dan hati yang mencintai akan merasakan sesuatu yang mencintainya. Hati semacam itu ibarat pengemudi yang menghantarkan aeseorang ke tujuannya. Anda harus tahu bahwa memperlihatkan rasa cinta akan menciptakan mukjizat yang menakjubkan.

Alkisah, seorang pemuda desa –usianya saat itu 20 tahun bertolak menuju Teheran untuk belajar. Hatinya terikat dengan wanita pemilik rumah yang ditempatinya. Sang wanita adalah janda yang umurnya telah mencapai 39 tahun. Hati pemuda tersebut telah dilumuri perasaan cinta terhadap wanita tersebut.
Maklum saja, rasa haus akan kasih sayang itu timbul lantaran dirinya meninggalkan kedua orang tuanya yang selama ini mengasihinya. Jalinan cinta kasih pada gilirannya akan menjadikan pasangan suami istri selalu saling berbagi (suka maupun duka). Kalau sudah demikian, niscaya bangunan rumah tangga yang dibina kian lama kian menguat dan mengokoh. Bahaya perceraian pun akan lenyap selama-lamanya.

(Dikutip dari buku Hak Suami dan Istri karya Prof ibrahim Amini, hal 27 sd 28)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL