elly

Sumber foto: detik.com

 

LiputanIslam.com — Predator seksual di sekolah seperti yang terjadi pada kasus sodomi murid TK Jakarta International School (JIS) biasanya menyasar anak yang cenderung pemalu dan pendiam. Anak bisa dilatih untuk tegas bila ada orang asing atau dewasa yang mencoba menjamah tubuhnya.

“Predator itu biasanya orang yang cari anak yang cenderung lemah, malu-malu, pendiam, bukan yang berontak atau suka bergerak,” kata psikolog parenting dan pendidikan anak dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman.

Hal itu disampaikan Elly saat dihubungi detikcom, Rabu (16/4/2014). Bila malu-malu dan pendiam itu memang sudah menjadi karakter anak, orang tua bisa menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri sang anak.

“Anak dari kecil harus mendapatkan cinta dan kasih sayang. Sense of security atau rasa aman, itu dulu,” jelas Elly.

Kemudian, buat anak merasa dirinya berharga dengan mengucapkan kata-kata positif. Kata-kata positif itu, bisa menumbuhkan kepercayaan diri yang kokoh dalam diri sang anak.

“Anak mama, buah hati mama, anak ayah dari ujung rambut dan ujung kaki, sangat berharga lebih dari apapun di dunia ini,” imbuhnya. mencontohkan.

Ajarkan juga anak tentang rahasia, perbedaan rahasia baik dan buruk. “Rahasia baik itu seperti, ‘Kalau kamu nakal dibilangin sama kakak lo, nanti nggak dikasih cokelat’. Sedangkan rahasia buruk itu yang mengandung ancaman seperti ‘Jangan kasih tahu orang tuamu, kalau tidak akan bunuh kamu'” contoh perempuan berjilbab ini.

Tak kalah penting ajarkan juga berbagi rahasia dengan orang tua. Berbagi rahasia ini penting karena bisa terbiasa bercerita dan melapor bila ada yang terjadi pada dirinya.

“Latihan untuk buat anak tegas dan berani. Misalnya kalau ada orang yang memegang badan atau bahunya anak bisa dilatih mengatakan ‘Jangan seenaknya pegang-pegang badanku, nggak boleh tahu!’ atau ‘Aku nggak suka bahuku dipegang!’. Nah orang akan berpikir ‘Gila nih anak berani’,” tutur Elly.

Elly juga mengimbau tidak masalah mengajarkan anak berbohong demi keselamatan sang anak. Misalnya, ada orang asing yang menyentuh organ vital sang anak.

“Bilang saja, aduh maaf ya saya mau pipis. Ayah izinkan kamu berbohong untuk keselamatanmu,” kata dia mencontohkan.

Latihan-latihan tadi, mesti dilakukan orang tua setiap hari. Saat anak hendak berangkat ke sekolah, orang tua mengatakan hal-hal positif pada sang anak. Sedangkan saat pulang sekolah, orang tua bisa mengajak anak bercerita, apa seharian yang dirasakan dan ditemuinya di sekolah.

Dari cerita sepulang sekolah, orang tua bisa mengamati perubahan ekspresi sang anak, apakah cemberut, sedih atau bahagia. Amati juga laku fisiknya, apakah ada yang ganjil.

“Jadi satu lagi, tiap hari kita pulang kita tanya perasaannya apa yang kamu rasakan hari ini, apa yang kamu temui, kalau kelihatannya sedih, atau takut, coba bermain tebak perasaan ‘Kamu sedih atau takut sayang'” imbuhnya.

Komunikasi dan kejelian serupa seharusnya juga dilakukan oleh guru-guru di sekolah, rumah kedua sang anak. “Misal kalau mau pipis ke kamar mandi, kalau nggak diantar, kan bisa dilihat, anak keluar loncat-loncat, balik dari kamar mandi apa berubah mimik wajahnya, cara berjalannya,” jelas dia.

Menurut Elly, kini tak ada tempat yang benar-benar aman untuk anak-anak. Dari hasil analisa yang yayasannya lakukan terhadap berita internet menunjukkan bahwa kekerasan seksual di 11 provinsi di Indonesia malah terjadi di rumah dan berasal dari orang-orang terdekat.

Bila semua usaha telah dilakukan, maka selebihnya mendoakan sang anak agar selalu dilindungi Tuhan. “Kalau umpamanya ada anak 6 tahun, seorang perempuan dewasa dan 2 laki-laki tegar yang berniat buruk di luar, apa yang bisa kita lakukan setelah semuanya itu? Kita tinggal berserah pada Allah, kita berdoa agar Allah melundungi anak kita dan keluarga agar dijauhkan pada kejahatan dan orang-orang jahat,” pesan Elly mengkhiri. (ba/detik.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL