lgbt-symbolJumlah Muslim (laki-laki dan perempuan) di Indonesia yang mempunyai orientasi SSA  atau orientasi biseksual menjadi misteri tersendiri. Hal itu akan terus menjadi tanda tanya karena sudah menyangkut urusan jiwa.

Sebagai orangtua, kita tidak pernah tahu secara nyata orientasi seks anak-anak kita, kecuali mereka mengakuinya sendiri. Lantas, bagaimana orangtua berusaha meraba orientasi seks anak sejak dini? Bagaimana apabila anak memiliki orientasi seks sejenis atau biseksual, bahkan sudah melakukan tindakan homoseksual?

Kita bisa perhatikan anak-anak ketika berusia sekitar tiga tahun, saat sudah mengenal baik teman-teman bermain. Pola pikir dan tindakan mereka dapat menggambarkan arah orientasi seks mereka.

Sebagai contoh, anak sulung kami (laki-laki) yang bernama Ahza. Sejak dia duduk di bangku PAUD pada umur dua tahun, kami berusaha mengamatinya. Sampai umur enam tahun dia suka sekali melihat anak-anak wanita yang cantik menurutnya. Pada umur anam tahun dia mengatakan ingin memberi bunga pada salah sat teman wanitanya. Dugaan sementara kami, Ahza mempunyai orientasi seks heteroseksual.

Contoh lainnya yaitu anak kedua kami (wanita) bernama Kayyisa. Pada umur empat tahun dia sudah suak sekali menyebut nama salah satu teman PAUD-nya yang bernama Adam (laki-laki) sambil tersenyum malu. Kadang-kadang kami tanya lebih dalam, dengan siapa mereka bermain dan kenapa. Dugaan sementara, Kayyisa juga mempunyai orientasi heteroseksual.

Deteksi ini dilakukan tanpa bertanya kepada anak. Cukup amati, kemudian ambil hipotesis (dugaan sementara). Deteksi ini bermanfaat untuk memantau perkembangan anak-anak, ermasuk orientasi seks yang mereka miliki. Jika orangtua merasa ada yang tidak beres pada anak-anak, orangtua dapat bertanya pada ahlinya. Orangtua dapat membantu mereka memahami apa yag mereka rasakan.

Karena orientasi ini menyangkut kejiwaan seseorang, sebaiknya kita berhati-hati dalam menyikapi apapun keadannya. Jangan sampai anak menjauh datau membenci orangtua karena salah komunikasi, misalnya menuduh secara sepihak.

Sangat sulit mendeteksi laki-laki atau wanita yang mempunyai SSA aau bahkan gay (namun tidak dipublikasikan). Hal ini karena secara biologis dan penampilan, mereka seperti orang pada umumnya (heteroseksual).

Perilaku (sikap, tingkah laku, tutur kata, gaya bicara, dan sebagainya) laki-laki heteroseksual terbagi menjadi dua kelompok, yaitu cenderung maskulin (macho) dan feminim. Ada laki-laki yang berpenampilan seadanya, tetapi tidak sedikit juga yang suka bersolek. Ada laki-laki yang berbicara keras dan tegas, tetapi cukup banyak juga yang bersuara rendah lagi merdu mendayu. Coba perhatikan laki-laki di sekitar Anda, pasti terbagi menjadi dua kecenderungan tersebut. Hal yang sama juga ada pada wanita.

Hal ini juga berlaku pada orang dengan SSA. Perilaku mereka pun terbagi menjadi dua kecenderungan, yatu maskulin dan feminim. Contohnya penyanyi internasional Ricky Martin. Siapa yang mengira dia adalah seorang gay? Dia begitu gagah perkasa serta maskulin. Beribu gadis ingin disunting olehnya. Namun, dia memilih hidup dan bercinta dengan sesama jenis. (liputanislam.com)

*dikutip dari buku “Anakku Bertanya tentang LGBT” oleh Sinyo.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL