anak main internetOleh: Bunda Fadiya, Mantan pendidik, Ibu Rumah Tangga, Praktisi Bisnis Online

LiputanIslam.com – Saya merasa terpanggil untuk sedikit berbagi tips bagaimana berinternet yang sehat dan mencerdaskan, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk keluarga terutama anak-anak. Fakta bahwa internet menjadi resource yang terdepan di era digital adalah hal yang tak terbantahkan. Bila butuh info mulai resep masakan, tips menyusui, peluang bisnis, mencari update berita nasional hingga dunia bahkan tentang seputar aspek religi semua mengarah ke internet.  Dan tentu saja sumber terbesarnya adalah search engine seperti Google, Yahoo dan media sosial dimana orang dengan bebas berbagi aneka informasi maupun opini ke publik.

Memasuki dunia maya juga butuh panduan, agar kita bisa tidak sesat dalam rimba informasi yang tak jelas batasnya. Kalo cuma salah dalam mempraktekkan resep masakan, mungkin tidak akan sampe fatal efeknya. Tapi kalau informasi yang kita dapatkan hingga menjadi sebuah keyakinan dan kita anggap sebagai sebuah kebenaran—apalagi menganggapnya kebenaran final, wah bahayanya luar biasa.

Beberapa minggu terakhir ini, sebagai seorang ibu yang memiliki anak-anak usia remaja yang juga sudah mulai menjadikan internet sebagai sumber data, informasi, sekedar sosialisasi di medsos atau browsing cari game, saya sangat miris dengan fenomena maraknya situs bermuatan radikalisme, sadisme dan informasi-informasi menyesatkan yang sering lebih pantas dikatakan fitnah – hadir di hadapan anak-anak melalui internet.

Gambar-gambar horor yang bertaburan tentang kesadisan ISIS dengan membawa bendera-bendera hitam bertulis kalimat tauhid. Video-video eksekusi mati terhadap lawan dan kebrutalan militan ISIS.

Mungkin ada yang bilang, “Apa bedanya dengan situs-situs porno,video-video asusila atau link-link jorok ? Hal itu kan juga berbahaya.”

Tentu saja. memang  sama berbahayanya. Tapi kalau untuk situs-situs asusila rasanya sebagai orang tua tidak akan ada beda pendapat untuk melindungi keluarga dari bahaya pornografi.

Tapi bagaimana dengan seruan “jihad” dan adegan-adegan sadis berhias ajakan jihad dan kalimat tauhid atau pekikan takbir? Mungkin orang tua sedikit banyak ada yang akan berbeda pandangan. Kita mungkin akan sepakat untuk memasang software pengaman di komputer kita untuk memblokir situs-situs pornografi. Tapi apakah kita sepakat juga untuk memblokir situs-situs penyeru kekerasan dan ajakan berjihad yang salah kaprah yang mengajak anak-anak kita melakukan perbuatan barbar seolah manusia tak beragama dengan dalih perintah Allah?

Sebagai seorang ibu, saya ingin mengajak ibu-ibu yang lain juga siapapun yang merasa peduli dengan betapa pentingnya menjaga anak-anak kita, generasi penerus ini dari bahaya seruan radikalis berdalih agama. Sebelum segalanya terlambat seperti apa yang terjadi pada Wildan, salah satu anggota ISIS yang akhirnya mati di Irak.

Sebelum kita terperangah kaget, manakala anak kita pergi tak kembali, dan tanpa diduga sudah ada di Suriah dan menjadi salah satu pemenggal kepala sesama manusia. Kekhawatiran itu bukan hanya kisah seram yang saya sebar-sebarkan, tapi ada pengalaman nyata.

Tempo hari ada seorang ibu yang menangis tersedu-sedu, karena putra nya berkeras hendak berangkat ke Suriah seusai lebaran dengan alasan hendak jihad. Inspirasinya adalah ketika dia mendapatkan penggalan-penggalan cerita bahwa di Suriah adalah ladang jihad untuk memerangi musuh Allah, kaum kafir, yang jika mati, maka matinya akan menjadi syahid.

Tengoklah beberapa akun Facebook anak-anak usia SMP, yang kebetulan adalah putra-putra teman, saudara atau kerabat yang ketika kita monitor mereka menjadi follower beberapa situs-situs penyeru radikalisme. Bagaimana dengan lugunya anak-anak ini men-share gambar-gambar brutal kepala-kepala manusia yang terpenggal dan tertancap di tonggak-tonggak pagar taman kota di Suriah.

Gambar-gambar gerombolan manusia yang menyembelih manusia lain seperti layaknya binatang ternak, atau bahkan saling berbagi video berisi adegan mengerikan yang bahkan di film Hollywood pun akan disensor. Astaghfirullah…

Bbahkan mereka berdiskusi sendiri dan menyimpulkan sendiri, bahwa semua adegan tadi sebuah keharusan sebagai seruan menegakkan Islam. Apakah seperti itu ajaran agama yang hendak kita tanamkan pada anak-anak kita, yang kelak kita harapkan kiprahnya untuk umat ini.

Apakah kita membiarkan anak-anak kita dibiarkan tanpa bimbingan dicetak menjadi prajurit-prajurit Dajjal oleh media sesat yang sengaja ingin menghancurkan Islam dari dalam ? Naudzubillahi min dzalik.

Wahai Ibunda, seandainya ada diantara kita, orang tua yang  ingin agar anak-anak  tidak usah mengakses dunia maya, maka itu rasanya hampir mustahil. Internet dan berbagai kemajuan teknologi informasi adalah sebuah fakta yang tidak bisa ditolak.

Harapan agar anak-anak tidak usah mengakses internet juga terlalu naif, internet dengan segala aksesnya memang ibarat pedang bermata dua, di satu sisi membawa manfaat,disisi lain membawa bencana. Tapi menurut saya pribadi, teknologi hanyalah teknologi, positif atau negatifnya tergantung pada bagaimana kita bisa mengontrol dan memanfaatkan penggunaannya.

Kita lihat sisi positifnya, bagaimana seorang anak SMA sudah bisa mandiri untuk mendapatkan penghasilan dari kemampuannya menjual produk online, atau make money online yang memang tidak bisa dipungkiri peluangnya sangat luar biasa. Atau bagaimana anak usia 7 tahun, bisa belajar sendiri menguasai bahasa Inggris dari situs Learning English Online. Juga cerita seorang penulis cilik yang memulai menulis dari blog pribadinya, hingga menghasilkan karya buku-buku cerita yang populer.

Contoh  manfaat paling sederhana adalah bagaimana anak-anak bisa belajar kelompok bahkan hingga malam hari tanpa harus berkumpul dan janjian diluar rumah, itulah yang selalu dilakukan anak-anak kami. Dari grup di Facebook mereka saling berbagai informasi tugas sekolah, koordinasi kegiatan-kegiatan, bahkan mendiskusikan pelajaran-pelajaran yang kurang dipahami disekolah, bukankah itu juga manfaat?

Tentu saja yang utama adalah pendampingan orang tua atau dalam pengawasan orang dewasa yang bisa mengarahkan dengan benar.

Kesimpulannya tidak perlu alergi dengan teknologi andai kita sendiri mampu mengarahkan teknologi itu untuk tujuan mulia. Maka saya mengajak kita sebagai orang tua untuk ikut bertanggung jawab dalam menjaga dan memantau putra-putri kita untuk berinternet yang sehat dan manfaat. Tips praktisnya adalah sebagai berikut :

1. Untuk memproteksi anak agar tidak bisa mengakses situs-situs terlarang, baik radikal maupun pornografi, kita bisa meng-install software khusus di komputer atau laptop kita agar bisa memblokir situs-situs tersebut.

2. Jadilah salah satu friendlist mereka, bila mereka membuka akun di media sosial semacam Facebook, Path, Instagram dll, tujuannya adalah agar kita bisa memantau siapa saja teman-teman mereka, situs-situs, forum atau tokoh maupun institusi yang mereka ikuti.

3. Tanamkanlah pada mereka ajaran-ajaran Islam yang penuh keadilan, kesholehan dan yang utama ceritakanlah betapa lembutnya junjungan kita Nabi Muhammad memperlakukan sesama manusia, baik yang non-Muslim terlebih lagi yang Muslim.

4.Komunikasi yang intens dengan anak adalah sebuah keharusan, agar mereka lebih mempercayai kedua orang tuanya daripada orang-orang diluar sana. Tanamkan pada mereka bagaimana bisa senantiasa menjadi Muslim yang baik dimanapun kita berada, taat perintah-Nya, patuh dan sopan pada kedua orang tua, sehingga mereka punya kendali diri disaat jauh dengan orangtuanya, namun ikatan dengan keluarga khususnya kedua orang tuanya juga terjalin baik.

5. Sebagai orang tua kita hendaknya terus meningkatkan kemampuan kita dalam mencerna sebuah informasi terutama dari dunia maya, membedakan mana yang fitnah mana yang fakta, mana yang nyata dan mana yang hoax, mana yang foto editan dan yang asli, mana ide yang merusak dan mana ide yang membangun, sehingga kitapun bisa menunjukkan pada anak kita yang hak dan yang batil, yang manfaat dan yang mudharat.

————————
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Keluarga. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL