ayah edyLiputanIslam.com — Euphoria Pilpres kali ini memang luar biasa. Tua muda, pria wanita, dari buruh hingga direktur ramai-ramai membicarakan calon pemimpin. Masing-masing, mengagungkan pilihannya, dan tak jarang menjatuhkan lawan dari jagoannya. Dan aksi bully pun merebak dimana-mana, termasuk di media sosial.

Ayah Edy, seorang penulis yang konsen di dunia pendidikan anak-anak, mengungkapkan bahwa perilaku suka mem-bully ini berasal dari kebiasaan dalam keluarga. Karenanya, Ayah Edy menitipkan pesan yang diunggah di jejaring sosial. Berikut pesannya:

Sahabatku,

Mari terus berusaha untuk memperbaiki diri untuk tidak melakukan “bullying” pelecehan atau kekerasan kepada anak-anak kita sekecil apapun.

Karena jika kita tidak mau memperbaiki diri kita, maka perilaku ini akan di contoh oleh anak-anak kita dan akan terus di wariskan dari generasi ke generasi.

Apa buktinya ?

Lihatlah proses pencalonan Presiden kali ini; sangat sarat akan bully mem-bully antara satu kelompok pendukung dengan pendukung lainnya.

Rupanya tradisi mem-bully ini telah melekat dalam di pikiran kita tanpa sadar dan secara spontan di pertontonkan melalui media termasuk media sosial ini.

Sehingga tampak jelas bahwa tradisi mem-bully lebih mendominasi dari pada tradisi unjuk prestasi kerja dari kedua kelompok pendukung capres ini.

Dan ternyata tradisi saling membuly ini bukannya di hapuskan oleh sekolah-sekolah yang mengaku lembaga pendidikan, tapi malah di lestarikan melalui proses perpeloncoan mulai dari mahasiswa (zaman kita dulu) dan sekarang sudah merambah hingga para calon pelajar SMP oleh para seniornya.

Padahal bagi kita umat beragama, agama apapun sudah sangat jelas bahwa bully sekecil apapun itu dilarang,  Dan bahkan jika kita merujuk pada ajaran Islam, jangankan membully, berkata-kata keras saja tidak di izinkan oleh Rasulnya, mengejek atau mengolok-olok untuk tujuan bercanda saja dilarang.

Sahabatku,
Kita tidak akan pernah bisa mengubah kondisi ini kalau hanya mengaharapkan orang lain-lah yang harus berubah lebih dulu.

Ayo mari kita mulai perubahan
Mulai dari kita dan keluarga kita terlebih dahulu
Mulai dari hal-hal kecil yang kita bisa ubah
Mulai sekarang juga

Kalau bukan kita mau berharap pada siapa lagi ?
Kalau bukan sekarang mau kapan lagi ? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL