talkingwithsonDalam proses mendidik anak, ada perbuatan-perbuatan anak yang boleh mendapat imbalan dalam bentuk material. Tujuannya untuk memotivasi mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat sukarela dan hal-hal yang memang tidak dapat dipaksakan. Meskipun demikian, tidak ada salahnya memotivasi pekerjaan tesebut dengan ungkapan pujian, sepotong permen, doa yang baik, atau dengan hadiah simbolis. Semua itu juga dengan catatan bahwa si anak telah mencurahkan tenaga secara tulus an berusaha melakukan pekerjaan tersebut sebaik mungkin dan tidak gegabah.

Akan tetapi, tetap tidak boleh dilupakan bahwa prinsip umum yang harus dipraktikkan adalah tidak boleh memberikan imbalan kepada anak untuk perbuatan yang memang merupakan kewajiban. Cara seperti itu akan membuatnya menjadi orang yang pragmatis dan materialis. Ia tidak akan melaksanakan ssuatu kecuali jika ada imbalannya. Para pendidik Muslim telah mengakui bahwa tidak dibenarkan memberikan imbalan bagi setiap pekerjaan yang dilakukan oleh anak, terutama jika pekerjaan yang dilakukannya itu merupakan tugas dan tanggung jawabnya. Tujuannya agar imbalan itu tidak menjadi suap (risywah) sehingga menghilangkan nilainya sebagai pemotivasi perilaku yang baik.

Meskipun demikian, banyak orang tua yang melakukan kesalahan dengan banyak mengumbar janji secara berulang-ulang kepada anaknya, “Kalau kamu lakukan ini, nanti diberi anu.” Banyak di antara mereka yang melakukannya secara berlebihan sehingga tidak ada satu pun pekerjaan anak (sepeti mengerjakan PR, berhenti berteriak, makan, atau minum susu) yang dilakukan tanpa upah. Hal itu terjadi berulang-ulang sehingga makna imbalan berubah menjadi suap untuk menjamin bahwa si anak melakukan perbuatan yang manis atau berhenti dari perilaku yang buruk.

Jika berkelanjutan, pekerjaan yang menjadi kewajiban anak akan kehilangan esensinya. Nilainya tinggal sebatas keuntungan materialnya saja. Pada gilirannya, si anak akan kehilangan semangat untuk jika suap itu berhenti atau terancam berkurang.

Jika sejak belia si anak sudah terbentuk dengan mentalitas seperti itu, pengalaman itu akan memengaruhi segala sikap dalam kehidupannya pada masa mendatang. Bahkan, anak yang oleh keluarganya dibiasakan dengan suap untuk berhenti berteriak-teriak dan menganggu atau agar si anak mau makan, ia akan menjadikan perilaku itu sebagai senjata untuk melakukan tekanan dan mengancam orang tuanya agar memberikan apa yang ia inginkan.

Dalam rangka menanamkan perilaku positif pada anak, seharusnya kita menanamkan nilai-nilai mentalitas yang benar bahwa pekerjaan-pekerjaan hendaknya dilakukan dalam rangka mencari ridha Allah, membuat orang senang, membuat bahagia orang tua dan guru, mendapat kepuasan jiwa, dan menumbuhkan sikap percaya diri. (liputanislam.com)

*dikutip dari buku “20 Kesalahan dalam Mendidik Anak” oleh Muhammad Rasyid Dimas.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL