Kata-kata orangtua terhadap anak, khususnya pujian, dampaknya sangat besar dalam membentuk sikap, harga diri, karakter, perilaku dan kebiasaan seorang anak.

Pujian dapat mendorong perilaku anak tumbuh bagaikan benih tanaman di kebun. Setiap kali anak menghadapi situasi yang sama, ia bisa mengetahui sedikit lebih banyak perilaku apa yang sesuai yang seharusnya ia lakukan, apa yang akan membuatnya dapat pujian, atau berhasil dalam hidupnya.

Pada akhirnya, apa yang dilihat dan dipuji orangtua dalam berbagai kejadian sehari-hari, atau untuk jenis perilaku tertentu anak yang ingin disemangati, itu dikemudian hari akan membentuk harga diri anak, dan tumbuh menjadi kebiasaannya, menjadi kualitas pribadinya.

Ketika Anda memuji anak karena ia sopan, atau perhatian kepada Anda, atau bersikap dewasa, atau menjadi teman baik Anda, berarti Anda menawarkan sesuatu yang berdampak besar pada dirinya. Sedikit demi sedikit, kata-kata pujian orangtua menjadi bagian dari cara berpikir anak mengenai dirinya sendiri.

Sebaliknya, seandainya seorang anak tidak pernah dipuji, selalu dicerca, dicemooh dan dikritik, maka nantinya ia akan menjadi orang yang selalu ragu-ragu. Ketika anak tersebut menjadi dewasa, ia tidak akan memiliki perasaan positif mengenai dirinya sendiri. Ia cenderung memandang dirinya secara negatif, serba tidak bisa, atau memandang dirinya tidak berharga.

Oleh karena itu, orangtua perlu menyemangati perasaan positif harga diri anak mereka. Menumbuhkan rasa harga diri anak merupakan salah satu tanggungjawab terpenting orangtua, jika mereka ingin memiliki anak yang bahagia, dan agar ia juga menjadi orang dewasa yang bahagia kelak di kemudian hari. Dalam hal ini, pujian benar-benar bekerja!

Ingatlah kembali sewaktu anak Anda mengatakan kata pertamanya: “Mama … ” Dengan sangat bahagia Anda pun menyemangatinya: “Katakan itu lagi, katakan ‘Mama’ …” Dan katakan Ayah, Nenek, Bibi, Paman, Kakak, dan sebagainya. Saat itu anak merasa mendapat perhatian dan yang terdapat di balik perhatian itu adalah pujian.

Begitu juga ketika pertama kali anak Anda bisa berjalan. Anda juga memberi lebih banyak dorongan dan pujian.

Dorongan semangat untuk mengucapkan sebuah kata akan mengarahkan anak untuk mengatakan beberapa kata lainnya. Dorongan semangat yang diberikan kepada anak sewaktu ia pertama kali berjalan akan mengarahkan usahanya untuk melangkah beberapa langkah lagi, walaupun dengan terjatuh-jatuh.

Namun bagaimana dengan kemampuannya yang tidak terlihat yang juga merupakan bagian dari tumbuh-kembangnya anak? Kita sayangnya kurang menaruh perhatian pada kemampuan yang tidak nampak, seperti: kebaikan hatinya, kepeduliannya, kejujurannya, rasa humornya, kepekaannya terhadap orang lain, dan sebagainya.

Jika kita mengetahui bahwa belajar berjalan dan berbicara, serta belajar mengikat tali sepatu dan makan dengan baik, dapat diberi dorongan semangat dengan pujian dan perhatian, mengapa yang lainnya tidak? Sesungguhnya, Anda bisa membuat semuanya itu terjadi pada anak Anda.

Teori Charles Darwin mengenai seleksi alam tidak dapat diterapkan dalam perilaku anak: perilaku yang baik akan survive dan perilaku jelek lenyap. Sama sekali, tidak berlaku demikian. Para orangtualah yang harus melakukan penyeleksian dan penolakan ketika membesarkan anak, untuk memilih perilaku yang ingin mereka pertahankan dan perilaku yang hendak mereka lenyapkan.

Kita ingin anak kita bahagia. Kita menginginkan apapun yang terbaik untuk mereka. Kita juga ingin memberikan kepada anak apa yang menurut kita akan membuat mereka bahagia. Lalu karena ingin anaknya bahagia, banyak orangtua mengalah dan membelikan semua permintaan anak-anaknya. Padahal, benda-benda material itu bukan merupakan cara mendidik anak menjadi bahagia.

Karenanya, orangtua perlu berhati-hati menerapkan perasaan cintanya. Jika salah kaprah, justru dapat membuat anak terdorong menjadi seseorang yang tidak menyenangkan atau berperilaku buruk. Jangan hanya dengan alasan “karena cinta anak”, lalu Anda mengatakan “Ya” terhadap … sesuatu yang seharusnya Anda katakan “tidak”.

Dalam drama karya William Gibson yang berjudul The Miracle Worker, Annie Sullivan berkenalan dengan Helen Keller yang liar dan tidak bisa diatur, dan ibunya. Nyonya Keller berkata, “Bagaikan seekor domba yang hilang dalam parabel, saya sangat mencintai anak saya, Helen.

Annie, guru mengajar Helen, berkata, “Ny. Keller, saya berpendapat bahwa kecacatan Helen terburuk bukan karena ia tuli atau bisu, tetapi justru karena cinta dan kasihan Anda kepadanya … dan Anda semua yang ada di sekitarnya begitu maklum kepadanya, dan Anda semua menjaganya seperti seekor binatang peliharaan Anda. Mengapa, bahkan seekor anjing Anda latih untuk tidak kencing di dalam rumah.

Bagaimana Cara Memberikan Pujian?

Petunjuk dalam memberi pujian itu sederhana saja. Jika Anda ingin memberi dorongan pada suatu perilaku anak yang baik, maka utarakanlah pujian anda secara spesifik.

Kata-kata “kamu baik sekali” tidaklah banyak mengatakan sesuatu kepada anak, walaupun jelas itu sebuah pujian. Namun kata-kata “Kamu baik sekali ketika kamu menolong adikmu membaca cerita. Itulah perilaku penuh perhatian dan perilaku dewasa. Saya suka kamu begitu”, ini bisa mengatakan kepada anak dengan jelas apa yang telah ia lakukan, dan mengapa tindakannya itu menyenangkan orangtua. Utarakan secara spesifik.

Hal kedua, jangan “terkesan” bermakna kritikan. Seringkali apa yang dikira orangtua sebagai pemberian pujian kepada anak, tetapi dalam kenyataannya penuh dengan kritikan. Yang akan dimaknai oleh anak justru adalah kritikannya, yaitu makna tersirat dari pujian tersebut.

Sebagai contoh, ketika suatu sore anaknya membersihkan kamar pribadinya, padahal selama ini tidak pernah mau, janganlah berkata: “Tumben, sore ini kamu membersihkan kamarmu.”

Walau sebenarnya kita bermaksud memujinya, sayangnya sang anak akan memaknai pujian tersebut: Kamu tidak pernah membersihkan kamarmu ketika saya menyuruhmu untuk melakukannya, dan kamu tahu, itu menggangguku. Baguslah, kamu kali ini mau membersihkan tempat tidurmu, tetapi nanti kamu pasti tidak melakukannya lagi.

Kata-kata dalam bentuk diatas bukanlah pujian sama sekali. Justru kalimat tersebut tidak lebih dari sekedar komentar terhadap kenyataan bahwa anak harus mematuhi perintahnya.

Bandingkan jika kita menggunakan kalimat pujian seperti ini: “Wah, kamu mengemasi kamarmu dan kamarmu jadi tampak rapi sekali. Ibu suka kamu menempatkan semua mainanmu dengan rapi dan teratur seperti itu.

Dampaknya akan sangat berbeda!

(diadaptasi dari buku Membangun Masa Depan Anak karya Jacob Azerrad, Ph.D)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL