Anak menangisLiputanIslam.com – Ujian kesabaran di bulan Ramadhan, banyak hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan harapan, termasuk masalah di dalam keluarga. Bagaimana menyikapi anak yang keinginannya ingin selalu di turuti? Berikut ini adalah tanya jawab antara Bunda Erika di Makassar dengan Ayah Eddy, seorang pengajar dan motivator yang konsen di bidang parenting.

PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum Ayah Eddy, saya punya 2 anak laki-laki.  Berusia ( 4th ) dan ( 3 th ). Si kakak ini kalau sudah menginginkan sesuatu harus selalu dituruti pada saat itu juga. Kalau tidak, ia menangis hingga berteriak. Beda sama si Adik, ia pengertian dan bisa diajak bicara pelan-pelan. Bagaimana cara menghadapinya? Terimakasih Ayah, Wassalam.

Erika di Makassar

JAWABAN AYAH EDY:

Waalaikumsalam Wr.Wb.

Bu Erika yang baik hati,

Ibu pernah ingat sebuah lagu, yang menyebutkan bahwa Sang Pencipta adalah Tuhan?

Pelangi-pelangi, alangkah indahmu.

 Merah,  kuning, hijau dilangit yang biru

Pelukismu agung siapa gerangan?

Pelangi-pelangi, ciptaan Tuhan…

Lagu ini tepat sekali menggambarkan anak kita yang mirip seperti pelangi ciptaan Tuhan berwarna-warni dan semuanya indah. Setiap anak selalu memiliki sisi yang kita “anggap” kelebihan dan kekurangan, tapi tahukah kita bahwa di baling sisi kekurangan anak kita sekaligus mencerminkan kelebihannya.

Sebagai contoh si Kakak yang selalu ingin memaksakan kehendaknya, disatu sisi ini kita anggap kekurangan padahal di lain sisi ia adalah seorang anak yang memiliki tekad yang kuat, yang merupakan ciri-ciri para pemimpin besar baik di perusahaan atau di dunia politik. Berbeda dengan si Adik yg kita “anggap” memiliki kelebihan bisa di ajak berdamai, tapi sering kali kurang punya keinginan yang jelas dan daya juangnya lemah.

Begitulah anak-anak kita dengan warna-warninya masing-masing, dengan kelebihan sekaligus kekurangannya masing-masing. Tugas kita sebagai orang tua adalah melakukan pendekatan sesuai dengan tipe dasar mereka dan bukannya malah membanding-bandingkankan antara si Kakak dengan si Adik. Ini akan sangat menyinggung persaaan anak-anak kita dan membuat mereka makin sulit di kendalikan.

Kebanyakan orang tua memang menginginkan anak yang penurut dan mudah di atur. Tapi ingatlah selalu siapakah orang yang paling nurut dan mudah diatur di kantor.  Apakah dia atasan atau office boy? Seingat saya belum pernah bertemu dengan para atasan dan pimpinan yang sangat penurut dan mudah diatur.

Nah sekarang fokusnya adalah bagaimana kita bisa membesarkan si calon pemimpin ini agar kelak menjadi pemimpin yang baik dan benar-benar jadi pemimpin. Karena banyak sekali anak-anak yang bertipe pemimpin seperti si kakak tapi oleh orang tuanya terus di tekan menjadi penurut maka akhirnya kelak ia tidak berhasil menjadi pemimpin, dan hanya menjadi bawahan, namun sayangnya bukan juga bawahan yang baik melainkan bawahan yang sulit dan suka melawan.

Untuk mendidik seorang pemimpin seperti si Kakak, ibu juga harus menjadi pemimpin yang baik. Bagaimana caranya? Jangan terlalu banyak bicara, karena si Kakak kurang suka ibu yang banyak bicara apalagi no action talk only.

Seorang anak pemipin ingin menentukan pilihannya sendiri, jadi jika ingin meminta sesuatu padanya berikan bebarapa pilihan, misalnya begini; Kakak sudah sore, Kakak harus mandi, mau mandi sekarang atau 10 menit lagi. Maka biasanya si Kakak akan menawar, “15 menit lagi dong,” —  lalu katakan padanya, “Oke 15 menit lagi dari sekarang ya!”

Jika 15 menit si Kakak belum juga mandi, katakan, “Kakak mau pilih, tidak dapat uang jajan, atau tidak nonton film kesukaan atau tidak main komputer?”

Nah, ingat buatlah aturan-aturan main yang jelas untuk setiap kasus, buat kesepakatan tentang konsekuensi apa yang akan di berlakukan jika terjadi pelanggaran. Dan yang paling penting adalah tegas melaksanakannya tanpa kompromi.

Jika terjadi perlawanan dan teriak dari si Kakak, maka katakan padanya, “Jika kamu teriak maka konsekuensinya akan ditambah. Kamu mau pilih masuk kamar tidur atau masuk kamar mandi? Tapi jika kamu diam,  kamu tidak akan terkena hukuman. Ayo pilih mau diam atau masuk kamar mandi?”

Jangan lupa dengan metode hitungan, “Mama akan hitung sampai 10 jika kamu tidak diam maka mama akan paksa kamu masuk kamar mandi.”

Setelah itu diam tegas, menghitung dan melaksanakan apa yang di ucapkan jika anak tidak juga mau berhenti berteriak.

Jika Bu Erika tegas maka anak perlahan-lahan akan menghormati orang tuanya, karena seorang anak tipe pemimpin hanya akan hormat dengan orang yang sedikit bicara, tegas dan memiliki aturan main yang jelas.

Pada saat membuat aturan main dan konsekuensi hukuman di usahakan tidak dalam kondisi sedang emosi, dan usahakan jenis hukuman adalah yang mengurangi kesenangan anak seperti bermain, nonton tv kesukaan, bermain game atau apapun, dan jika tidak mempan baru mulai ditawarkan apa yang dia tidak sukai seperti masuk kamar atau kamar mandi tadi.

Kunci dari semua keberhasilan mendidik adalah kejelasan aturan main dan kekompakan serta ketegasan dari kedua orang tuanya. (ba)

Artikel ini disunting dari tulisan Komunitas Ayah Eddy di Facebook

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL