Foto: Kompas

Foto: Kompas

LiputanIslam.com — Semenjak lahir sebenarnya bayi punya kemampuan alami yaitu refleks mengisap. Refleks ini penting agar bayi dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya. Refleks ini bahkan sudah ada sejak bayi berada kandungan, dan kadang terekam saat pemeriksaan USG kehamilan.

Isap jempol merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan fase oral seorang bayi. Sehingga bila Anda memperhatikan bayi yang tidak mengisap jempol, bayi tetap senang memasukkan tangan dan benda-benda lain ke dalam mulut.

Fase oral adalah suatu fase ketika bayi mendapatkan kepuasan dengan mengisap. Fase ini dimulai sejak bayi lahir, akan menghilang perlahan sampai anak berusia 2-3 tahun, dan akan benar-benar menghilang saat usia 6 tahun. Efek yang didapatkan dari mengisap jempol ini adalah ketenangan dan kenyamanan, terutama bila ia mengalami reaksi emosional seperti rasa tidak nyaman, bosan, mengantuk, takut, tegang, atau lapar.

Perlukah hisap jempol dikhawatirkan? Jawabannya tak perlu. Mengisap jempol pun tidak akan menurunkan tingkat kecerdasan anak. Anda tak perlu cemas, karena ini hanyalah cara anak untuk mengatasi stres ringan.

Kebiasaan mengisap jempol mulai akan menjadi masalah bila anak masih memiliki kebiasan ini sampai usia di atas dua tahun dengan intensitas dan frekuensi yang tinggi. Efek ini juga akan muncul pada anak yang memiliki kebiasaan mengempeng, namun efek organiknya lebih sedikit dan kebiasaan mengempeng lebih mudah untuk dihentikan.

Jika kebiasaan mengisap jempol ini terlalu lekat dan belum disapih lebih dari dua tahun, maka akan muncul berbagai permasalahan . Termasuk perubahan pada bentuk gigi dan rahang. Gigi anak dapat menjadi maju (“tonggos”) dan terjadi perubahan pada bentuk rahang yaitu rahang akan menjadi sempit dan dalam. Juga bisa terjadi open bite, yaitu saat gigi geraham atas dan bawah sudah mengatup, gigi depan atas dan bawah tetap terbuka. Masalah lain adalah jempol dapat menjadi kapalan dan bertanda. Kemudian adanya kemungkinan meningkatnya infeksi, bahkan terjadi gangguan sosialisasi, karena anak dapat menjadi cenderung pasif dan kurang beraktivitas atau anak menjadi diolok-olok oleh temannya.

Bagaimana cara menghentikan perilaku mengisap jempol?

Pertama, cari tahu faktor penyebab si kecil tidak nyaman dan gelisah lalu coba hilangkan faktor penyebab ini.

Kedua, jangan memarahi anak yang mengisap jempol terutama pada anak di bawah tiga tahun, apalagi sampai mencabut jempolnya dan memarahinya. Hal ini dapat membuat anak menjadi frustrasi.

Ketiga, coba mengalihkan perhatiannya pada lingkungan sekitarnya pada saat anak ingin mengisap jempol.

Keempat, mencoba dengan memberikan zat yang rasanya pahit pada jempol anak sehingga saat anak mulai memasukkan jempolnya ke dalam mulut, rasa pahit tersebut akan menyebabkan anak tidak jadi mengisap jempolnya. Ingat, zat tersebut haruslah tidak berbahaya untuk dimakan anak ataupun saat anak menggosok matanya. Zat tersebut contohnya temu lawak, jamu, dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat berhasil pada sebagian anak. Anda juga dapat mencoba memasangkan plester pada jempol anak.

Pada anak yang sudah lebih besar (diatas usia tiga) dan masih mengisap jempol biasanya anak sudah dapat diajak bicara dan berkompromi, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Pertama, bila kebiasaan ini terus menetap dan ditemukan adanya masalah pada kemampuan adaptasi anak atau ditemukan faktor pencetus emosional atau psikologis, mungkin anak perlu mengikuti terapi misalnya terapi modifikasi perilaku atau terapi lainnya sesuai dengan masalah yang ditemukan.

Kedua, keikutsertaan dan kerjasama dengan anak merupakan hal yang terpenting dalam menghentikan kebiasaan ini.

Ketiga, ajak anak untuk berdiskusi, terutama bila teman-temannya mulai mengolok-olok karena kebiasaannya ini. Dengarkan dan tawarkan beberapa solusi kepada anak.

Keempat, Anda dapat membuat perjanjian dengan anak untuk menghentikannya secara bertahap misalnya perjanjian untuk tidak mengisap jempol di tempat umum, atau hanya boleh pada waktu sebelum tidur. Ini harus disertakan pengertian misalnya dijelaskan padanya bahwa kebiasaan mengisap jempol tidak sopan dilakukan di depan umum.

Kelima, Anda dapat juga menggunakan sistem hadiah misalnya bila seminggu anak tidak mengisap jempol akan mendapatkan stiker atau hadiah tertentu.

Keenam, jangan menghukum anak. Biasanya anak yang dimarahi atau dihukum akan semakin menolak dan melakukan kebiasaan ini dengan sembunyi-sembunyi.

Ketujuh, jangan lelah dan putus asa untuk mengingatkan anak untuk menghentikan kebiasaan ini. Bila gagal dengan satu cara coba lagi dengan cara lainnya.

Pada saat anak mulai melepaskan kebiasaannya ini terkadang anak akan memiliki sikap seperti berontak yang membuat orang tua tidak tega, misalnya berteriak-teriak, uring-uringan, dan lain sebagainya. Jangan memarahinya, melainkan tetap dukung anak karena saat itu mereka sedang berusaha untuk melawan kebiasaan buruknya itu.

Disalin dari tulisan Dr. Marissa T S Pudjiadi, Sp.A di Tempo (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL