Anak-TertawaJakarta, LiputanIslam.com– Tiga pilihan cita-cita paling populer di awal 80-an dan 90-an adalah dokter, pilot, dan arsitek. Namun sekarang, di tengah perkembangan teknologi, fluktuasi finansial dunia, dan invasi dunia hiburan yang agresif, penasarankah Anda mengenai  cita-cita anak-anak usia sekolah di era WiFi dan YouTube ini?

Sebuah riset yang dihelat oleh Nominet membeberkan cita-cita para responden yang merupakan kelompok siswa sekolah berusia 11 hingga 18 tahun.

Ternyata hasilnya, tidak terlalu mengejutkan tetapi cukup membuat Anda sedikit tercengang.

Pasalnya, anak-anak sekolah di era modern tidak memiliki ambisi menjadi seorang dokter atau pilot.

Tiga pilihan profesi paling populer di antara anak-anak adalah berkaitan dengan dunia informasi teknologi (IT).

Riset menunjukan bahwa sepertiga responden menjawab ingin menjadi game developer. Lalu, sebanyak 13 persen responden mengaku, punya cita-cita sebagai application developer dan website developer.

Lalu, hanya tujuh persen yang bercita-cita menjadi perancang busana dan seorang musisi. Sebanyak 10 persen ingin menjadi atlet. Lima persen lainnya menjawab mau jadi astronot.

Riset juga mengungkapkan cita-cita konservatif memiliki peminat yang rendah. Hanya 4,3 perse berangan-angan jadi polisi, enam persen menjadi pengacara, dan 6,3 persen menjadi dokter atau suster.

Menariknya, anak-anak yang memiliki cita-cita sukses di industri teknologi masih didominasi oleh anak-anak lelaki. Sebab, sejumlah besar responden anak perempuan mengatakan bahwa teknologi itu membosankan (41 persen), terlalu teknis (35 persen), sulit (28 persen), dan terlalu maskulin (16 persen).

Anak-anak berusia muda, 11-12 tahun (77 persen), lebih memiliki minat besar menekuni profesi di ranah teknologi. Sementara itu, anak-anak berusia lebih tua, 17-18 tahun (63 persen) tidak tertarik dengan bidang informasi teknologi.

“Masa depan dunia ekonomi teknologi terancam jika kita merekrut hanya setengah dari responden, dan gagal memotivasi anak perempuan untuk mendalami ilmu informasi teknologi,” jelas Russel Haworth, CEO di Nominet, seperti dikutipi Information Age.

“Kolaborasi sekolah formal dan ekstrakurikuler pelajaran teknologi harus dijalankan untuk menyalakan semangat para anak perempuan menekuni IT,” imbuhnya.

Kemudian, CEO dari Parent Zone, Vicki Shotbolt, mengatakan, orangtua sudah terkontaminasi mengenai efek negatif teknologi pada anak.

“Sebenarnya, banyak cara untuk mengatasi kondisi ini. Sebab, tak bisa dimungkiri bahwa teknologi adalah bekal generasi penerus untuk berkarier di masa depan,” jelas Shotbolt. (ra/kompas.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL