kidsOleh: Aar Sumardiono

Alkisah, ada seorang perempuan kecil yang tak bisa diam dan sangat gemar bercerita. Sepanjang perjalanan ke sekolah tiap pagi, dia selalu bercerita. Ada saja yang diceritakannya. Begitu pun di sekolah, dia gemar bercerita. Dia juga suka melihat keluar sekolah melalui jendela untuk melihat apapun yang ada di luar ruangnya.

Akibat sifatnya yang seperti itu, anak kecil itu mengalami kesulitan di sekolahnya. Untunglah, akhirnya dia berteman dengan seorang kepala sekolah di tempat barunya yang mendengarkan dengan antusias ceritanya sejak dia datang pagi hari hingga siang hari.

Sebih kisah yang lain, seorang anak laki-laki yang menggemari olahraga baseball dan sangat sulit belajar di kelas. Dia tidak suka membaca dan belajar banyak hal bukan dengan cara duduk dan mendengarkan di kelas, tetapi dengan cara mengalami langsung pengalaman yang berhubungan dengan topik yang dipelajarinya.

Karena gaya belajarnya tidak sesuai dengan model yang ada di kelas, anak itu mendapat cap bodoh di kelasnya. Dia mengalami kesulitan dengan belajarnya di sekolah.

Dua kisah di atas merupakan kisah nyata yang mengambil setting di dua tempat berbeda. Kisah gadis kecil itu berada di Jepang. Gadis kecil itu bernama Tetsuko Kuronayagi atau biasa dipanggil Totto Chan. Buku cerita mengenai pengalaman masa belajarnya di Sekolah Tomoe sempat menjadi bacaan wajib para guru di Jepang. Kisahnya telah menginspirasikan banyak orang tua dan pendidik dari seluruh dunia.

Anak laki-laki itu adalah Robert Kiyosaki. Saat ini, dia telah menjadi penulis terkenal yang sangat berpengaruh di dunia bisnis, dengan karya berserinya mengenai “Rich Dad, Poor Dad” dan ide-idenya mengenai kecerdasan finansial (financial quotient)

Totto Chan dan Robert Kiyosaki adalah dua sosok yang merepresentasikan jenis kecerdasan yang berbeda daripada yang biasanya dikembangkan di sekolah. Walaupun mereka memiliki kesulitan-kesulitan saat di sekolah, tetapi bukan berarti mereka bodoh.

Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) yang mengenalkan 9 jenis kecerdasan memberikan peluang kepada kita untuk mengembangkan potensi anak-anak dengan lebih luas dan beragam. Kecerdasan tak lagi dibatasi hanya pada kecerdasan skolastik (IQ), tapi jauh lebih luas dan beragam.

Anak dengan kecerdasan yang berbeda, memiliki kekhasan dan gaya belajar yang berbeda pula. Ada anak yang efektif belajar melalui buku, ada yang dengan gambar dan diagram, ada yang belajar dengan cara berdiskusi, ada yang dengan cara membayangkan, ada yang dengan cara mencoba dan mempraktikkannya.

Pegenalan ragam kecerdasan pada anak adalah bekal bagi orangyua untuk memberikan stimulus dan fasilitas agar potensi kecerdasannya semakin berkembang,

Sebagai orang tua dan pendidik tugas kita bukan menghakimi, tetap mencari cara untuk membuka potensi anak-anak kita. Berbeda tidak selalu berarti bodoh dan gagal. (liputanislam.com)

*dikutip dari buku Warna-Warni Homeschooling.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL