einsteinLiputanIslam.com — Saya seorang guru bimbingan belajar yang sudah mengajar selama 6 tahun. Semasa sekolah saya mengalami 2 kurikulum Indonesia, kurikulum 1994 dan 2004 (KTSP). Selama mengajar, mengalami 2 kurikulum, KTSP dan 2013. Sering saya berpikir, apakah yang salah dengan sistem pendidikan kita, mengapa UN 2013 dan 2014 begitu kacaunya, mengapa sekarang kecurangan UN banyak diberitakan bahkan menyebabkan peserta didik melakukan bunuh diri?

Saya rasa peserta didik tidak bisa disalahkan? Mereka adalah generasi penerus yang memang menjadi tanggung jawab generasi diatasnya untuk mendidik mereka. Apakah guru-guru kita yang harus disalahkan? Mungkin juga. Atau para petinggi kita yang tidak becus mengurusi pendidikan negeri ini? Ya, sepertinya memang beberapa tahun terakhir seperti ini. Apakah para orang tua?

Ada satu hal, menurut saya, yang menjadikan system pendidikan kita carut marut adalah ambang batas nilai. Ambang batas nilai, atau KKM menjadikan murid, orang tua, guru terfokus pada suatu target semu, sebuah target yang salah sasaran. Mereka menjadi pengejar nilai / hasil akhir tanpa memperdulikan proses belajar yang dilalui murid, tanpa memperdulikan kemampuan murid. Contoh paling gampang adalah Ujian Nasional kita, sebut saja UN SMP, yang diujikan ada 4 mata pelajaran, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Ilmu Pengetahuan Alam, menurut anda pembaca, apakah empat mata pelajaran ini mampu mewakili setiap anak Indonesia?

Ya, pernahkah kita, petinggi pendidikan kita, memikirkan anak-anak didik kita yang memang kurang memiliki kemampuan bidang eksata dan ternyata memiliki kemampuan luar biasa layaknya seorang Picaso dalam hal seni, atau sehebat Warren Buffet sebagai seorang pebisnis?

Mengapa nilai minimum kelulusan menjadi kesalahan fatal sistem pendidikan kita? Pertama, sasaran pendidikan seharusnya menciptakan ruang bagi anak mengeksplorasi diri, menemukan apa kemampuannya, dan melatih salah satu kemampuannya menjadi seorang professional dalam bidang tersebut. Sistem pendidikan kita menciptakan generasi yang diharapkan bisa melakukan, menguasai semua bidang, mulai dari bahasa, matematika, fisika, sejarah, biologi, seni dan celakanya untuk mengukur penguasaan itu dibuatlah suatu nilai minimum. Siapa yang akan menyangka jika ternyata obat untuk kanker / HIV tertanam dalam otak salah seorang anak Indonesia yang gagal melanjutkan ke jenjang SMA karena terbentur UN Matematikanya tidak mencapai KKM?

Kedua, nilai minimum ini membuat fokus pembelajaran menjadi hasil tanpa menghargai proses belajar, usaha yang dilakukan sang anak didik. Hal ini menghasilkan generasi instan, didukung dengan perkembangan dunia yang mengedepakan kepraktisan, mulai dari mie instan sampai kemudahan komunikasi melalui media. Nilai minimum jika tidak dibantu oleh pendidikan keluarga yang baik, akan menyebabkan anak mengejar nilai dengan berbagai cara, termasuk mencontek (alias mencuri). Kita sedang mendidik generasi koruptor, jika nilai saja bisa dengan mencuri berarti ketika besar mereka akan berfikir korupsi untuk mencapai cita-cita kemandiriannya (materi).

Ketiga, nilai minimum ini membuat anak didik menjadi tidak mengerti hal penting yang dipelajarinya. Para pembaca yang merupakan praktisi pendidikan non-formal pasti sering mendengar keluhan dari peserta didik mengapa mereka harus mempelajari suatu hal, yang menurut mereka tidak penting. Misalknya anak 11 IPS akan bertanya, kenapa sih harus belajar trigonometri? Hal ini karena adanya target nilai minimum ini sehingga pendidikpun tidak sempat menjelaskan hal-hal tersebut. Dampaknya anak akan merasa yang dipelajarinya tidak menyenangkan, sulit dan tidak beguna, sehingga menimbulkan sikap apatis terhadap apa yang dipelajarinya.

Rasanya tidak berimbang kalau saya menuliskan sesuatu tanpa menuliskan solusi yang baik. Pertama, nilai minimum ini harus dihapuskan, inkonsistensi jelas terlihat disistem kurikulum 2013. Penilaian rapot akhir menggunakan huruf (A,B,C,D,F seperti penilaian akhir perguruan tinggi), tapi tahukah Anda, peserta didik tetap diberikan target untuk ‘huruf’ kelulusan. Sebagai contoh, salah satu lembaga pendidikan swasta tingkat SMA mengharuskan anaknya memperoleh B- untuk bisa naik kelas pada mata pelajaran tertentu. Bandingkan dengan perguruan tinggi dimana nilai C atau D masih di hargai, dengan konsekuensi tertentu yang menurut saya wajar-wajar saja, misalkan kalau belum bisa kalkulus 1 ya jangan coba-coba mengambil kalkulus 2.

Kedua, saat SMP wajar setiap anak memperoleh semua pelajaran yang ada, untuk menggali potensi dimana mereka bisa melakukan hal terbaik, tentunya tetap ada beberapa hal dasar yang harus mereka pelajari, seperti bahasa dan matematika dasar. Sistem di SMA seharusnya sudah lebih mengerucut, peserta didik yang sudah mengenal dirinya sejak SMP, bisa memilih untuk mengembangkan. Penjurusan menurut saya baik, namun masih bisa di kerucutkan lagi. Sistem yang digunakan oleh beberapa sekolah international di Jakarta cukup baik. Seorang anak di jurusan IPA, tidak harus mengambil semua pelajaran ilmu alam, dia hanya diminta memilih dua pelajaran ilmu alam di luar matematika. Saat akan masuk ke perguruan tinggi, ciptakanlah suatu tes masuk /syarat yang sesuai dengan bidang yang akan diambil. Seorang yang ingin masuk kedokteran, haruskah mengerjakan tes dinamika / integral yang begitu sulit? Saya rasa seorang dokter tidak akan memakai integral dalam prakteknya, misalnya di minta syarat Bahasa Indonesia min B, Inggris minimal B, Biologi harus A dan kimia minimal B, kalaupun ada syarat Matematika, ya minimal C saja. Secara singkat, masa SD adalah masa perkenalan akan hal-hal yang akan mereka pelajari. SMP adalah masa pengenalan diri mereka, potensi mereka. SMA adalah masa mendalami apa yang mereka sukai. Masa perguruan tinggi adalah masa menguasai keahlian mereka sampai menjadi seorang professional.

Dengan cara ini, kita bisa membangkitkan generasi yang lebih baik untuk Indonesia yang lebih baik. Kita menciptakan generasi yang sadar / memikirkan masa depan, bukan hanya nilai sesaat. Mereka akan memikirkan , mencari jalan yang terbaik bagi dirinya. Peserta didik akan merasa dihargai apa yang ada pada dirinya. Yang perlu dikembangkan adalah peran orangtua dan pendidik dalam membimbing masing-masing peserta didik menemukan yang hal terbaik dalam dirinya. Seorang pendidik yang baik, bukanlah dinilai dari seberapa hebat nilai yang dicapai anaknya, namun pendidik yang baik adalah pendidik yang mampu membuat peserta didiknya senang belajar. (ba/LiputanIslam.com)

 

Disalin dari tulisan Pujiyanto Hadisaputra di http://edukasi.kompasiana.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL