Jakarta, LiputanIslam.com–Autisme adalah kelainan perkembangan saraf yang ditandai dengan adanya gangguan dalam interaksi sosial, perkembangan bahasa, dan komunikasi. Autisme dimulai pada masa kanak-kanak dan bertahan seumur hidup.

Anak dengan autisme mengalami kesulitan untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Hal ini membuat mereka sangat sulit untuk mengekspresikan diri baik dengan kata-kata, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan.

Ciri-ciri autisme bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai berat sehingga anak memerlukan perhatian khusus. Gejala autisme pada anak dapat terlihat mulai dari tiga tahun pertama awal kehidupannya. Beberapa anak menunjukan gejala autisme sejak lahir, di antara lain ciri-cirinya adalah: tidak ada kontak mata  ketika diajak berbicara, tidak tersenyum kembali ketika ayah-bunda mengajaknya berbicara atau tersenyum; tidak memberi respon terhadap suara, dan tidak tertarik ketika diajak bermain bersama.

Namun ada juga anak yang awalnya terlihat memiliki perkembangan yang normal dan gejala autisme tersebut baru terlihat pada saat usia 18-36 bulan.

Berikut ini 15 ciri dari autis ringan:

1). Sulit sosialisasi

2). Tidak berempati

3). Benci Disentuh

4). Sulit kontak mata

5). Anak sulit dipanggil dengan namanya

6). Gerakan tidak terfokus

7). Emosional buruk

8). Menggunakan bahasa aneh

9). Senang benda dinamis

10). Suka pada satu hal secara berlebihan

11). Sulit meniru

12). Asyik sendiri

13). Monoton

14). Eskpresi wajah yang aneh tidak teratur.

15). Menyakiti

 

Biasanya seseorang yang autis tidak memiliki keseluruhan dari ciri-ciri tersebut. Jika Anda menemukan tanda-tanda tersebut pada anak Anda, sebaiknya anda segera memeriksakan anak Anda ke dokter spesialis anak ataupun psikiater anak untuk diberikan terapi. Terapi yang dimulai sejak awal dapat meringankan gejala autisme yang diderita anak dan mencegahnya agar tidak berkembang menjadi berat.

Bila anak Anda mengidap autis, selain segera meminta pertolongan dokter, berusahalah untuk memahami keadaan anak apa adanya. Perbanyak interaksi dengan anak, jangan diserahkan kepada pengasuh atau orang lain. Jalin ikatan emosional yang erat dengan anak, berbahagialah saat bersamanya, dan kenali kebiasaan-kebiasaannya. Sikap orang tua yang positif, biasanya membuat anak-anak lebih terbuka akan pengarahan dan lalu berkembang ke arah yang lebih positif pula. Sebaliknya, sikap orang tua yang menolak (langsung atau terselubung) biasanya menghasilkan individu autis yang ‘sulit’ untuk diarahkan, dididik dan dibina.

Bila Anda dikaruniai anak yang normal dan melihat ada anak lain yang mengidap autis, bantulah anak itu dengan cara yang bijak. Janganlah mengasingkan anak autis, apalagi membully mereka. Didiklah anak Anda untuk mau memahami temannya yang autis dan tidak melakukan bullying. Pahamkan kepada anak Anda bahwa anak-anak autis tidak (belum) tahu cara bersikap yang wajar dan harus menempuh berbagai terapi untuk memperbaiki kondisi dirinya. (dosenpsikologi.com/hellosehat.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*