foto: kompasiana

foto: kompasiana

LiputanIslam.com — Hampir setiap sore, setelah waktu Ashar rumah saya dipenuhi anak-anak. Ada yang bermain balok, atau sekadar menonton televisi. Ada pun yang bermain kucing peliharaan sembari putri saya sendiri ikut bermain. Biasanya, ketika anak-anak ini hendak bermain, mereka memanggil saya atau istri saya. Untuk kemudian saya bukakan pintu gerbang dan mempersilakan mereka masuk dan bermain. Kalau ada agar-agar, buah atau sekadar minum kami berikan untuk anak-anak yang bermain. Sayangnya, ada satu anak tetangga yang kami anggap ‘anomali’ (baca aneh).

Anak ini masuk membuka pintu gerbang sendiri dan slonang-slonong masuk rumah. Ia pun lalu membuka kotak mainan putri saya seenaknya. Ambil mainan yang ia suka, dan bermain sendirian. Putri saya yang hampir 2 tahun usianya cuma bisa bertanya seadanya dengan bahasanya. Anak ini pun diam sembari sibuk bermain sendiri. Ditambah, anak ini pun bisa seenaknya mengambil gelas dan minum. Ini tanpa seizin kami yang ada di sana. Kami pun heran dan bertanya dalam hati kok bisa tidak sopan anak ini? Sembari saya dan istri menegur dan memberi saran buat si anak.

Saya dan istri pun mulai coba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan si anak. Kami coba analogikan perilaku anak ini dengan anak-anak lain yang sopan dalam bertamu dan berperilaku. Dan dari kerap kali si anak bertamu dengan cara yang kurang berkenan bagi kami. Ada beberapa hal yang bisa kami simpulkan. Walau masih sangat general, mungkin Anda pernah ada pengalaman serupa. Atau bahkan solusi yang ditawarkan. Berikut simpulan dan solusi yang kami dapat.

1. Pentingnya Berbagi Waktu Bersama Anak Bermain dan Bertamu

Ini yang pertama kami simpulkan dari kerapnya si anak tadi. Yang kami tahu selama ini, memang orangtua si anak tidak pernah sekalipun menemani anak bermain. Apalagi untuk nonggo (Jawa, bertamu) ke tempat si anak bermain. Yang kami tahu, kedua orangtua anak ini bekerja. Adapun kalau sore menjelang, sang ayah sepertinya sudah ada di rumah. Namun sepertinya si ayah enggan melihat dan menemani sang anak bermain di sekitar perumahan kami.

Dari yang saya lihat, anak-anak lain kadang ditemani orangtuanya bermain. Walau ujung-ujungnya ibu-ibu mereka menggosip. Namun ibu-ibu ini seperti memberi saran untuk anak mereka permisi. Bahkan ada yang dijemput ibunya setelah selesai bermain. Dan dengan meminta anaknya mengucap terima kasih ke putri saya dan kami sebagai tuan rumah.

Sepertinya si anak anomali ini menganggap bermain sambil bertamu ke rumah orang sama saja. Walaupun sebenarnya hal ini berbeda. Bermain di luar (outdoor) tentunya bebas berlari dan berpolah. Namun tidak dengan bertamu untuk bermain di rumah seseorang. Mengucap salam ketika masuk dan keluar rumah, serta berpolah sopan selama bermain di rumah orang lain, umum adanya. Sebuah pemahaman mudah yang orangtua patutnya contohkan dan ajarkan.

2. Bertamu dan Berpolah Sopan, Dimulai Dari Rumah Sendiri

Dan mungkin hal ini yang bisa kami simpulkan dari anehnya perilaku si anak tadi dalam bertamu. Walau dalam hal ini tidak setiap hari melihat cara orangtua si anak masuk rumah. Namun dari beberapa kali kami lihat, saat orangtua dan anak masuk ke rumah, mereka masuk begitu saja. Membuka gerbang, membuka pintu dan clurut masuk rumah bersama-sama. Walau rumah sendiri, saat bersama anak masuk ke rumah, ada baiknya contohkan cara bertamu yang sopan.

Ini kami terapkan pada putri kami sendiri. Hampir pada setiap kesempatan kami masuk bersama-sama, kami ucap salam dan mengetuk pintu. Walau rumah sendiri dan menurut orang dewasa dianggap sepele. Tapi ingat, anak akan berperilaku sesuai apa yang dicontohkan orangtuanya. Anak adalah individu peniru ulung. Jadi tidak heran kalau di televisi banyak anak bisa bergoyang Cesar. Toh orangtua mereka mencontohkan dan senang akan hal tersebut.

3. Polah Bermain Mainan Anak Adalah Cerminan Saat Ia Di Rumah

Saat bermain dengan mainan yang ada, si anak anomali ini memang semaunya. Mainan yang ia mau akan ia ambil begitu saja. Kemudian bermain njogrok sendirian. Kalaupun bermain nimbrung dengan anak-anak yang ada, ia seolah menjadi parasit. Beberapa anak malah ngomel kalau si anak ini ikut nimbrung. Kadangpun, si anak berujung berantem dan berebut mainan dengan anak lain. Kami biarkan dan beri saran untuk berdamai. Dan akhirnya bermain bersama kembali.

Sempat putri saya bertamu dan bermain ke rumah si anak ‘anomali’ ini. Wah, yang namanya mainan semua berantakan. Walau agak tertata, namun mainan yang ada cuma seolah ditaruh di pojok-pojok ruangan. Sembari mencoba bermain, putri saya disodori  bermacam mainan. Semua diambil dari pojok ruangan dengan sembarang dan sepolahnya si anak. Setelah bosan lalu mainan ditinggal begitu saja. Lalu beralih ke mainan lain. Sang ibu si anak pun cuma berteriak dan meminta si anak membereskan mainannya.

Ajari anak bermain mainannya dengan baik. Selalu saya ingatkan putri saya. Bahwa bermainan mainan selesai jika mainan sudah beres. Mungkin banyak orangtua berfikir bermain selesai saat anak sudah beralih atau beranjak dari mainannya. Sebaiknya, bermain mainan itu adalah satu paket dengan membereskannya. Jadi anak akan berfikir linear. Kalau bermain mainan itu sama saja membereskan mainannya. Setelah itu baru bisa disebut selesai bermain mainan.

Dari waktu ke waktu si anak anomali ini bertamu dan bermain ke rumah kami. Sedikit demi sedikit anak ini kami dampingi dan beri saran. Jika bertamu, di depan pagar panggilah nama kami dan ucap permisi. Dan sekarang ia sudah melakukannya. Saat mau minum, si anak kami sarankan izin dulu pada kami. Dan kini ia pun mau mengucap izin untuk mengambil gelas dan minum. Dan semua kami ajarkan tanpa paksaan atau kesan mengomeli. (fa/liputanIslam.com)

Disalin dari tulisan Giri Lumakto di http://kesehatan.kompasiana.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL