alquranMenurut Abid al-Jabiri, dalam karya pentingnya Bunyah al-Aql al- Araby (1990) menyebutkan bahwa dalam studi Islam berkembang tiga nalar epitemologis, yaitu nalar bayani, nalar burhani, dan nalar irfani. Nalar bayani pada aplikasinya menjelma pada studi fiqih dan tafsir, nalar burhani terimplementasi pada kajian filsafat dan kalam (teologi), sedangkan nalar irfani berujud pada kajian sufistik atau tasauf.

Ketiga nalar di atas menempatkan wahyu dan akal pada posisi strategis menurut spesifikasi kajian dan telaah yang dilakukan. Tetapi perlu ditegaskan, walaupun orientasi dan fokus kajian masing-masing menempatkan salah satunya (wahyu atau akal) pada posisi superior dan yang lainnya inferior, namun pada praktisnya, wahyu dan akal berjalin kelindan dengan saling dukung dan saling mengukuhkan untuk menghasilkan temuan-temuan berharga dalam disiplin ilmu masing-masing. Dalam nalar bayani misalnya, wahyu mendapat posisi superior (inti) sedangkan akal inferior (tambahan), maka dalam nalar burhani sebaliknya, akal berposisi superior (inti) sedangkan wahyu menempati posisi inferior (tambahan). Adapun dalam nalar irfani, kekuatan intuisi dan kesucian ruhaniah menjadi landasan terpenting untuk mendapatkan ma’rifatullah.

Begitu akrabnya persahabatan wahyu dan akal, sehingga sangat sulit bagi kaum muslimin untuk memisahkan bahkan membedakannya kecuali hanya berdasarkan teks-teksnya. Al-Quran dan sunnah memiliki teks ilahiyah, namun segala tambahan yang dinisbahkan kepadanya tidak dapat dikatakan sebagai wahyu, melainkan hasil kreasi nalar manusia. Karenanya, pembagian ilmu-ilmu keislaman kepada naqliyah (perennial knowledge) dan aqliyah (acquired knowledge) tidaklah valid, bahkan mengesankan seolah-olah ilmu-ilmu naqliyah bebas nalar dan ilmu-ilmu aqliyah bebas wahyu, meskipun pembagian itu bisa dipahami berdasarkan sumber dan tingkat penggunaanya.

Sebagai misal, ilmu fiqih dan ushul fiqih, yang merupakan ilmu paling terhormat dalam sejarah Islam dan dikategorikan sebagai ilmu-ilmu naqliyah, namun jika dicermati dalam praktisnya sungguh sangat sarat dengan penggunaan nalar akal. Sebaliknya, teologi atau ilmu kalam, sangat kental dengan dasar-dasar wahyu meskipun penggunaan nalarnya begitu tinggi.

Begitu pula, secara umum dapat kita katakan bahwa manusia membutuhkan pandangan dunia (al-ru’yah al-kauniyah) yang menjelma menjadi ideologi dan keyakinan yang dianut. Menurut Allamah Muthahhari, semua agama, ajaran, aliran dan filsafat sosial, mau tidak mau bertumpu pada suatu bentuk pandangan dunia dan itu merupakan asas dari pola pemikiran agama tersebut. Tujuan-tujuan yang dipaparkan oleh sebuah agama, perintah dan anjuran untuk berjalan menuju tujuan tersebut, berbagai metode dan cara yang ditentukan dalam usaha mencapai tujuan tersebut, perintah dan larangan yang ada, munculnya berbagai tugas dan tanggung jawab, semuanya itu merupakan hasil dari suatu pandangan dunia dan membuat akal manusia meyakini semua perkara itu (Muthahhari, Kumpulan Artikel, 2003, hal. 226).

Pandangan dunia secara sederhana mengindikasikan tentang kesimpulan nalar manusia (mikrokosmos) akan nilai dan model harmonisasi tatanan semesta dalam kehidupan duniawiyah (makrokosmos). Ideologi dan keyakinan akan dihasilkan sejalan dengan gambaran duniawiyah yang di internalisasikan melalui analisis yang cermat dari realitas jagat raya yang terbentang luas. Prof. Muhsin Qira’ati (2004, hal. 4) menyebutkan bahwa ciri-ciri pandangan dunia yang baik mengandung tiga hal, yaitu :

  1. Pandangan dunia senantiasa berpijak di atas berbagai argumen akal (logika)
  2. Pandangan serta proses penafsirannya harus sesuai dengan fitrah penciptaan alam.
  3. Selain memiliki nilai, pandangan dunia juga mengobarkan semangat, harapan, serta rasa bertanggung jawab.

 Al-Quran seakan ingin mengenalkan pandangan dunia mengemukakan firman ilahi, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergiliran malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk ulil al-bab. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, dan senantiasa berpikir akan penciptaan langit dan bumi, (dan mereka berkesimpulan) Ya Tuhan kami, tiada kebatilan pada ciptaan ini, Maha Suci Engkau, maka jauhkanlah kami dari siksa api neraka.”

Dengan demikian, wahyu dan akal senantiasa selaras dan tidak bertentangan dan akan menjadi kekuatan tiada banding jika dipotensikan dengan baik. Karena wahyu ditujukan untuk manusia maka seluruh potensi manusia mampu untuk memahaminya, yang salah satunya adalah akal. Sebab mustahil Allah swt berbuat yang menyalahi akal manusia. Contoh terbaik penyatuan wahyu dan akal adalah dalam diri nabi dan rasul, berarti ajarannya adalah sesuai dengan wahyu dan akal. Wallahu a’lam. (cr/liputanislam.com).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL