teologiTerjerumusnya kita dalam paham Jabariyah ini, membuat pembentukan tirani teologi semakin menguat. Padahal pemahaman seperti ini bertentangan dengan ajaran Islam yang memerintahkan manusia untuk berdoa dan janji pengabulannya, menyia-nyiakan kebebasan manusia, tanggungjawab, dan juga keadilan ilahi.

Semestinya kita memandang sejajar antara “kehendak” dan “ilmu Allah”. Sebagaimana diketahui, sesungguhnya kesempurnaan “ilmu Allah” hal yang pasti. Adapun “kehendak Allah” itu meniscayakan dalam perilaku dan “kehendak manusia” akan terdapat jutaan probabilitas (kemungkinan), yang mana kehendak manusia dan pola perilakunya itu akan menentukan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Dari sini lahirlah persoalan salah, benar, maksiat, dan taat. Dan Allah swt akan mencatat dan membalas setiap perbuatan manusia sesuai dengan pilihannya tersebut.

Sedangkan problematika “kehendak Allah” yang azali itu berlaku pada adanya pertentangan wujud, kemungkinan dan pilihan-pilihan baik dalam kehendak atau perbuatan manusia, dan dalam implementasinya, seperti persoalan Muawiyah menjadi Khalifah, dan kekalahan Imam Ali. Maksudnya, bila ada di hadapan Muawiyah, probabilitas (pilihan) untuk melakukan apa saja (begitu juga pada Ali), maka probabilitas-probabilitas ini tercakup “ilmu Allah”. Allah mengetahui setiap kemungkinan pilihan dari Muawiyah atau Ali, karena itu Allah menetapkan unsur-unsur yang bersifat insidental untuk menjaga keselarasan antara fenomena alam, perbuatan manusia dan “ilmu Allah”. Karenanya, Muawiyah memilih untuk melakukan aktivitasnya sendiri, demikian juga Ali. Dengan aktivitas itu mereka masing-masing akan menerima pahala atau siksa, dan dimintai pertanggungjawaban. Lantas, bagaimana solusi dari krisis ini? Solusinya adalah dengan memahami bahwa posisi kita dalam “Ilmu Allah” itu termasuk di bawah izin dan kehendak-Nya.

Mudah-mudahan kita dapat menjaga diri kita dengan kesempurnaan “ilmu Allah”, tidak memposisikan-Nya sebagai Dzat yang berkhianat dan bodoh, sehingga menjadikan kita hanya menerima segala peristiwa yang terjadi dan menganggap bahwa sesungguhnya terjadinya suatu peristiwa itu, satu-satunya kemungkinan karena sesuai dengan “ilmu Allah” yang azali. Karena hal itu akan semakin memperkuat tirani teologi para penguasa tirani.

Sesungguhnya hal pertama yang harus kita ubah adalah sikap pasrah kita, karena Allah tidak pernah menetapkan kecelakaan dan kebahagiaan, kaya dan miskin, umur panjang dan pendek atas seseorang, selamanya sejak zaman azali. Akan tetapi, Allah meletakkan prinsip-prinsip universal umum, yang dengannya manusia melakukan aktivitas sesuai dengan kehendak dan kebebasannya. Hal inilah yang menjadi ukuran pahala, siksa, dan pertanggungjawaban. Sikap pasrah kita bahwa kemungkinan itu hanya satu, adalah suatu pemaksaan. Kalau hanya satu kemungkinan yang terdapat dalam ilmu Allah yang azali, maka manusia tersebut telah benar-benar dipaksa untuk melakukan suatu kewajiban, dan hal itu terkesan menunjukkan kekurangan ilmu Allah. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.

Bila kita menempatkan sikap ini sebagai sikap pasrah kita, sedangkan di sana ada perhitungan (hisab), dan sesungguhnya kezaliman dan penindasan itu telah ditetapkan Allah sejak zaman azali, karena orang yang menindas dan mengancam kita dengan kehendak peribadi sendiri, dan sesungguhnya kezaliman dan keadilan tercakup dalam “ilmu Allah”, maka kita bisa mengurai simpul-simpul yang ada dalam diri kita. Bahkan, kita bisa membuat perhitungan dengan orang lain, dan kita tidak membiarkan orang yang menindas kita, membuat kita kelaparan, membahayakan kehidupan, dan melecehkan kehidupan kita.

Faktor di atas mempunyai peran dalam tirani akidah (teologi) yang dimulai penetapannya pada masa Bani Umayyah sebagai sebab utama marjinalisasi peran manusia dalam soal politik, birokrasi negara dan kekuasaan. Selain itu, Bani Umayyah juga menimpakan dan menancapkan sikap afirmatif-deterministik dalam hati (kesadaran) umat Islam yaitu dengan mengesankan bahwa perilaku mereka dan persetujuan mereka pada setiap kekuasaan, sebagai bagian dari akidah Islam, sekalipun itu tiranik. Mereka mengaitkan segala peristiwa yang terjadi sebagai “kehendak Allah”. Tidak ada tragedi yang mewarnai sejarah kita, dan kecenderungan sikap manusia yang apatis-negatif kecuali hal itu adalah salah satu dari produk tirani teologi ini. (cr/liputanislam.com)

 *Diolah dari buku Muhammad Syahrur Tirani Islam : Geneologi Masyarakat dan Negara, 2003, hal. hal.235-245. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL