teologi

Dalam pembentukan dan sosialisasi tirani teologi, kata Syahrur ada hal yang perlu diperhatikan, yakni masalah “Ilmu Allah”. Para penguasa tirani, menggunakan teori “ilmu Allah” ini secara tidak proporsional untuk melanggengkan kekuasaanya dan menindas rakyat tanpa ada perlawanan yang berarti. Maksudnya, mereka menggunakan “Ilmu Allah” ini sebagai argumentasi untuk menyatakan bahwa “ilmu” merupakan salah satu sifat Allah yang utama dan bersifat informatif. Model pemahaman ini digunakan para pencipta tirani teologi ini, berargumentasi dengan menggunakan Q.S. al-Lahab sebagai pijakan logikanya, yaitu :

“Surat al-Lahab adalah surat yang ditujukan kepada paman Nabi saaw, yaitu Abu Lahab berserta isterinya (Ummu Jamil) dan ketika itu mereka masih hidup. Sebagian orang berpendapat bahwa jikalau Abu Lahab menyatakan keislamannya niscaya ayat tersebut berdusta, demikian juga Nabi Muhammad saaw. Karenanya, ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu itu telah ditetapkan sejak zaman azali”.

Menjawab hal ini, Muhammad Syahrur menjelaskan bahwa penafsiran di atas terjerumus pada kesalahan fatal, yaitu tidak memahami kondisi Abu lahab dan isterinya. Menurut Syahrur, surat al-Lahab ini turun setelah publikasi Abu Lahab dan isterinya sebagai orang kafir, bukan sekedar sebagai musyrik. Pada awalnya mereka adalah kaum musyrikin, lalu menjadi kafir karena kesyirikan mereka mengambil sikap ekstrim dengan menentang Nabi Muhammad saaw secara terang-terangan padahal kebenaran telah jelas di hadapan mereka. Ketika sikap Abu Lahab itu sampai pada kondisi yang tidak ada jalan kembali lagi dan mereka tidak mau peduli lagi, maka turunlah ayat ini. Dengan demikian, ayat ini pada dasarnya hanya menegaskan kekafiran Abu Lahab dan isterinya yang mana kekafiran itu mereka kobarkan sendiri dan akan mempertahankannya sampai mati.

Selain menggunakan penafsiran atas Q.S. al-Lahab di atas, dalam konteks penguasa tirani Umayyah, argumentasi “Ilmu Allah” ini diaplikasikan dengan pemahaman berikut ini :

“Dalam ilmu Allah, sejak azali telah dijelaskan bahwa sesungguhnya Muawiyah itu akan menjadi khalifah, bukan Ali. Inilah yang menjadi argumentasi bagi Muawiyah untuk meneguhkan kekuasaan dan kekuatannya serta menjadikannya turun temurun dengan jalan represif bahwa para sahabat akan saling berperang pada perang Shiffin maupun Jamal; dan bahwa jamaah haji akan melempar jumrah di Baitullah dengan alat pelempar… “

Inilah yang disebut oleh Syahrur sebagai pemahaman yang tidak proporsional dan manipulatif sehingga menghasilkan tirani teologi. Karena pada dasarnya tidak ada hubungan linier kemutlakan Ilmu Allah dengan naiknya Muawiyah atau Yazid dan lainnya menjadi Khalifah. Karena itulah sebagaimana dikutip sebelumnya, Syahrur dengan tegas menyatakan, “Kita harus tahu bahwa Allah tidak menetapkan Muawiyah sebagai khalifah sejak zaman azali, tidak menetapkan kekalahan Ali sejak zaman azali, dan tidak menetapkan raja-raja yang memerintah Mesir yang menjerumuskan rakyatnya dalam kemiskinan hingga mereka hanya mampu makan kurma busuk”.

Jadi, penggunaan “ilmu Allah” untuk mensahkan kekhalifahan Dinasti Umayyah yang tiranis, tidaklah bisa dibenarkan. Karena dalam hal ini Allah dianggap berpredikat sebagai Dzat Yang Maha Tahu (Alim), tetapi tidak memiliki sifat berkehendak (iradah). Artinya, Allah dipandang mengetahui bahwa Muawiyah atau Yazid akan menjadi Khalifah, dan Dia tidak memiliki kehendak bahwa yang pantas menjadi Khalifah adalah orang-orang yang terbaik, atau sebaliknya Allah dianggap berkehendak menjadikan orang-orang buruk sebagai pemimpin, karenanya kita harus menerimanya tanpa protes. Pemahaman ini, sama saja dengan meniadakan kehendak Allah. Karena tentu saja dalam teologi tauhid sejati, Allah swt, tidak berkehendak kecuali kebaikan. Hanya saja, karena Allah swt, juga memberikan kebebasan kepada manusia, maka adakalanya mereka “menentang” kehendak Allah swt. Jadi, sebenarnya menjadikan orang yang buruk perilakunya, pembuat maksiat, zalim, dan tirani sebagai pemimpin dan merelakannya, sama saja dengan melawan kehendak Allah swt.

Di sini kita mengetahui bahwa kita telah mencampuradukkan antara “ilmu Allah” dengan “kehendak Allah”. Kita melupakan hal-hal yang bernaung di bawah kehendak-Nya dengan memposisikan-Nya di bawah dimensi “ilmu Allah”. Karenanya, sadar atau tidak, kita telah terjerumus pada paham Jabariyah sampai ke titik kulminatif dan menumbuhkan sikap pasrah pada akidah kita dengan meletakkan segala sesuatu atas “kehendak Tuhan”. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL