Teologi

 “Udah deh, jodoh, rezeki, pertemuan, maut  sudah ditentukan dari sononya  oleh Allah”, begitu ucapan populer yang sering kita dengar di tengah-tengah masyarakat ketika berhubungan dengan kondisi kehidupan yang ada kalanya tidak sesuai keinginan. Kalau menggunakan analisis Syahrur, ungkapan itu tak lebih adalah sisa-sisa dari bentuk “tirani teologi” yang menimpa umat Islam sejak dahulu kala.

Tirani teologi, kata Syahrour terlihat pada sikap pasrah bahwa pekerjaan, rezeki, dan umur itu telah ditetapkan sejak zaman azali. Inilah yang harus kita tolak secara tegas. Karena, Allah tidak menetapkan Zaid sebagai orang kaya semenjak zaman azali, dan Umar menjadi orang miskin. Yang ditetapkan Allah sejak zaman azali adalah kaya dan miskin itu adalah dua hal yang berlawanan. Sedangkan pada kehidupan manusia, kaya-miskin adalah kehendak manusia yang berusaha sesuai dengan “hukum dan aturan Tuhan”, yang dengan hukum dan aturan itulah Tuhan menjadikan si kaya menjadi kaya dan si miskin menjadi miskin. Maksudnya, manusia kuasa untuk memilih secara sadar usaha-usaha dan mengembangkan sesuai dengan keinginannya untuk menjadi kaya atau miskin. Dalam hal ini berarti manusia memiliki kebebasan. Karena itu kemiskinan dan kekayaan tidak bisa dilegalitas sebagai sekedar takdir Tuhan tanpa andil kemanusiaan.

Tirani teologi seperti contoh di atas, diciptakan oleh penguasa dan disebarkan melalui sederetan kondtruksi pemaknaan yang keliru atas konsepsi akidah Islam dan konsep-konsep kunci dalam Alquran. Karena itu, bagi Syahrur, membaca ulang dan merekonstruksi konsepsi-konsepsi tersebut menjadi hal yang urgen untuk terus dilakukan dan disosialisasikan. Dengan menggunakan analisa linguistik Syahrur pun melakukan proyek besar tersebut.

Menurut Syahrur, untuk menguji tirani teologi di atas kita harus membedakan antara konsep yang dihubungkan dengan Alquran dan Ummul Kitab, Lauhul Mahfuzh dan Imam Mubin.

teologiAlquran memberi informasi kepada kita tentang hukum-hukum eksistensi objektif. Sedangkan umm al-kitab memberi kita petunjuk apa yang harus kita lakukan, bagaimana mengarahkan usaha-usaha ini pada hal-hal yang baik, dan menjauhi hal-hal yang buruk dengan karakteristiknya masing-masing. Dan baik-buruk, itu sangat terkait dengan manusia dan usaha sadarnya sebagaimana dalam Q.S. al-Zalzalah : 7-8, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan merihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. Demikian pula dalam Q.S. asy-Syam : 7-8, “Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan keakwaan”.

Dalam hal ini, sangat terlihat konsepsi keadilan Tuhan. Seluruh usaha yang eksis dalam alam dan struktur manusia itu selaras pada diri manusia, dalam kebaikan atau keburukan dalam porsi sama. Dan manusialah dapat memilih setiap perbuatan sesuai dengan tujuan dan kebebasannya.

Kemudian, diperlukan juga pemahaman atas perbedaan antara lauh al-mahfuzh dengan imam al-mubin, yang Alquran telah menyinggungnya secara bersamaan. Untuk memudahkan pembedaannya, Syahrur membuat analogi dengan menggunakan struktur komputer yang terdiri dari dua bagian dasar :

  1. Bagian pertama, ROM (Read Only Memory) adalah struktur inti komputer, atau bagian sirkuit tertutup (LOOP) yang mungkin diketahui, tetapi tidak mungkin untuk mengaksesnya, karena bagian ini adalah bagian inti tetap dari komputer. Dalam Alquran inilah yang dimaksud Lauhul Mahfuzh.
  2. Bagian kedua, RAM (Random Access Memory) yaitu memori yang mungkin diakses, berperan sebagai objek aplikasi pengguna komputer. RAM adalah bagian komputer yang dapat berubah dan objek aplikasi manusia serta tidak bertentangan dan bertolak belakang dengan komponen inti tetap (ROM). Dalam Alquran, inilah yang dimaksud dengan Imam Mubin.

Berikut ini contoh ayat tertutup kategori lauh mahfuzh yang bukan sebagai objek kemampuan manusia untuk mengaksesnya tetapi hanya untuk dibaca dan diketahui saja :

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman? Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan  telaj Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (Q.S. al-Anbiya : 30-35)

“Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam al-kitab (lauh mahfuzh).” (Q.S. al-Isra: 58)

“Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Ku lahkembalinya (segala sesuatu).” (Q.S. al-Hajj : 48)

Kita ketahui bahwa ayat-ayat ini adalah ayat-ayat yang taken for granted (tertutup) dan tidak mungkin diakses manusia. Di dalamnya dijelaskan hukum-hukum universal yang mengatur eksistensi yang dapat diketahui saja, dan bukan untuk dilakukan, tetapi semata-mata objek iman dan petunjuk. Kita harus menyadari bahwa ayat ini bersifat general sebagai pengatur sejarah manusia, dan bersifat infromatif kepada manusia.

Adapun contoh ayat-ayat yang terbuka dalam Alquran sebagai kategori imam mubin yang manusia bisa mengaksesnya secara ijaban-salbiyan (pisitif-negatif), misalnya firman Allah berikut :

“Dan Allah, Dialah Dzat yang menghembuskan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, kemudian awan itu Kami giring ke daerah yang mati, lalu Kami hidupkan bumi itu setelah keringnya dengan hujan. Begitulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).” (Q.S. Fathir : 8)

“Dan Allah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setitik air mani, dan kemudian Dia jadikan kamu berpasang-pasangan. Dan seorang tidak bisa mengandung dan tidak bisa pula melahirkan, kecuali dengan ilmu-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang yang panjang umurnya dan tidak pula dikurangi umurnya kecuali (semua itu telah tercantum) dalam al-Kitab (lauh mahfuzh).” (Q.S. Fathir : 11)

Lafazh an-nusyur pada ayat yang pertama adalah “hukum tertutup”, taken for granted, yang ada dalam lauh mahfuzh. Kematian dan hari kebangkitan adalah perkara hak yang tidak mungkin bagi manusia mengakses dan mengintervensinya, seperti firman Allah, “Setiap manusia pasti akan merasakan kematian” (Q.S. Ali Imran : 185). Akan tetapi, yang mungkin diakses dan diintervensi manusia adalah memperpanjang dan memperpendek usianya dan meminimalisir jumlah kematian sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.

Begitu pula dalam persoalan miskin-kaya, kita bisa mengakses dan mengintervensinya sesuai dengan hukum-hukum yang telah diberlakukan oleh Allah swt untuk memperoleh kekayaan atau jatuh pada kemiskinan. Karena itu, pendapat “kemiskinan adalah nasib yang harus diterima oleh rakyat” sehingga harus bersabar atas penderitaan tersebut, sementara di saat yang sama Negara dan penguasanya dalam kehidupan mewah dan membagi harta kekayaan bagi mereka dan keluarganya, adalah sebentuk tirani teologi yang meninabobokan umat agar tidak melakukan pemberontakan untuk mengubah “takdir” mereka. Syahrur menegaskan : “Kita harus tahu bahwa Allah tidak menetapkan Muawiyah sebagai khalifah sejak zaman azali, tidak menetapkan kekalahan Ali sejak zaman azali, dan tidak menetapkan raja-raja yang memerintah Mesir yang menjerumuskan rakyatnya dalam kemiskinan hingga mereka hanya mampu makan kurma busuk”.

*Diolah dari buku Muhammad Syahrur Tirani Islam :Geneologi Masyarakat dan Negara, 2003, hal. hal.235-245. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL