LiputanIslam.com – Selain teori India, banyak orientalis dan sarjana lain yang menyodorkan teori Arab sebagai asal kedatangan Islam ke Nusantara. Mulai dari teori-teori para sarjana Eropa awal, yaitu Keyzer, salah satu sarjana hukum Muslim di Belanda, yang menegaskan bahwa ada hubungan antara Mesir dan Nusantara pada zaman dahulu, dibuktikan oleh observasi bahwa madzhab Shāfi’ī menempati posisi penting di kedua wilayah tersebut. Mesir, menurut Keyzer adalah asal Islam di nusantara. Niemann (w. 1861) dan De Hollander (w. 1861) juga menyebutkan bahwa hanya Arab lah yang menjadi asal dari Islamisasi di Nusantara.

Dalam buku History of Indian Archipelago, John Crawfurd adalah sarjana lain yang membuat klaim sama dan menyatakan bahwa Islam mungkin dibawa ke Nusantara oleh para misionaris Arab, sejak kekuatan maritim Arab menjadi yang utama. Marsden telah mencatat aturan yang sama dari para misionaris Arab dalam mengislamkan Nusantara, bersumber dari sejarah Portugis, Diego de Couto yang meneliti di India dan yang melaporkan bahwa misionaris Arab telah mengislamkan Malaka.

Demi mendukung teori Arab, dalam buku Islām Dalam Sejarah Dan Kebudayaan Melayu S.M.N. al-‘Aṭṭās pun telah menegaskan bahwa penemuan Moquette yang menyatakan bahwa batu nisan di Pasai dan Gresik berasal dari Gujarat tidak dapat diambil sebagai bukti langsung bahwa Islam didatangkan dari sana oleh para Muslim India. Batu nisan dan benda-benda lain di Nusantara memang dibawa dari India karena kedekatan Nusantara dengan India daripada Arab. Di sini, al-‘Aṭṭās dalam bukunya Preliminary Statement on a General Theory of the Islāmization of the Malay – Indonesian Archipelago menyatakan bahwa bukti paling penting adalah karakteristik-karakteristik internal dari Islam Nusantara itu sendiri, bukan dari batu nisannya.

Menurut pendapat peneliti, ketika mempertimbangkan proses islamisasi Nusantara, kita tidak boleh mengabaikan keberadaan pelbagai laporan yang dibuat oleh penduduk asli daerah tersebut, baik dalam bentuk laporan tertulis atau tradisi lisan. Tradisi-tradisi asli berbicara tentang warisan-warisan masa lalu, dan walaupun bercampuran dengan elemen-elemen fiktif, mereka melaporkan sejarah masa lalu dari daerah-daerah tertentu.

Sejarah Melayu melaporkan bahwa misionaris muslim awal yang mengubah raja Malaka, Sulṭān Muḥammad Shāh, menjadi Islam adalah Sayyīd ‘Abdul ‘Azīz, yang merupakan berbangsa Arab. Ḥikāyat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu menghubungkan Sharif dari Mekah mengirim seorang Shaykh Ismā’il yang merupakan pemimpin misi penyebaran Islam di Sumatra. Kedah Annals atau Ḥikāyat Merong Mahawangsa menceritakan bagaimana seorang Shaykh ‘Abdullah al Yamanī datang secara langsung dari Arab dan mengubah raja Kedah ke Islam. Raja ini kemudian dipanggil Sulṭān Muzaffar Shāh.

Kemudian sebuah kronik Aceh melaporkan bahwa Islam diperkenalkan ke ujung utara Sumatra oleh seorang misionaris Arab yang namanya diberikan sebagai Shaykh ‘Abdullah ‘Ārif. Seorang muridnya yang bernama Shaykh Burhān al Dīn, kemudian melanjutnya misi gurunya sampai ke Pariaman, Sumatera Barat.

Silsilah Sulu berisi laporan-laporan bahwa para misionaris paling awal yang datang ke Sulu dan Mindanao, contohnya Sharīf Awliya, Sharīf Ḥasan, dan Sharīf Maraja, adalah asli Arab. Winstedt dalam buku The Advent of Muḥammadanism in the Malay Peninsula and Archipelago menyebutkan bahwa misionaris muslim pertama yang datang ke Jawa adalah seorang Arab. Misionaris ini, Mawlānā Malik Ibrahīm, datang ke Gresik dan hidup di sana sampai ia meninggal pada tahun 1419. Saat jatuhnya Majapahit, misionaris Arab lain yang bernama Shaykh Nūr al Din Ibrahīm bin Mawlānā Isrā’īl atau kita kenal dengan Sunan Jati hidup di Jati dekat Cirebon. Dia dan keluarganya memperoleh kekuasaan politik besar, dan segera ia memulai untuk menguasai Cirebon. Wilayah Jakarta dikuasai oleh salah satu anaknya, lalu Banten dikuasai pula oleh salah satu anaknya, Ḥasan al Din.

Raden Raḥmat yang memainkan peran penting di Islamisasi Jawa adalah anak dari seorang misionaris Arab dari Champa. Keturunan Arab lain yang menjadi seorang misionaris di Jawa adalah Mawlānā Isḥaq dari Pasai yang mengislamisasi Balambangan di bagian paling timur wilayah Jawa.

Selain orientalis, Azyumardi Azra dan Hamka pun meyakini teori Arab sebagai awal dari Islamisasi Nusantara. Azra dalam bukunya berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menyatakan bahwa Islam dibawa langsung dari Arab. Islam sudah diperkenalkan ke Nusantara pada abad pertama Hijriah, namun belum begitu tampak kelihatan. Setelah abad 12, pengaruh Islam semakin tampak kelihatan nyata dan semakin tersebar luas.

Sedangkan Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam pun memegang erat teori Arab karena meyakini salah satu pendapat Arnold yang menyatakan bahwa saudagar-saudagar Arab lah yang pertama datang ke Nusantara pada abad pertama Hijriah. Selain berpegang pada Arnold, dia menemukan sumber-sumber Cina yang ia namai sebagai catatan-catatan penting dari pusaka Tiongkok. Dalam catatan tersebut, dinyatakan bahwa orang Arab sebagai pelopor pertama Islam yang telah datang pada abad ke 7 M atau pertama Hijriah. Orang Arab telah telah melakukan perdagangan yang sangat luas pada masa awal (abad ke-7), sampai abad ke 10 pun, orang Arab lah yang memegang pusat perdagangan sampai ke Timur.

Berdasarkan catatan pula, pada akhir abad 7 (674-675 M) ada kerajaan Kalingga di Jawa Timur – wilayah Nusantara – yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Simo. Ia memerintah dengan sangat adil dan keras menjaga keamanan. Kabar ini terdengar hingga ke Arab, kemudian raja Arab mengutus beberapa orang ke Nusantara untuk membuktikan kabar tersebut.

Berdasarkan urutan waktu, teori Arab bisa melacak jauh lebih awal sebelum teori India, sehingga peneliti simpulkan bahwa kedatangan Islam ke Nusantara adalah berasal dari Arab secara langsung, tentunya dengan bukti-bukti sejarah yang ada. Meskipun Arab lah yang datang pertama kali membawa Islam, sekali lagi bukan berarti India tidak punya kontribusi. India sangat berkontribusi terhadap penyebaran Islam ke seluruh Nusantara, tidak hanya Arab.

Dalam penelitian, kita tidak boleh mengesampingkan penemuan-penemuan baru tentang hubungan antara India Selatan dan Nusantara. Hal ini membuktikan bahwa para misionaris Muslim dari India juga memainkan peran Islamisasi Nusantara, juga persaudaraan Arab dan Persia, dan juga masyarakat adat sendiri yang membantu penyebaran Islam ke seluruh wilayah di Nusantara. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa para misionaris Arab awal pun memainkan peran penting dalam membuka jalan bagi kedatangan Islam di berbagai wilayah Nusantara seperti yang telah disebutkan di atas.

Dalam buku Theories on the Introduction and Expansion of Islām in Malaysia, Cesar Adib Majul menyatakan, untuk semua pendapat yang berlebihan tentang pengaruh India dalam Islam, mungkin perlu dipertimbangkan lagi secara inklusif peran penting Gujarat dan India Selatan. Namun, Majul pun menyatakan bahwa perlu mencatat beberapa bahaya jika terlalu menekankan peran Muslim India dalam kedatangan awal Islam, karena ini akan justru meniadakan kemungkinan peran para Sharif dan Sayyid Arab dan pula para petualang dari Arab yang kemudian mengubah kepercayaan Melayu mereka sendiri.

Bagi peneliti, menekankan peran Arab bagi Islamisasi di Nusantara pun akan memiliki dampak penghilangan bukti-bukti kontribusi India dan bahkan Cina – peneliti tidak membahas teori Cina dalam paper ini – yang akan mengesankan bahwa Islam Nusantara identik dengan Arab. Apalagi ketika melihat bahwa di masa kontemporer, Islam Arab telah mendapat citra keras dari beberapa kalangan masyarakat.

Berdasarkan semua problem-problem tersebut, peneliti mengambil kesimpulan bahwa dalam proses Islamisasi Nusantara, perlu ada pembedaan antara teori kedatangan dan teori penyebaran. Memang dalam kedatangan Islam ke Nusantara, Arab lah yang berperan penting, mengingat waktu kedatangannya sendiri yang sudah dimulai pada abad ke 7, jauh sebelum bukti-bukti teori India ditemukan. Setelah datang dan dikenalkan ke Nusantara, selanjutnya adalah menyebar. Dalam masa penyebaran bertahap dan akselerasi pada abad 12-13 M, India pun ikut berkontribusi besar. Boleh jadi, sembari mengekspor dan berdagang, mereka pun menyebarkan Islam. [Ayu]

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*