Oleh : Nur el-Fikri

Ziarah_Kubur_

Di Indonesia, ziarah kubur merupakan perilaku umum masyarakat yang bisa kita saksikan, terutama  saat mau memasuki bulan ramadhan, kita akan menemukan hampir di seluruh tempat pemakaman penuh sesak para peziarah kubur yang mengunjungi keluarga mereka yang telah wafat. Nyekar, begitu istilahnya pada budaya masyarakat Jawa. Ritus ini, bukan hanya budaya tetapi juga memiliki dimensi agama.

Geertz mendeskripsikan bahwa meskipun kematian dipandang sebagai perpisahan, tetapi yang hidup masih bisa membangun hubungan yang harmonis dengan yang meninggal dengan senantiasa berdoa dan berziarah ke makamnya dengan menyiramkan air atau menabur bunga di makamnya. Hal ini terutama dilakukan pada setiap hari ulang tahun kematiannya (haul), pada hari menjelang bulan ramadhan, atau jika ada keluarganya yang sakit, mau menikah, atau mimpi bertemu dengan mayit (Geertz, 1989: 96-97).

Henri Chambert Loir (2006: 249-250) menghubungkan antara kultus orang suci Muslim dengan kuburan dan ritusnya. Menurutnya, kultus orang-orang suci bagi kaum muslimin merupakan kultus kuburan suci Muslim. Orang suci, lanjut Loir, adalah seorang individu yang karena kelahiran, bakat, melalui latihan rohani, diberkati dengan kekuatan supranatural. Kekuatan-kekuatan ini dikonsentrasikan keberadaannya dan sekarang terletak di kuburannya. Itulah sebabnya, kultus orang suci dilaksanakan di kuburannya. Orang tidak berdoa bagi orang suci di rumah, atau di tempat lain di mana ia dapat dihadirkan dengan satu jenis simbol. Orang harus mengadakan perjalanan ke kuburan, demi sungguh hadirnya orang suci itu.

Tak jarang, peziarah yang datang ke kuburan suci tersebut dari berbagai daerah dan berbagai negara. Semua orang menyatu di sana tanpa ada kebanggaan status sosial. Pejabat, rakyat, pelajar, ulama, ilmuwan, pengusaha, masyarakat awam, kaya, miskin, kulit hitam atau putih, bangsa Barat atau Timur, semuanya lebur dalam nuansa spiritualitas yang hadir di kompleks kuburan tersebut. Di kuburan-kuburan itu juga memiliki “juru kunci” yang mengurus kuburan tersebut dan menjadi fasilitator para peziarah. Mereka menjadi penyedia “air keramat”, doa yang berkat, hingga penyalur jimat.

Bagi para peziarah—seperti umat Islam—mengkultuskan orang suci dan kuburan suci para wali, ulama, atau pemimpin, bukan saja sebagai adat dan budaya, tetapi anjuran agama karena manusia-manusia itu dipercaya bukan hanya hidup di dunia ini, tetapi juga di alam gaib. Karena mereka hidup, maka mereka dapat menjadi perantara (wasilah) manusia untuk berkomunikasi dengan alam gaib (Tuhan). Melalui mereka doa dikabulkan, serta melalui mereka rahmat dan nikmat Tuhan dibagikan. Tidak ada beda antara hidup dan matinya mereka. Sekalipun meninggal, mereka tetap bisa berkomunikasi dengan alam dunia dan menyaksikan perbuatan-perbuatan manusia. Karena itu, tempat mereka di kuburkan menjadi tempat yang diberkati, dan karenanya berziarah ke makamnya adalah salah satu tujuan utama.

Sebab, dalam Islam sendiri terdapat aturan yang mesti dilakukan terhadap orang-orang yang meninggal yakni memandikannya, mengafaninya, menyalatkannya, dan menguburkannya. Keempat hal itu adalah kewajiban yang orang yang hidup kepada orang yang meninggal. Setelah itu, Islam menganjurkan kepada para penganutnya untuk mendoakan dan berziarah secara berkala kepada yang telah meninggal. Ini adalah komunikasi yang intensif antara yang hidup dan yang mati. Hal itu sebagai pemicu agar manusia sadar bahwa dirinya juga akan mengalami kematian sehingga harus mempersiapkan diri menghadapinya.

Mungkin bagi sebagian orang, keyakinan masyarakat ini menyimpang atau dipengaruhi oleh keyakinan primitif. Tidak jarang hal ini dianggap ekstrim, sesat bahkan dikafirkan oleh sekelompok orang lainnya karena dianggap berlebihan memuja tokoh mereka. Namun bagi antropolog, konsep-konsep antropologi seperti sakral (kudus), pemujaan tempat, benda atau manusia suci (kultus), serta upacara suci (ritus), sangat kental terlihat dan hidup di tengah-tengah masyarakat kapan pun dan di mana pun dan dalam agama apa pun. Untuk itu, memperhatikan praktek dan aktivitas masyarakat dalam berziarah kubur secara keseluruhan di kompleks kuburan suci, tidak hanya memfokuskan pada ritus ziarah periodik yang dilakukan di sana, tetapi juga pada pengamatan aktivitas harian yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Begitu pula, kita tidak hanya mengamati ritus ziarahnya saja, tetapi akan mengamati fungsi kuburan tersebut bagi orang masyarakat yang tinggal di sana. Dengan begitu, kita akan lebih berusaha menangkap secara utuh, potensi kuburan sebagai pusat kebudayaan dan spiritualitas yang tidak hanya memberikan aroma mistis, tetapi juga berusaha menangkap aroma ilmiah, politik dan tentunya pendidikan yang ada di sana. Sehingga, akan terlihat pula hubungan harmoni yang indah antara manusia yang hidup dengan yang telah mati, di mana yang hidup dan yang mati masih dapat “hidup berdampingan” secara alami. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL